Barangkali mereka mencampurkan ekstra obat tidur yang bisa membuat Valerie lupa akan segalanya dan fokus pada mimpinya. Dia tidak pernah bermimpi buruk selepas kematian orangtuanya. Terhitung sesekali, dan itu saat dia sedang merindukan mereka. Bukan mimpi buruk, tapi Valerie cukup takut. Karena dia mengerti, eksistensi keduanya tidak lagi ada di dunia ini. Sementara saat ia berjuang membuka mata, samar-samar telinganya menangkap seseorang menangis. Lebih pada isakan kecil yang sengaja ditujukan untuknya. Kemudian dia menarik napas panjang, berpaling untuk mencari sosok siapa yang menangis tersedu-sedu seperti itu di kamarnya. "Bibi Ame?" "Apa yang terjadi, anakku? Kenapa kau terluka?" Ya Tuhan. Paman dan bibinya sudah tiba. Valerie terkesiap dengan perasaan haru sekaligus bahagia. Mel

