Tidur Bersama

1434 Kata
“Bu Maira…” panggil Hanan dengan suara merendah, “tolong bebaskan saja Hikaru.” Hanan bersujud di kaki Maira. “Tidak! Awas! Saya mau pergi, anak tidak tahu diri memang harus disingkirkan!” kata-katanya sangat pedas, Maira menghentakkan kakinya, hampir saja menendang Hanan yang bersimpuh. “Pak Hafsa!” panggil Hikaru, melihat gurunya yang juga hendak pergi mengikuti Maira. “Apakah bapak yakin teman-temanku yang menulis laporan ini?” Hikaru memastikan, ia sangat yakin kalau teman-temannya tidak akan berbuat seperti itu. “Sudahlah Hikaru, ikuti saja prosedurnya!” Hafsa tak bisa berbuat apa-apa, ia menggaruk tengkuknya ragu, “Dan kamu…” dengan nada terbata-bata Hafsa melanjutkan ucapannya, “Jangan bikin gara-gara lagi!” ia mengancam, namun dia sendiri seperti dalam keadaan terancam. “Pak Yono, tolong periksa tulisan ini, apakah benar tulisan anak-anak atau orang dewasa, dan aku akan perpanjang kasusnya kalau ketahuan ini adalah tulisan orang dewasa!” kini Andramawan berkata dengan cukup keras dan membuat Hafsa semakin bergetar, membela Hikaru. “Kalau orang dewasa yang berbohong, hukumannya cukup berat!”Andramawan menambahkan. Hafsa keluar, lalu disusul oleh Hikaru yang kecewa dengan apa yang dilakukan oleh gurunya sendiri. Bayangannya seolah pergi ke belakang, ia pernah mendapati gurunya melakukan panggilan dengan orang yang tidak kenal, dan kertas yang berserakan di mejanya. Kala ia memergoki hal tersebut, Hafsa berubah gugup, dan segera membereskan berkas-berkas yang berantakan. Hikaru menyadari kejanggalan itu, ia kepalkan tangannya kesal, kecewa dan marah, namun masih bisa untuk menahannya. “Pak Hafsa, laporan keluhan itu pasti bohong ‘kan? Itu hanya rekayasa bapak karena takut dengan Bu Maira sebagai komite dan donatur tetap sekolah, iya ‘kan?” Hikaru mendesak Hafsa. “Akh sudahlah Hikaru, semuanya telah diproses, maaf aku tak bisa membantumu apa-apa,” dengan kalimat yang terbata-bata Hafsa meninggalkan Hikaru dengan Hanan. “Membantu? Memang bapak tidak membantu saya lebih baik, bapak hanya membantu saya masuk ke dalam jurang kehancuran,” teriak Hikaru, kecewa melihat sang guru yang semakin jauh bentuk punggungnya. “Sudah-sudah.” Hanan menenangkan. “Nek, Nenek harus tahu kalau aku adalah korbannya! Aku yang menyelamatkan Arika!” “Hei… Karu!” bentak Hanan. “Nenek susah payah membesarkan mu bukan untuk diseret ke kantor polisi!,” sang nenek memukul pelan cucunya dengan tas, raut kesal sangat terlihat, tapi tidak ada perasaan kecewa, ia percaya pada cucunya tidak mungkin melakukan hal yang dilarang dan membahayakan dirinya, apalagi membahayakan orang lain. “Nenek! Nenek tidak percaya padaku? Aku sedang diperlakukan tidak adil Nek, kalau Nenek tidak percaya padaku, lalu siapa lagi yang percaya padaku?” protes Hikaru, menghentakan kakinya, bingung, apalagi yang dapat ia lakukan. “Sekali lagi kamu berada di sini, Nenek akan menghapusmu dari kartu keluarga dan mengusirmu dari rumah!” ancam Hanan, lalu pergi meninggalkan cucunya. “Akh menyebalkan,” teriak Hikaru. Ia percaya, kalau sang nenek percaya padanya. Hanya kekesalan sedang membelenggu mereka berdua. *** Waktu berlalu, Hikaru sudah kembali ke rumah, dan menyantap makan siang yang tertunda sampai menjelang malam. Eiko ikut dengannya, tempat tinggal yang belum jelas, membuat Hikaru berempati pada Eiko, dan memutuskan ikut ke toko. “Jadi kamu tinggal dimana?” tanya Hikaru. Eiko, Hikaru dan Joshua tengah duduk di meja kedai Hanan. Eiko memerhatikan cara makan Joshua, rasa laparnya pun menyerang tiba-tiba, terlihat dari begitu nikmat apa yang Joshua makan, padahal hanya semangkuk cuanki, salah satu menu makanan di kedai. “Apakah kamu mau?” tawar Joshua, Eiko menganggukkan kepalanya. “Hei… Kamu!” Hikaru protes, “Bukanya menjawab pertanyaanku, akh menyebalkan,” pemuda tampan itu menggaruk kepalanya frustasi. Hanan mendekati tiga remaja itu, meletakan minuman, dan beberapa cemilan pelengkap di meja. Eiko masih memperhatikan Joshua yang memasukan sendok demi sendok cuanki ke dalam mulutnya, menyeruput kuah yang begitu gurih dari kaldu ayam asli. “Taruh di mulut, lalu kunyah, dan telan. Oke, aku bisa.” Ucapnya dalam hati, memperhatikan tahapan cara makan yang ia lihat langsung dari Joshua. Ia mengambil sendok dengan mengepalkan semua jari-jari di gagangnya, lalu mengaduk cuanki milik Joshua. Cara memegang sendok Eiko menarik perhatian Hikaru dan Joshua, sampai keduanya saling berpandangan. Eiko, mulai mendekatkan sendok berisi kuah ke mulutnya. “Aw… panas,” tak ayal, sendoknya pun terbang, ke ujung meja. “Kamu benar-benar cari perhatian ya, memang makan cuanki enaknya seperti ini, hangat-hangat, dan menghangatkan tubuh,” terang Joshua. “Ini minumlah.” Hanan memberikan segelas air. “Apa kamu sengaja melemparkan sendoknya? Yang benar saja.” Hikaru protes. “Berapa usiamu?” tanya Hanan. “Belum pernah ku hitung,” jawabnya polos. Hikaru, Hanan, dan Joshua yang mendengarnya melotot, baru kali ini ada orang yang tidak tahu dengan usianya sendiri. Mereka saling berpandangan satu sama lain. “Usiaku sama dengannya.” Eiko mencairkan suasana, sambil menunjuk Hikaru. Benar, ia samakan saja usianya dengan Hikaru, penyebab dirinya menjadi manusia. “18 tahun?” Hanan menegaskan. “Benar, 18 tahun.” Eiko menguasai situasi. “Apa? Tadi kamu bilang ke semua orang kalau usiamu lebih muda dari aku!” Hikaru interupsi tak terima. Eiko masih tidak menanggapi Hikaru. Ia hanya tersenyum dan matanya berkeliling melihat ruko milik Hanan. Sampai pada satu sudut yang menarik perhatiannya. Papan pengumuman bertuliskan ‘Dibutuhkan Pekerja Paruh Waktu’ “Aku ingin itu,” tunjuknya. “Apakah kamu pernah bekerja sebelumnya?” Hanan mulai mewawancara, ia ragu dengan Eiko yang bahkan nama dan tempat tinggalnya saja belum jelas. Belum Eiko jawab, Hikaru sudah menyelak dengan berkata “Hei… kamu jangan berharap tinggal di sini, kamu hanya boleh tinggal satu malam saja!” Pluk… Hanan menepuk bahu sang cucu. “Tidak apa-apa, kamu bisa tinggal di sini sampai kapanpun kamu mau,” berbeda dengan Hikaru yang tidak ingin Eiko tinggal di sana, Hanan justru menerima Eiko dengan tangan terbuka. “Nenek, kenapa seperti itu?” protesnya, matanya membulat dan menggaruk kepala yang tidak gatal. “Tidak apa-apa, dia telah menyelamatkanmu!” “Aish…” Hikaru membelakangi mereka. Ada benarnya juga, dan alasan Hanan tidak bisa dibantah lagi. *** Eiko telah berganti pakaian, ia melihat-lihat kamar Hanan yang sederhana, tidak ada apa-apa. Beberapa foto Hanan dan Hikaru terpajang, tidak ada foto lagi selain mereka berdua. Hikaru datang tanpa permisi, hendak mengganggu sang nenek yang tengah menghitung hasil penjualan di toko hari tadi. “Apakah untung hari ini banyak?” tanya Hikaru sambil memegang uang yang telah disusun rapi Hanan. “Hei, jangan sentuh uangku dengan tangan kotormu itu.” Hanan menepis tangan sang cucu. “Ada apa kamu ke sini? Apakah ada sesuatu yang kamu lakukan,” protes Hanan. Hikaru menggelengkan kepalanya, “Nenek bilang tangan ku kotor?” Hikaru basa-basi. “Oh iya, ini hadiah ulang tahunmu.” Hanan memberikan sebuah kotak berwarna biru, Hikaru tidak antusias, setiap tahun ia mendapatkan hadiah dari ayahnya yang entah berada dimana. Hadiah sepatu dengan ukuran yang selalu hampir sama dengan tahu-tahun sebelumnya. “Akh, tidak mau, buat kamu saja.” Hikaru memberikan kotak hadiahnya pada Eiko. “Benarkah ini untukku?” dengan senyum berseri Eiko menerima kotak tersebut, dan mengucapkan “Terima kasih.” “Ini hadiah dari ayahmu yang di Amerika?” Eiko menambahkan dengan pertanyaan. “Lalu ibumu kemana?” Hanan dan Hikaru diam , keduanya saling bertatapan. Hanan tidak suka jika Hikaru membahas ibunya. “Sudah-sudah, kamu pergi kalau sudah tidak ada lagi yang ingin dibicarakan.” Hanan mencairkan suasana. “Nenek, aku tidak ingin pindah sekolah.” Singkat, padat dan jelas apa yang ingin disampaikan Hikaru. Sejak kejadian tadi siang, Maira meminta sekolah dan Hikaru untuk pindah dari sekolahnya sekarang. Termasuk Hafsa yang mendukung usulan Maira. Keinginan Maira terhadap pindahnya sekolah Hikaru tak lain karena supaya Arika menjadi nomor satu di sekolahnya. Selama ini Hikaru adalah anak yang berprestasi, kekurangannya hanya ia miskin. Tapi teman-teman Hikaru tidak ada yang menginginkan dirinya pindah, ia cukup baik berhubungan dengan mereka, mengajarkan materi yang mereka tidak suka dan sangat terbuka kepada kebanyakan temannya. Joshua sempat menawarkan untuk pindah dan sekolah dimana ia bersekolah. Katanya perempuan di sekolahnya tersebut cantik-cantik. Namun bukan Hikaru namanya kalau ia sekolah karena seorang perempuan cantik. Hikaru menolak usulan Joshua, dan ia masih tetap ingin bersekolah di sekolahnya sekarang, walaupun harganya cukup mahal. “Ya sudah, biar nanti nenek pikirkan. Sekarang istirahatlah.” Hikaru pergi menuju pintu, diikuti Eiko yang membawa bantal. “Mau kemana kamu?” “Tidur dengan mu, apakah tidak boleh?” tanyanya dengan wajah polos. “Seperti di film-film, mereka juga tidur bersama,” tambahnya. “Apakah kamu melihat adegan apalagi setelah itu?” “Mmm…” Eiko berpikir keras, mencoba mengingat adegan selanjutnya “layarnya jadi gelap,” jawab Eiko, masih dengan suara polos. “Setidaknya, seharusnya kamu melihat dengan baik-baik,” Hikaru memberi saran, “Nenek, aku keluar dulu, selamat tidur.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN