London, Inggris.
-The Ivy Restaurant-
Meninggalkan seluruh pemandangan indah nan menenangkan puncak musim gugur di London siang hari ini, Georgia hanya dapat menghembuskan napasnya kasar saat mobilnya terhenti tepat di depan restoran bintang lima tempat yang sangat disukai sang ayah sejak dulu.
Dirinya tahu kini meja sidang sang ayah sudah semakin terpampang tepat di depan mata. Lupakan perihal makan siang, semua itu hanyalah omong kosong semata.
Begitu Georgia memasuki restoran mewah yang sering keluarganya kunjungi sejak dia kecil itu, seorang resepsionis senior datang menghampirinya.
“Selamat datang, Ms. Clayton...” sapa wanita paruh baya itu dengan penuh kesopanan.
“Hai, Mrs. Hailey! Rasanya sudah lama kita tak berjumpa.” ucap Georgia berbasa-basi kepada wanita yang selalu ditunjuk untuk menjamu kunjungan mereka di restoran ini.
“Kau terlihat semakin cantik dan matang, Ms. Clayton...”
“Ah, mungkin karena aku terlalu menyukai musim gugur, restoran yang penuh dengan nostalgia bersama mendiang ibuku dan juga dirimu yang semakin awet muda, Mrs. Hailey...”
Wanita paruh baya itu tertawa renyah, “Oh Ms.Clayton, tutur kata anda yang manis tak pernah berubah sejak dulu...”
“Saya hanya berucap sesuai fakta Mrs. Hailey!” seru Georgia seraya tertawa.
“Baiklah, saya akan mengantarkan anda ke ruangan VVIP dimana ayah anda berada...” ucap wanita paruh baya itu mempersilahkan langkah Georgia untuk berjalan bersamanya.
“Terima kasih, Mrs. Hailey...”
“Dengan senang hati, Ms. Clayton...” ucap Mrs. Hailey disela langkahnya.
Georgia mengikuti langkah wanita paruh baya itu dengan senyuman yang memudar, perasaannya ketar-ketir, kalut dan takut menghadapi penghakiman sang ayah yang tak pernah gagal menghancurkan hatinya.
Cklek!
Krieeett...
Suara derit pintu bagai babak penentuan akhir dalam hidupnya, namun Georgia berusaha bersikap biasa-biasa saja. Dia tak ingin tampak terintimidasi oleh rasa takut yang menguasai hatinya saat ini.
“Silakan masuk dan selamat menikmati hidangan makan siang terbaik dari kami, Ms. Clayton...” ucap wanita paruh baya itu dengan penuh kesopanan membuat Georgia hanya dapat menggumamkan rasa terima kasihnya.
“Selamat siang, maaf telah membuat kalian menunggu lama...” sapa Georgia membuka basa-basi nya seraya membungkuk sopan.
“Makanan baru saja selesai dihidangkan, Georgia. Silakan duduk, kami menunggumu untuk memulai makan siang...” ucap sang ibu tiri dengan nada yang begitu hangat dan Georgia tahu bahwa itu tidaklah sepenuhnya tulus.
“Terima kasih, Belinda...” ucap Georgia sembari duduk pada kursi yang telah di tarik oleh seorang pelayan untuknya.
Georgia hanya terdiam canggung menunggu hidangan dari para pelayan, seraya mencuri pandang pada sang ayah yang memulai makan siang tanpa suara sedikit pun seperti biasanya.
Georgia pun berusaha menikmati makan siangnya, meskipun keadaan ini sungguh sangat asing untuknya. Biasanya jika dia melakukan sebuah kesalahan fatal, sang ayah akan membuka pertemuan dengan menghakimi dan marah-marah padanya.
Tak tahu apa yang sedang pria paruh baya itu persiapkan semuanya terasa senyap, hanya dirinya yang bermain dengan prasangka demi prasangka buruk didalam pikirannya sendiri.
“Apakah kau menginginkan ekstra mashroom untuk krim sup kesukaanmu, Georgia?” tanya sang ibu tiri membuat Georgia tersenyum canggung seraya menganggukkan kepalanya.
“Apapun itu yang kau berikan, aku pasti akan menikmatinya...” ucap Georgia dengan senyuman manis.
Wanita berusia 41 tahun itu berdecak pelan, “Ucapanmu selalu manis jika sedang membuat suatu kesalahan. Benar tidak, sayang?” tanya Belinda membuat sang suami berdeham pelan.
“Aku hanya berusaha mengimbangimu dengan baik, Belinda. Mengapa kau sangat sulit untuk menahan diri untuk tidak menyindirku?” tanya Georgia membuat sang ayah menatap tajam padanya disela suapan.
“Berikan dia sup itu agar dia memiliki energi untuk berpikir lebih baik...” ucap Gerald mengandung sindiran yang sarat akan peringatan.
Georgia membiarkan Belinda meletakkan sup itu dihadapannya dan memakan sup tersebut tanpa suara. Dia tahu ada banyak hal yang akan sang ayah perdebatkan dengannya.
Mereka semua melanjutkan semua makan siang itu dengan begitu santai dalam ketenangan. Tidak, isi kepala Georgia sedang berbenturan dengan begitu banyak pikiran di dalam sana hingga nyaris akan pecah.
Tegukan terakhir air mineralnya bersambut dengan dehaman sang ayah, membuat Georgia meninggalkan gelas itu dihadapannya.
“Katakanlah, semua yang ingin kau katakan, Dad. Kita bisa menyudahi basa-basi yang semakin basi ini...” ucap Georgia menegaskan semua keadaan yang semakin membuatnya jengah.
Hembusan asap dari cerutu sang ayah terdengar kuat, “Apakah kau sudah menyadari kesalahan fatal yang kau lakukan, hah? Sekarang jika kau sudah muak dengan basa-basi ini, bisakah kau katakan langkah apa yang akan kau lakukan untuk menghadapi rencana akuisisi dari pihak Gremlin Group terhadap perusahaan kita?!” teriakan sang ayah bagai ledakan bom yang kini telah kehabisan waktu.
Menghembuskan napasnya pelan, “Aku telah memikirkannya, bahkan aku telah berdiskusi dengan Jayden agar segera menemui Giorgino Timothy untuk dapat melakukan negosiasi...” ucap Gerorgia jelas berbohong, namun kata-kata itu seakan lolos begitu saja dari mulutnya.
“Negosiasi apa yang ingin kau tawarkan disaat saham perusahaan sedang merosot tajam dan kini perusahaan memiliki banyak utang dengan Gremlin Group. Bahkan kau telah membuat Erdigo Company menghentikan kerjasama secara sepihak!” teriakan sang ayah bersambut dengan tepuk tangan ibu tirinya.
“Wow, prestasimu dalam menghancurkan perusahaan terbesar dan ternama sejak turun temurun sepertinya akan tercatat dalam sejarah besar Amethys Group yang akan berubah nama menjadi Gremlin Group nantinya...”
“Tutup mulutmu, Belinda!” teriak Georgia tak terima dengan sindiran keras wanita sialan itu.
“Kau yang harus merendahkan nada suaramu, Georgia! Sudah berapa kali kukatakan padamu, hormati ibu tirimu selayaknya kau menghormatiku!” bentakan sang ayah membuat Gerogia semakin geram.
“Aku selalu berusaha menghormatinya, tapi kau sendiri tak pernah memarahinya ketika dia menghina darah dagingmu sendiri!” teriak Georgia membuatnya berakhir tertawa miris, “Oh ya, kau bahkan orang pertama yang selalu menghinaku. Aku hampir saja melupakannya...”
“Hentikan, Georgia! Belinda tidak menghinamu, dia menyatakan fakta atas prestasi burukmu itu! Bukankah wajar jika sejak awal aku meragukan kepiawaianmu dalam mengelola perusahaan? Perhitunganku tentang wanita yang selalu jauh dari angka keberhasilan ternyata terbukti, bukan? Kau harus mengakui kelemahanmu, Georgia!” ucap sang ayah berapi-api dengan nada tinggi membuat Georgia tersenyum kecut.
“Anggap saja semua ucapanmu membuahkan hasil. Kau yang mengutuk putrimu sendiri, bahkan kau seringkali menghina ibuku, wanita yang menghabiskan sisa hidupnya dibawah tekananmu!” teriak Georgia membuat Belinda berdecak kesal.
“Kau sangat senang memutar topik pembicaraan, Georgia! Sekarang fokus kita pada perusahaan yang nyaris bangkrut karenamu, sebagai sekretaris yang mendampingi ayahmu saat itu, aku sangat mengetahui perjuangan Gerald selama ini. Sementara kau tak tahu bagaimana perjuangan keras ayahmu untuk mendapatkan kerjasama dengan Erdigo Company tiga belas tahun lalu! Sekarang Erdigo Company telah bekerjasama dengan kompetitor kita dan kau ingin menganggap semua itu kesalahan yang bisa dimaafkan?!” tanya Belinda dengan nada tinggi membuat Georgia merasa sangat muak dengan semua itu.
“Aku hanya menyatakan fakta, bukankah suamimu ini sangat senang mengutukku dan mengatai ibuku! Berselingkuh denganmu, bahkan disaat ibuku terbaring lemah dalam keadaan hamil tua hingga calon adikku harus ikut meninggal bersamanya!”
“Cukup, Georgia!” teriakan Gerald terdengar nyalang.
“Aku tidak bisa berhenti mengingatnya, saat kau membuat ibuku terus-menerus berusaha untuk hamil meski dokter menyatakan kondisi tubuhnya tidak bisa dipaksakan untuk mengandung lagi, tapi demi dirimu dia tetap berusaha untuk melakukan program kehamilan lagi demi menyenangkan hatimu, pria peselingkuh!”
“Georgia!”
“Dia berusaha mewujudkan keinginanmu untuk memiliki anak laki-laki yang kau idamkan, Gerald!”
Plak!
“Dad!”
“Tutup mulutmu, Georgia!” teriakan sang ayah membuat air mata Georgia menetes.
“Bahkan kau tak pernah mampu mengatakan bahwa tidak ada perselingkuhan diantara kalian, bukan? Kami hanya menjadi korban atas keegoisanmu...” desis Georgia seraya menyeka air matanya.
“Kau tak tahu keadaanku selama ini, Georgia. Pada akhirnya semua ucapanku benar terjadi, bukan? Amethyst Group dilanjutkan oleh keturunan Clayton secara turun temurun selama tiga generasi dengan baik, dan benar saja, dibawah kepemimpinan seorang wanita sepertimu Amethyst Group kini terancam akan direnggut oleh Gremlin Group!”
“Jika kau tahu bahwa putrimu ini tidaklah piawai dalam mengelola perusahaan, mengapa kau memaksaku untuk memimpin perusahaan sejak usiaku masih sangat muda? Lagipula saat kalian menikah Belinda masih sangat muda, kau bisa memaksanya untuk memiliki anak laki-lakimu yang hebat, mengapa tidak kau lakukan?” tanya Georgia menyindir keras sang ayah atas keputusan sepihak yang pria itu buat selama ini.
“Aku masih berusaha mempercayaimu untuk belajar mengelola perusahaan dan kau tahu bagaimana kondisiku sejak ibumu meninggal sampai saat ini saat kanker sialan itu menggerogoti tubuhku? Aku tak memiliki harapan lain selain dirimu, Georgia!”
“Jika hanya aku harapanmu, mengapa kau sering mematahkanku?” tanya Georgia membuat sang ayah hanya menghembuskan napasnya kasar.
“Aku mengajakmu bertemu untuk memberikan solusi terbaik untukmu dan perusahaan, Georgia. Aku tahu kecelakaan kapal diluar kuasamu, tapi kau tahu bahwa sebagai pemimpin semua yang terjadi mutlak menjadi tanggung jawabmu.” ucap sang ayah membuat hati Georgia merasa sedikit tenang sekarang.
“Katakan solusi apa itu, Dad. Sebisa mungkin aku akan melakukan yang terbaik untuk perusahaan...” ucap Georgia membuat sang ayah tampak berpikir panjang.
Georgia sedikit terkejut saat tangan keriput sang ayah yang telah berusia 58 tahun itu menggenggam tangannya lembut hingga iris mata abu-abu mereka bertemu. Georgia merasa sangat tersentuh, karena baru kali ini ia menemukan tatapan teduh dan penuh harap itu dari ayahnya.
“Kau bisa menemui Georgino Timothy dan menawarkan kesepakatan untuk menggabungkan perusahaan kita dengannya...” ucap sang ayah membuat Georgia terpaku ditempatnya.
“Bagaimana caranya untuk memulai kesepakatan itu, Dad?” tanya Georgia setelah berusaha mengendalikan kebingungannya.
Pria paruh baya itu kembali menyesap cerutunya dan membuang asapnya perlahan, “Tawarkan semua itu dengan ikatan pernikahan...”
“Maksudmu?” tanya Georgia diiringi dengan rasa terkejutnya.
“Tawarkan untuk menggabungkan perusahaan kita dengannya dalam ikatan sebuah pernikahan. Pernikahan bisnis yang benefit untuk kedua belah pihak. Amethyst Group memiliki sejarah dalam perkembangan manufaktur alat berat terbesar di Inggris. Kita bekerja sama memproduksi alat berat untuk perusahaan-perusahan kontruksi dan pertambangan besar selama puluhan tahun dengan ekspor hampir keseluruh dunia. Jika mereka menurunkan bendera perusahaan, maka kepercayaan para perusahaan tambang dan konstruksi yang bekerja sama lebih dari 5 dekade bersama Amethyst Group mungkin akan sedikit memudar dan memilih untuk mencari kerja sama dengan perusahaan lain...” ucapan sang ayah membuat Georgia kini menemukan sebuah ide yang bagus.
“Aku akan menawarkan kesepakatan untuk menggabungkan perusahaan dengan Gremlin Group menggunakan kesepakatan kerjasama yang saling menguntungkan. Aku tak yakin dengan menawarkan pernikahan karena aku dan putranya tak saling mengenal...” ucap Georgia membuat sang ayah menghembuskan napasnya kasar.
“Pernikahan adalah satu-satunya jalan terbaik yang membuat Giorgino mempertimbangkan untuk menggabungkan Amethyst Group dengan Gremlin Group, Georgia!” bentak sang ayah membuat Georgia mengepal tangannya erat.
“Tapi aku tak bisa menikah dengan pria yang tak kucintai, bahkan kami tidak saling mengenal. Hentikan memaksakan keadaan yang tidak mungkin, Dad!”
“Kau yang berhenti untuk egois, Georgia! Kepala batu mu itu tidak dapat kau jadikan patokan! Aku berani memintamu untuk menawarkan Merger kedua perusahaan dengan ikatan pernikahan karena aku tahu keadaan Giorgino saat ini yang nyaris kehilangan putra bungsunya!” teriakan sang ayah membuat Georgia menghembuskan napasnya kasar.
“Kau mengatakan padaku akan memberikanku sebuah solusi, tapi mengapa kau malah membuatku merasa terjebak dalam kondisi ini?!”
“Karena tak ada lagi yang bisa kau lakukan selain menawarkan semua itu kepada Gremlin Group, Georgia! Menggabungkan perusahaan dengan mereka dan dalam pernikahan dan kau bisa membuat perjanjian jika pihaknya menceraikanmu atas alasan perselingkuhan atau kau menuntut perceraian atas alasan perselingkuhan, maka kau berhak atas 50% saham perusahaan yang mereka miliki dan segala utang-utang Amethyst Group kepada mereka dihapuskan sebagai tuntutan ganti rugi atas perceraian kalian!” ucap sang ayah menegaskan semuanya membuat Georgia semakin tak mengerti dengan jalan pikiran ayahnya itu.
“Jadi kau berpikir bahwa aku akan menikah hanya untuk merenggut semuanya setelah bercerai? Kau membiarkan putrimu menikah hanya untuk sebuah perceraian, Gerald?!” tanya Georgia dengan nada tinggi, sungguh ia tak lagi dapat mengontrol emosi.
“Hanya ini satu-satunya jalan keluar yang bisa kau lakukan untuk perusahaan, Georgia!”
“Sama saja dengan kau menyuruhku menjual harga diriku demi perusahaan, Gerald!”
“Apalagi yang bisa kau lakukan saat ini selain menjual harga dirimu, Georgia. Berhenti bersikap idealis dan buang semua keegoisanmu. Kau hanya menawarkan sebuah pernikahan bisnis dengan putra bungsu Giorgino Timothy yang masih lajang sebagai seorang putri tunggal pewaris Amethyst Group yang terhormat. Sebagai ayah, aku tak memintamu melobi seorang pria beristri untuk satu malam!”
Georgia hanya dapat terdiam dalam semua rasa marah dan kesal yang berkecamuk didalam hatinya.
“Pertimbangkan baik-baik solusi yang kuberikan dan putuskan secepatnya. Waktu yang kau miliki tidaklah banyak...”
***
Georgia tak tahu sudah sejauh mana dia berjalan menyusuri jalan besar saat dia meninggalkan restoran bintang lima itu. Semua perasaan bercampur aduk di hatinya hingga dia tak dapat lagi memikirkan keputusan yang akan ia ambil.
Rasanya begitu aneh jika dia yang harus menemui pemilik Gremlin Group untuk menawarkan sebuah kesepakatan gila yang ayahnya katakan sebagai sebuah solusi untuknya. Bukankah lebih baik ayahnya yang mengajak Giorgino Timothy bertemu dan membicarakan segalanya?
“Ayahmu tak pernah mau merendah ataupun meminta sesuatu pada orang lain yang akan menganggapnya lebih rendah, Georgia...” lirihnya seraya mengusap wajahnya kasar.
Seakan baru tersadar dari lamunannya, Georgia menyadari langit sendu musim gugur yang dingin kini telah berubah membentuk gradasi jingga keabu-abuan yang begitu indah dan menenangkan. Dedaunan yang menguning bahkan memerah berjatuhan seakan mengiringi hatinya yang layu dalam sebuah rasa ragu dan bimbang.
Georgia masih tak tahu keputusan apa yang harus dia buat, mengajukan kesepakatan menggabungkan kedua perusahaan dengan syarat kerja sama jelas akan ditolak oleh Gremlin Group, namun mengikat semua kesepakatan itu dalam sebuah pernikahan juga tak menutup kemungkinan akan mendapatkan sebuah penolakan.
Namun jika pemilik Gremlin Group menyetujui dan menerima kesepakatan itu, siapkah dirinya menjalani semua peran dalam pernikahan itu?
Georgia tak ingin terluka dan hancur karena seorang pria seperti ibunya. Sungguh, tak ada prasangka baik yang bisa dia ciptakan dalam pikirannya sendiri perihal pernikahan...
Tint!
Georgia tersentak dari lamunannya dan menoleh kearah mobil yang kini bertenti tepat disisi jalan trotoar dimana dia berdiri.
“Jayden?” tanya Georgia bagai orang bodoh yang tak menyangka akan mendapati pria itu di jalanan seperti ini.
“Sudah kuduga kau akan berjalan kaki dengan pikiran kosong saat cuaca dingin seperti ini...” ucap jayden melingkupi punggungnya dengan mantel musim gugur yang hangat itu.
Georgia hanya terdiam saat Jayden menuntun tubuhnya masuk kedalam mobil, matanya kini hanya mengekori Jayden yang berlari cepat memasuki mobil dan duduk di balik kemudi tepat disisinya.
“Apakah kau baik-baik saja, Georgia?” tanya Jayden membuat Georgia memeluk tubuhnya erat.
“Aku merasa buntu sekarang, Jayden...” ucap Georgia membuat Jayden hanya dapat mengusap punggungnya.
“Tenanglah, aku disini bersamamu...”
Ya, Georgia tahu hanya Jayden yang selalu ada bersamanya disaat terburuk sekalipun.