perempuan malam

1365 Kata
Deretan miniature superhero berjejer rapi di rak kamar Hikaru, ia duduk di meja belajar, mengeluarkan celengan yang sudah setengah penuh, memasukan uang pemberian sang nenek, lalu menyimpannya di tempat tersembunyi. Satu toples permen karet ia buka, dan mengambilnya satu. Masih terngiang-ngiang di telinganya pertanyaan Eiko tentang ibunya. “Ibu… kamu dimana?” ia membaringkan diri di ranjang minimalisnya, memegang kalung kunci yang diberikan sang ibu dimasa lalu. Tring… tring… HP-nya berdering. Tertera nama Arika mendial dirinya. “Ada apa anak ini? Cari gara-gara saja,” dengan sedikit terpaksa ia menggulir simbol hijau. “Ada apa?” tanyanya, “Iya, aku pergi.” Hikaru segera mengenakan jaket dan sepatu lalu pergi keluar. Trang… terdengar suara piring terjatuh tepat pada saat Hikaru menutup pintu ruang tamu dan menuju ke luar. “Astaga…” ia terkejut saat sampai di dapur. “Ngapain kamu di sini? Bikin kaget saja.” Hikaru mendapati Eiko di depan kulkas, menjatuhkan beberapa makanan beserta wadahnya. Eiko hanya tersenyum tanpa bersalah, beberapa minuman kemasan terbuka, buah dan cemilan lainnya pun begitu. “Hei… kenapa ini minumannya terbuka? Kamu apakan? Bisa rugi tokok nenek.” “Aku hanya mencoba beberapa minuman saja, mana yang lebih enak,” tanpa merasa bersalah ia katakan apa yang ia lakukan. Hikaru menepuk jidatnya, tidak habis pikir Eiko mencoba banyak minuman ini dan tidak sadar dengan kerugiannya. “Sudah, kamu tidur sana. Dan besok!” ia menjeda, hendak mengancam Eiko, “Akh… besok kamu tidak boleh membuka minuman yang baru, dan habiskan semua minuman yang telah terbuka ini.” Hikaru pergi, tanpa menyebutkan tujuannya. Arika sudah duduk di bangku taman, menunggunya dengan harap-harap cemas. “Sebaiknya kita tidak bertemu, karena gara-gara kamu aku akan dikeluarkan dari sekolah.” Hikaru langsung bicara pada intinya. “Maaf,” ucap Arika lemah. “Aku tidak ingin pindah sekolah,” tambah Hikaru lagi. “Meskipun kamu sangat sedih, kamu jangan sampai bunuh diri,” ia memberikan sedikit simpatinya pada Arika. sedangkan Arika masih terdiam, entah apa yang diinginkan gadis ini, memintanya bertemu malam-malam seperti ini. Hikaru balik kanan, tidak ada lagi urusan dan tidak ada lagi yang ia ingin ia katakana pada Arika. Namun Arika mencegah, ia memegang lengan Hikaru. “Hikaru… Aku begini justru karena kamu menyelamatkan aku untuk bunuh diri,” lirihnya, “Jadi tolong bicaralah dengan ibuku.” “Apa kamu ingin aku memohon kepadanya?” Hikaru bernada datar dan melepaskan cengkraman Arika, ia hendak meninggalkannya, namun terlambat, Arika dengan cepat memeluk Hikaru dari belakang. “Aku tidak ingin kamu pindah sekolah,” tambahnya, “Jadilah pacar aku, maka kamu tidak akan pindah sekolah, bagaimana pun caranya, aku akan mencegahmu untuk pindah sekolah.” “Aku pindah atau tidak, itu tergantung kamu dan ibumu.” “Kalau kamu pacaran dengan aku, akan kupastikan kamu tidak pindah dari sekolah.” “Maaf, itu tidak akan mungkin.” “Kenapa?” “Karena pacarku ada di sini!” Hikaru melihat Eiko yang mengikutinya dan bersembunyi di belakang tong sampah, tangannya mengisyaratkan untuk mendekat padanya. Eiko mengerti dan mendekati Hikaru yang masih dipeluk Arika dari belakang. “Sekarang kamu bisa pergi Arika,” Hikaru melepaskan pelukan Arika. “Sayang… mengapa kamu ada di sini malam-malam?” sambut Hikaru sambil membuka jaket dan memakaikannya pada Eiko. Eiko tak menolak, ia pun diam saja, seolah mengerti apa yang sedang mereka lakukan. “Ayo kita pergi,” keduanya meninggalkan Arika. “Hei… Karu… Hikaru…” panggil Arika yang terus diabaikan pemuda tampan itu, “Dasar jahat,” umpatnya. *** Eiko dan Hikaru berjalan berdua, tidak ada rangkulan dan jaket telah kembali dipakai Hikaru. “Maafkan aku soal tadi yang memanggilmu dengan pacarku,” pinta Hikaru tulus. “Tidak apa-apa, aku sering melihatnya di drama-drama korea,” dengan wajah berseri Eiko memaafkan Hikaru, “Rasanya sangat menyenangkan,” raut wajahnya tidak bisa disembunyikan, betapa ia bahagia. “Drama aja yang ada di kepalamu,” ucap Hikaru sambil menunjuk pelan dahi Eika. “Apakah kamu yakin tidak pindah sekolah? Apakah sekolah seburuk itu?” tanyanya polos. Hikaru menghentikan langkah, terlihat memikirkan pertanyaan Eiko, dengan mengernyitkan dahi. “Buruk sekali ya?” tanya Eiko lagi. “Tidak buruk, hanya saja kenanganku dirampas.” “Berarti tidak ada hal buruk dong?” “Hanya ada kenangan yang ingin ku hapus.” “Dirampas, dihapus, manusia sungguh rumit sekali,” komentar Eiko. “Kamu bilang seperti itu seperti bukan manusia saja.” Keduanya berhenti melangkah, melihat langit yang penuh dengan bintang-bintang. “Kapan ya aku bisa kembali kesana?” Eiko bicara pada langit. “Langit, bisakah aku kembali?” tambahnya lagi dengan sedikit berteriak, “Hei langit… aku disini.” Eiko melambaikan tangannya ke langit. “Aku juga disini.” Hikaru mengikuti apa yang dilakukan Eiko. berteriak, bicara pada langit. “Tapi, kamu bicara pada siapa?” tanya Hikaru, Eiko hanya diam sambil tersenyum sangat menawan. “Dasar gila,” umpat Hikaru. *** Sejak pagi Eiko sudah bersemangat membersihkan toko, merapikan meja, kursi dan mangkuk yang ia susun rapi. Sebelumnya ia telah diajarkan perlahan oleh Hanan bagaimana menjaga kerapihan toko. “Sampai kapan aku akan menjadi manusia,” tanyanya pada Keyri yang sejak tadi memperhatikan dirinya berkemas toko. “Mungkin hingga kutemukan caranya.” Keyri berkata datar. “Kalau kamu tak bisa membantuku, apakah aku akan mati sebagai manusia?” “Kalau aku tak bisa, mungkin kamu akan mati.” Keyri menegaskan pertanyaan Eiko. “Aku akan mati? Tidak mau, tolong bantu aku carikan caranya untuk kembali Key.” Eiko memohon. “Untuk apa kamu melakukan ini?” “Manusia suka dengan kerapian.” “Mengapa kamu tidak menggunakan kekuatanmu?” Keyri menunjukkan kekuatannya membereskan beberapa gelas yang baru dicuci oleh Eiko. keduanya hening, Eiko dengan ketidak percayaan hidupnya, dan Keyri yang memang tidak banyak bicara. “Eiko,” panggil Keyri, “ingat! Kamu bukan manusia!” Keyri mengingatkan. Eiko termenung, mengingat dirinya yang berbeda dari Hikaru, benar kata Keyri, dirinya bukan manusia, dirinya adalah malaikat maut. “Aku pergi dulu.” Keyri pamit meninggalkan Eiko. “Keyri…” lirih Eiko memanggil temannya. “Maafkan aku.” “Untuk apa? Untuk menjadi manusia?” “Entahlah, aku minta maaf untuk semuanya.” Keyri balik kanan. Bersamaan dengan itu, datang Hikaru membuka pintu toko. “Jangan! Jauhi dia!” teriak Eiko. Khawatir Keyri mengusili Hikaru. Hikaru melihat kanan kirinya, merasa aneh dengan yang diteriakan Eiko. “Kamu sedang apa? Apakah kamu sedang bicara dengan seseorang?” tanyanya penuh tanda tanya, Eiko segera mengkondisikan diri. “A…aku sendirian kok.” “Apakah kamu benar-benar jadi seperti ini gara-gara kejadian tempo hari? Apakah kamu sakit disebelah sini?” Hikaru mengecek dahi Eiko. “Sakit itu apa?” tanya Eiko polos. “Hah? Waduh, kamu tidak tahu sakit?” Hikaru menggelengkan kepala. “Nenek…” teriak sang pemuda, “Sepertinya dia tidak normal.” “Hush… kamu jangan sembarangan bicara,” sang nenek menenangkan. “Eiko, sini, nenek ajarkan kamu memasak,” ajak Hanan. Mengabaikan sang cucu. Daun bawang, seledri, bawang merah, bawang putih, cabe rawit, cabe kering, air garam, sawi, tauge, tahu dan berbagai jenis bakso dan siomay kering sudah berjejer di meja. “Nenek ajarkan kamu membuat kuah cuanki, ini yang paling mudah,” terang Hanan, menunjukkan beberapa tahapan membuat kuah. Eiko mengambil lima liter air dan menyiapkan di atas kompor. Sebelumnya ia telah belajar cara menyalakan kompor, itu cukup sulit untuk Eiko, beberapa kali salah dan tidak menyala, namun ia tidak menyerah dan terus belajar sampai bisa. “Setelah air, kamu cuci tulang iga ini, lalu masukan ke dalam air, biar airnya memiliki rasa yang gurih dari tulangnya,” tambah Hanan, dan gadis cantik itu mengikuti instruksi dengan baik. “Kamu bersihkan daun bawang dari daun-daun mati dan yang sudah kuning, lalu cuci dan potong tipis,” bukan hanya daun bawang yang ia potong, seledri dan sawi pun ikut dipotong dan ditata rapi ke tempat pajangan cuanki. Tidak hanya cuanki, menu seblak dan bakso aci pun ada di toko Hanan, ini bersebelahan dengan toko sembako kecil yang mereka miliki. Setiap hari buka mulai dari jam sepuluh siang hingga jam enam sore. Cukup ramai dan cukup untuk membiayai sekolah Hikaru yang mahal. Semua telah rapi, Eiko mulai terbiasa dengan kerapihan manusia, dan proses yang ia lakukan dengan Hanan dan Hikaru. Tring… Telpon warung berdering…
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN