“Tuh ‘kan, kamu tidak percaya,” raut kecewa terlihat dari mimik Eiko.
“Bukan begitu, maksud aku, rumah yang di sini, di bumi.” Hikaru mencoba menjelaskan.
“Tidak. Aku tidak memiliki tempat tinggal di bumi!” jawaban Eiko membuat Hikaru bingung, tidak mungkin seseorang tidak memiliki tempat tinggal, sekalipun menyewa, itu tetap bisa dikatakan tempat tinggalnya.
“Lalu selama ini kamu tinggal dimana?”
Eiko tak bisa menjawab.
Dari kejauhan Eiko melihat seseorang yang ia kenal. Seseorang itu adalah suara yang tadi pagi mengganggunya pada saat menonton film.
“Keyri…” teriak Eiko, ia adalah rekan satu pekerjaannya sebagai malaikat maut.
Hikaru celingukan mencari orang yang dimaksud Eiko, tidak ada siapapun yang menatap ke arah keduanya.
Keyri yang tengah berjalan dengan seseorang di belakangnya berhenti melangkah, memalingkan pandangan pada sumber suara. Dilihatnya Eiko yang melambaikan tangan dengan senyum manis memabukan.
“Keyri…” sekali lagi Eiko menyebut namanya, lalu pemilik nama itu bergegas ia mendekati sang malaikat imut dan manis itu.
“Lagi apa sih kamu? Aneh banget.” Hikaru memberikan komentar, ia sangat tidak mengerti dengan apa yang dilakukan oleh Eiko. Melambaikan tangan dan menyebutkan nama seseorang.
“Apa yang terjadi?” Keyri langsung bertanya, wajahnya datar tanpa ekspresi, namun ia yakin ada yang salah dengan Eiko.
“Jadi, tadi tiba-tiba aku menyelamatkan dia.” Eiko memalingkan pandangan pada Hikaru yang juga melihat dirinya bicara sendiri.
“Aku menyelamatkan dirinya, tapi aku berakhir menjadi seperti ini,” lapornya pada Keyri.
“Tabletku juga hilang,” tambahnya berkeluh kesah pada teman sesama malaikat.
“Tabletmu hilang?” Keyri heran, mengernyitkan dahi.
“Iya, aku sudah berusaha mencarinya, namun tidak berhasil, belum ketemu hingga sekarang.” Eiko menceritakan dengan sangat detail, “Aku takut jatuh atau terlempar ke suatu tempat, terakhir aku melihat beberapa data di atas gedung sesaat sebelum aku menyelamatkan orang ini,” ia menengok Hikaru lagi.
“Bukankah kamu biasa menyimpan di tas mu? Sekarang dimana tas mu?” Keyri mengingatkan.
“Oh iya benar, aku selalu mengabaikan tugas, jadi aku simpan di tas, tapi dimana tasku serang?” mata Eiko membulat, mengingat-ngingat terakhir kali menggendong tasnya.
“Dia ngomong sama siapa sih?” lirih Hikaru, bertanya pada diri sendiri, keheranan melihat Eiko yang aneh, padahal ia seharusnya tidak peduli, Eiko bukan siapa-siapa, tapi tidak bisa. Eiko yang menyelamatkan dirinya dari atas gedung.
“Apakah dia begini gara-gara menyelamatkanku? Benarkah? Tidak mungkin, itu tidak benar.” Hikaru sibuk dengan pikirannya sendiri.
Keyri melihat Hikaru yang kebingungan.
“Kamu yakin karena menyelamatkan dia kamu jadi seperti ini? Bukankah ini yang kamu mau? Kamu selalu ingin menjadi seorang manusia,” sindir Keyri pada Eiko yang kerap kali menghindari tugas yang sebenarnya.
Eiko mengangguk dan cemberut, sedikit menyesali kecerobohannya dengan tugas yang selama ini dia emban.
“Hey…” panggil Hikaru pada Eiko yang belum saling mengetahui nama masing-masing.
Eiko menatapnya, seolah bertanya ‘apa?’
“Ikut aku!” Hikaru menyambar tangan kiri Eiko dan sedikit menyeretnya untuk pergi. “Ikut aku ke suatu tempat, sebelum semua tambah parah, dan tambah memusingkan aku.”
Eiko tak bisa menolak, dengan langkah tanpa perlawanan, ia mengikuti Hikaru.
“Keyri, tolong cari tabletku, dan mungkin juga semua jawaban atas kesalahan ini ada pada orang ini,” teriak Eiko sambil mengikuti langkah kasar Hikaru, dan melambaikan tangan pada Keyri.
Keduanya sampai di tempat pencatatan sipil, barangkali Eiko dapat di lacak di sana dan dapat kembali ke tempat asalnya.
Dua orang petugas melayani keduanya
“Oh iya, kamu yang tadi pagi menolong seorang paruh baya dan video mu viral kan?” tanya salah seorang petugas yang ternyata Andramawan, ayahnya Bilal.
“Ada apa kesini?” tanyanya.
“Aku ingin mencari identitas dia,” pemuda pahlawan itu menunjuk Eiko. “Sepertinya dia hilang ingatan karena tidak ingat nama dan tempat tinggalnya dimana,” jelas Hikaru.
“Oh begitu, siapa namamu?” Andramawan bertanya lagi.
“Namaku…” lirih sang perempuan berpakain hitam ragu mengatakannya.
Semua menanti Eiko menjawab. Eiko gelisah, dalam pikirannya berisik nama dirinya lengkap dengan nama panjangnya. Eiko Bukita Raya, yang berarti dirinya berasal dari sebuah bukit raya, sebuah pegunungan tertinggi di suatu tempat yang ia pun tidak tahu dimana.
“Hey…!” Hikaru membuyarkan lamunan Eiko.
“Kenapa kamu malah melamun?” tanya Hikaru, perlahan.
“Jadi namanya siapa?” petugas bertanya sekali lagi.
“Eiko Bukita Raya.” Akhirnya terucap, nama lengkap sang malaikat yang kini telah menjelma menjadi seorang manusia.
“Dasar sok jual mahal, tadi aku tanya nama kamu tapi tak kamu jawab, dan sekarang kamu sudah tahu namamu, cepat sekali,” seloroh Hikaru, membicarakan Eiko yang sejak tadi lebih banyak tidak menjawab pertanyaannya.
“Mungkin seharusnya bukan aku yang bertanya, jadi kamu akan ingat hal-hal lainnya,” tambah Hikaru.
“Pak, tolong tanyakan beserta alamat tinggalnya, ini nomor HP saya, mohon maaf saya sibuk, jadi saya harus pergi.” Hikaru menuliskan nomor HP pada kertas, dan menyerahkannya pada petugas dan hendak pamit meninggalkan Eiko yang masih kebingungan.
Namun tiba-tiba aksinya terhenti dengan suara panggilan dari HPnya, di sana tertera nama penelpon, dari sahabatnya Joshua.
“Hallo, ada apa?”
“Kamu sedang dimana Hikaru?” tanya sahabatnya di seberang panggilan dengan nada gusar.
“Di kantor kantor sipil dekat dengan kantor polisi, ada apa?”
Panggilannya berakhir setelah ia menyebutkan tempatnya sekarang. Hikaru mengernyitkan dahi, ‘Ada apa?’ tanyanya dalam hati.
“Kamu jangan pergi dulu.” Eiko memegang tangan Hikaru dengan wajah memelas dan cemberut khas anak kecil yang tidak ingin ditinggalkan. Hikaru berusaha melepaskan pegangan Eiko, namun tidak bisa, tenaganya cukup kuat memegang lengan si pemuda.
Prok… prok… prok… seseorang bertepuk tangan.
“Kamu sudah tahu dimana kamu seharusnya,” terdengar suara tidak asing bertepuk tangan dan bicara penuh kebencian. Ia adalah Maira.
Hikaru memandang perempuan jahat itu dengan gurunya, berjalan membungkuk penuh kepatuhan tepat dibelakang Maira.
“Mohon maaf Bu, ada perlu apa datang ke sini?” Andramawan bertanya dengan sopan.
“Saya hendak menuntut bocah ini,” jawabnya, meledek Hikaru dengan sapaan bocah.
“Dia membantu temannya bunuh diri dan membuat seisi sekolah kacau balau.” Maira berkata tanpa dipersilakan.
“Hei… Bu!” Hikaru mencoba untuk mencegah dengan menyelak, namun itu sia-sia.
“Anak saya, gara-gara bocah ini mau bunuh diri, benar-benar gak tahu diri.” Maira menunjuk-nunjuk dahi Hikaru tanpa kesopanan.
“Hei… kamu! Kalau ingin menghancurkan hidup, hancurkan hidupmu sendiri saja, tidak usah menghancurkan hidup orang lain.” Maira berkata dengan kata-kata yang terus pedas, matanya mengerling sinis, dan sulit dihentikan.
“Tunggu… tunggu… ada apa sebenarnya ini?” Hanan, nenek Hikaru yang baru saja datang, bertanya-tanya dengan panik.
Sebelumnya Maira datang ke toko dan marah-marah tidak jelas mencari Hikaru. Membuat Hanan khawatir sesuatu terjadi pada sang cucu.
Sebelum keadaan bertambah runyam, Andramawan segera menengahi, sepertinya ia mengerti situasi yang sedang terjadi.
“Mohon maaf, ibu-ibu, dari pada menuntut, lebih baik kita bicarakan secara kekeluargaan,” usulnya dengan bijak.
“Menuntut?” Hanan kaget. “Ada apa ini? Apa salah cucu saya sehingga harus dituntut?” tanya Hanan lagi.
“Bapak mengabaikan siapa korbannya.” Maira protes, ia tidak ingin mundur.
“Bukan begitu ibu, kalau tidak ada bukti, tidak bisa tuntutan ini dilanjutkan. Lagi pula ini adalah masalah anak-anak, tidak ada salahnya kalau kita mendengarkan kesaksian dari mereka, itu lebih bijak menurut saya.”
“Tidak!” Eiko menyela tiba-tiba diantara keributan orang dewasa. “Hikaru tidak mendorong Arika, justru Hikaru akan menyelamatkan Arika, saya saksinya!”
“Idih, siapa lagi ini anak kecil, ikut campur saja,” ucap Maira nyinyir, namun segera mengabaikannya, tidak ada pengaruhnya sama sekali. “Pak Hafsa, tolong berikan berkasnya,” suruh Maira tidak ada sopan santun pada seorang guru.
Dengan tangan bergetar, Hafsa memberikan berkas yang sejak tadi ia genggam.
“Ini adalah komentar para murid tentang kenakalan bocah ini selama di sekolah. Bukti itu sangat cukup untuk menuntut dia keluar dari sekolah dan pindah! Saya harap Anda bisa cepat memprosesnya,” terang Maira sangat otoriter.
Andramawan memeriksa berkas, tidak percaya dengan bukti yang dia terima, namun sebagai petugas keamanan ia tetap harus bersikap bijak. Sejenak menyimpan berkasnya, lalu mencoba untuk kembali menenangkan kondisi pertikaian.
“Pak Hafsa,” panggil Hikaru, curiga. Hafsa berpaling, enggan menatap muridnya yang cerdas itu.
“Dia gak salah!” Eiko berkata lagi. “Aku melihatnya sendiri! Hikaru justru jatuh ke bawah!”
“Kau siapa sih? Ikut-ikutan saja.” Maira mulai merasa terancam dengan seorang saksi baru yang ia tidak kenal.
“Aku? Kamu bertanya aku siapa?” Eiko menatap tajam Maira, dan melangkahkan satu langkah kakinya, “Aku Eiko. Eiko Bukita Raya, kau siapa?” balas Eiko dengan penuh keberanian, keduanya saling menatap tajam.
“Hei… kamu! Bicaramu tidak sopan sekali. Kamu tidak tahu siapa saya?”
“Kamu Ibu jahat!” seru Eiko dengan berani.
“Stop! Eiko, jangan berkata lagi, ayo kita keluar,” tidak ingin bertambah runyam, Hikaru menyeret Eiko keluar.
“Aku ‘kan memang melihat kamu menyelamatkan Arika,” belanya.
“Tidak! Kita keluar dulu, ayo!” Hikaru menarik tangan Eiko. “Diam di sini!” Lalu meninggalkannya di koridor.
“Hei, aku ini hendak membelamu Hikaru, kenapa kamu malah tidak ingin aku di sana?” Eiko kesal, sesumbar berteriak dari luar kantor.
“Hikaru…” teriaknya lagi, “Apa kamu tidak percaya padaku?”