"Putri Luna, tidak seharusnya Anda masuk begitu saja. Protokol istana—," Suara Lamia tertahan kala matanya tertambat pada mata Valerie yang bingung, kemudian pada raja yang menatap dingin pada dua tamu barunya. Dengan sengatan rasa bersalah yang kental, Lamia membungkuk. Meminta maaf pada keduanya. "Kamara datang bersamaku. Tidak ada alasan konyol mengapa ia dilarang pulang ke rumahnya sendiri," ucap Luna dingin, menembus ruangan dan menetap di dinding. "Kau boleh pergi, Lamia." "Kami akan berjaga di sekitar pintu, Yang Mulia." Lamia bersikeras dan Valerie mengangguk, meminta agar gadis itu mundur dengan raut dingin. "Dia tidak punya alasan untuk menyebut istana ini rumah," cela Liam dingin. "Ini bukan rumahnya. Dan berhentilah membelanya sekeras itu. Kau melakukan hal yang sia-sia."

