*** Andini terkunci di dalam kamar mandi. Tidak membawa apa pun termasuk ponsel yang seharusnya bisa dia pakai untuk menghubungi Malik, Andini hanya bisa pasrah menunggu seseorang membantunya. Tidak diam saja, setiap dua menit sekali dia berseru—meminta tolong. Namun, hingga hampir dua puluh menit di kamar mandi, tidak ada seorang pun menimpali teriakannya. "Ini kalau seandainya enggak ada lagi yang ke toilet, aku gimana ya?" tanya Andini dengan raut wajah gelisah. "Aku enggak mungkin terus di sini semalaman apalagi sampai besok?" Andini menengadah. Punya niat untuk memanjat sekat toilet, dia coba naik ke atas closet. Namun, belum sempat Andini melangkah, sebuah panggilan terdengar—membuat dia sigap menoleh dengan perasaan yang cukup terkejut. "Andini! Kamu masih di toilet?" Bukan s

