London, Inggris.
-Amethyst Group-
Mata abu-abu yang indah itu bergerak liar mendengar apa yang orang kepercayaannya katakan tentang masalah pelik yang dihadapi perusahaannya saat ini.
"Karena kejadian kecelakaan kapal pengangkut alat berat ke Seattle yang tenggelam, kita mengalami kerugian besar. Saat ini perusahaan mengalami defisit keuangan yang cukup besar dan lagi-lagi Gremlin Group menutupi semua tuntutan ganti rugi yang di layangkan oleh Erdigo Company." ucap Jayden Davis yang merupakan sekretaris pribadi sekaligus orang kepercayaan Georgia Clayton, CEO Amethyst Group.
Mengusap wajahnya, "Perusahaan memang telah banyak berhutang secara finansial kepada Gremlin Group belakangan ini, tapi aku yakin akan melunasi semua utang perusahaan lebih kurang setahun sampai dua tahun kedepan. Apakah aku harus menemui Giorgino Timothy untuk sebuah permintaan maaf dan terima kasih?" tanya Georgia membuat Jayden menghembuskan napasnya kasar.
"Aku pikir dari semua yang terjadi belakangan ini, masalah dengan Erdigo Company merupakan masalah paling fatal sejak sepuluh tahun kepemimpinanmu, sepertinya sebagai pemegang saham terbesar saat ini Gremlin Group telah memilih langkahnya sendiri…" ucap pria berusia 32 tahun itu membuat Georgia menatap penuh tanya kearahnya.
"Apa maksudmu, Jayden?"
Jayden hanya dapat mengangkat kedua pundaknya, "Minggu depan, kita akan menerima kunjungan dari Gremlin Group yang akan mengadakan rapat dewan untuk mengambil keputusan final atas segalanya." ucap pria itu membuat mata abu-abu wanita yang duduk dibalik meja CEO itu tertuju kearahnya.
"Gremlin Group akan mengadakan rapat dewan? Keputusan apa yang kau maksudkan, Jayden? Jelaskan padaku!" bentak wanita itu penuh penekanan.
Jayden hanya dapat mengangguk dalam intimidasi Georgia Clayton selaku bosnya.
Georgia Clayton adalah putri tunggal pemilik Amethyst Group, wanita 29 tahun itu telah menjabat sebagai CEO perusahaan multinasional yang bergerak di bidang manufaktur alat berat terbesar yang berpusat di London, Inggris, selama sepuluh tahun belakangan ini.
"Awalnya aku berpikir semua ini hanyalah rumor belaka, Georgia. Namun makin kesini rumor mengenai Gremlin Group akan mengakuisisi Amethyst Group semakin berhembus kencang sejak masalah demi masalah terjadi dibawah kepemimpinanmu." ucap Jayden dengan sedikit berhati-hati dalam menyampaikan informasi yang terlalu sensitif itu.
"Gremlin Group akan mengakuisisi perusahaan ini? Bukankah itu sangat berlebihan?!" desis Georgia merasa tak terima dengan suguhan fakta yang sekretarisnya berikan saat ini.
"Dalam perjanjian para pemegang saham jelas tertulis, bahwa saat perusahaan semakin lesu selaku pemilik saham terbesar atas perusahaan dapat mengambil kebijakan penuh demi mencegah kebangkrutan."
Menghembuskan napasnya kasar, "Tapi dengan mengakuisisi perusahaan ini bukanlah keputusan yang menguntungkan untuk keluarga kami, Jayden! Kau tahu bagaimana ayahku sering menghina ketidakmampuan ku sebagai seorang wanita? Perusahaan ini di dirikan kakek buyut ku sejak lebih dari 80 tahun yang lalu!" ucap Georgia dengan amarah yang berusaha untuk ia tahan.
"Tapi inilah kenyataan yang harus kau ketahui Georgia. Gremlin Group memiliki 50% saham perusahaan dan utang-utang perusahaan terhadapnya jika di akumulasikan sudah dapat dibandingkan dengan harga 20% dari saham 30% yang kau miliki saat ini."
Georgia menghembuskan napasnya seraya memejam sejenak demi mengatur emosinya.
"Aku yakin bisa mengembalikan kelesuan perusahaan dan meningkatkan harga saham perusahaan seperti dulu lagi. Aku hanya butuh waktu, Jayden…" ucap Georgia menatap Jayden penuh harap.
"Aku tahu kredibilitas dan kemampuamu, Georgia. Namun, masalah dengan Erdigo Company adalah masalah yang paling fatal sejauh ini. Erdigo Company telah memutuskan kerja sama dengan perusahaan ini meski telah bekerja sama lebih dari sepuluh tahun. Mereka adalah sumber pemasukan kedua terbesar untuk perusahaan ini. Lagipula semua wewenang sepenuhnya dimiliki oleh Gremlin Group dan kepala dewan perusahaan. Kita tak bisa mengambil keputusan apapun selain meminta untuk menjalin sebuah kesepakatan yang dapat membuat Giorgino Timothy berubah pikiran nantinya." ucap Jayden Davis membuat Georgia berpikir sejenak.
"Kesepakatan apa yang dapat mengubah pikirannya?!" teriak Georgia merasa frustasi saat pikirannya hanya terbentur dengan jalan buntu tanpa solusi.
"Biarkan kita memikirkannya dengan kepala dingin untuk beberapa hari kedepan, Georgia…"
"Beberapa hari kedepan, katamu? Kita tanya memiliki tujuh hari, Jayden!" bentak Georgia menekankan kata-katanya.
"Aku yakin akan ada solusi terbaik untuk semua ini, Georgia…" ucap Jayden berusaha mengimbangi emosi Georgia yang sangat meledak-ledak saat ini.
Meremas erat kepalanya dengan kedua tangan yang bertumpu di meja kebesarannya itu, "Aku merasa sangat frustasi, Jayden. Apa yang akan Gerald dan istri sialannya itu katakan jika mereka tahu bahwa perusahaan akan di akuisisi oleh Gremlin Group…"
"Georgia, berhenti memikirkan ayah dan ibu tirimu. Kau harus tenang dan fokus memikirkan langkah terbaik untuk Amethyst Group…" bujuk Jayden yang merupakan sahabat dekat yang mendampingi dan membimbing Georgia dia sejak mempersiapkan diri untuk memimpin perusahaan ini sejak awal.
"Rasanya aku sudah berada di akhir perjuanganku saat ini, Jayden. Mungkin benar kata Gerald, bahwa memiliki anak perempuan hanyalah sebuah beban yang tak bisa dia andalkan sama sekali…" ucap Georgia dengan mata yang berkaca-kaca.
Jayden hanya mampu berdecak kesal seraya meraih kedua tangan Georgia yang terus meremas kuat rambutnya dalam rasa frustasi. Meletakkan kedua tangan halus itu diatas kedua paha Georgia, Jayden menggenggam tangannya lembut sebagai bentuk sebuah dukungan moril.
"Georgia, aku tahu kau sedang panik dan kalut dengan keadaan ini. Namun percayalah padaku, kau Georgia Clayton yang aku kenal sejak awal dengan prinsip yang keras dan sangat menyukai sebuah tantangan…"
"Ini bukanlah tantangan yang menyenangkan, Jayden. Sedikit saja aku salah langkah, maka aku akan hancur…" lirih Georgia membuat Jayden kini menangkup wajahnya.
"Aku yakin bahwa kau bisa melewati semua masalah ini dengan kekuatanmu, Georgia. Kau harus percaya pada kekuatan dirimu sendiri, seperti aku percaya padamu selama ini. Kau pasti bisa melewati semuanya…" ucap Jayden berusaha meyakinkan Georgia.
Dengan mata berkaca-kaca Georgia kini memeluk Jayden dalam semua keputusasaannya, "Terima kasih, Jayden…"
"Ya, Georgia…" jawab Jayden dengan tangan yang mengusap punggung wanita kesayangannya itu.
"Terima kasih selalu mempercayai ku dan memberikan kekuatan untukku. Jika aku tak pernah bertemu denganmu, mungkin aku tak akan pernah dapat bertahan sampai sejauh ini…" ucap Georgia disela isak tangisnya.
Jayden Davis sudah selama sepuluh tahun ini bersamanya dan mendampinginya menghadapi dunia bisnis yang sangat penuh tekanan. Pria ini yang selalu ada untuk menemaninya, membuatnya dapat memiliki kepercayaan diri meski sering di patahkan oleh ayahnya sendiri. Dunia yang terlalu kejam dan menyakitkan untuknya selama ini.
Tok!
Tok!
Tok!
Suara ketukan pintu ruangan kerja itu berhasil menginterupsi keduanya, Georgia menatap kearah Jayden dengan alis yang bertaut.
"Apakah ada jadwal pertemuan dengan seseorang?" tanya Georgia membuat dahi Jayden berkerut sembari menggelengkan kepalanya.
"Jadwal mu kosong siang ini, sebentar…" ucap Jayden seraya menekan tombol penghubung suara keluar dari ruangan CEO yang kedap suara itu.
"Apakah ada keperluan mendesak?" tanya Jayden pada sekretaris yang mengetuk pintu diluar sana.
"Maaf, Mr. Davis. Saya ingin menyampaikan pesan Mr. Joseph kepada Ms. Clayton…" ucap sekretaris di luar membuat tatapan Jayden dan Georgia kembali beradu.
"Apa yang Mr. Joseph katakan, Marlyn?" tanya Georgia dengan sedikit menegang karena kaki tangan ayahnya selalu membawa kabar yang kurang mengenakkan baginya.
"Mr. Joseph mengatakan bahwa Mr. Clayton menunggu anda di restoran biasa untuk makan siang bersama…" ucap sekretaris wanita yang bertugas dibagian informasi untuknya itu.
"Baiklah, terima kasih untuk informasi darimu, Marlyn…" ucap Georgia membuat Jayden melepaskan tombol penghubung suara tersebut.
"Jadi, bagaimana?" tanya Jayden membuat Georgia menggeleng samar.
"Apa yang dapat kulakukan selain pergi untuk menemuinya?" tanya Georgia membuat Jayden hanya dapat mengangguk pasrah.
"Maukah ku temani?" tanya Jayden membuat Georgia tersenyum kecut.
"Semua itu hanya akan menambah daftar masalahku, Jayden. Dia akan berpikir hubungan kita lebih dari sebatas rekan kerja dan teman dekat…" ucap Georgia membuat Jayden hanya dapat menghela napasnya pelan.
"Kau terlalu keras pada dirimu sendiri untuk mengikuti standar yang orangtua mu beri, Georgia." ucap Jayden membuat Georgia menatap jauh kedepan.
"Aku hanyalah seorang anak yang tidak diinginkan, Jayden. Selain menjadi sosok penurut yang membuatnya merasa tenang dan senang, apalagi yang bisa kulakukan?" tanya Georgia hingga tercekat oleh kesedihannya.
Georgia tahu bahwa hatinya menginginkan pria sebaik dan sepeduli Jayden Davis untuk selalu bersamanya. Namun, sang ayah telah mengatakan secara terang-terangan bahwa jika dirinya ingin memiliki masa depan yang lebih baik, maka dia harus menjalin hubungan dan menikah dengan pria yang sepadan. Berada di level yang sama, bahkan lebih tinggi darinya. Sungguh dirinya sangat muak dengan standar dan batasan yang ayahnya berikan, tapi dia tak dapat memilih. Takdirnya terlahir sebagai putri tunggal Gerald Clayton adalah hal yang mutlak.
Georgia terkesiap saat Jayden menarik tubuhnya dalam sebuah pelukan yang hangat, "Ada saatnya kau berhenti mengorbankan dirimu sendiri hanya untuk menyenangkan ayahmu yang bahkan tak pernah menghargai perjuangan dan pengorbananmu selama ini, Georgia..." ucap Jayden membuat air mata Georgia sontak menetes.
"Lalu setelahnya, apa aku rela membiarkan mendiang ibuku lagi yang akan menjadi korbannya?" Tanya Georgia menatap Jayden dengan tatapan luka yang selama ini selalu ia simpan rapat-rapat.
"Aku tak bermaksud seperti itu, Georgia…"
"Aku tak ingin lagi mendengar ayahku mengatai ibuku dihadapan istrinya. Wanita tak berguna yang tidak dapat melahirkan anak laki-laki hingga akhir hayatnya, bahkan tak mampu mendidik anak perempuan yang ia lahirkan dengan baik. Apapun itu Jayden, aku benar-benar muak saat mendengar semua itu…" ucap Georgia diiringi dengan air matanya yang silih berganti terjatuh.
"Ssstt…" desis Jayden sembari menghapus air mata Georgia.
"Jangan menangis, Georgia. Kau selalu mengatakan padaku, bahwa terlihat lemah hanya akan membuat ayahmu dan istrinya tertawa bahagia. Sekarang hapus air matamu dan perlihatkan pada mereka bahwa kau bisa mengatasi semua masalah ini termasuk meminta Gremlin Group untuk mempertimbangkan keinginan mereka mengakuisisi perusahaan ini…" ucap Jayden seperti biasa memberikan ketenangan dan kekuatan untuk Georgia.
Georgia tersenyum seraya menganggukkan kepalanya, "Kau benar, Jay! Aku pasti bisa menghadapi dan melewati a semua ini karena kau bersamaku…" ucapnya membuat Jayden hanya dapat mengusap kepalanya penuh kasih.
"Kabari aku jika pertemuannya sudah selesai, kita bisa makan siang bersama…" ucap Jayden membuat Georgia meninju pelan d**a bidangnya.
"Kau memang selalu tahu bahwa makan siang bersama ayahku hanyalah sebuah formalitas…" desis Georgia membuat Jayden lantas tertawa seraya memberikan tas tangannya.
"Segeralah pergi, manusia paling sempurna di dunia ini telah menunggumu…" ucap Jayden berbisik dengan nada seram suaranya.
"Ya, bahkan dia merasa mampu mengalahkan Tuhan dengan kesempurnaan-Nya…" bisik Georgia dengan deep voice-nya seraya bergedik ngeri hingga Jayden tertawa geli karenanya.
"Sudahlah, aku akan pergi sekarang!" ucap Georgia seraya berlalu pergi meninggalkan ruangan kerjanya.
Jayden tersenyum sedih memperhatikan kepergian Georgia. Wanita bermata abu-abu dengan rambut dirty blonde nya itu selalu tampak sangat cantik dan menarik. Namun, tak seindah dan menarik kisah hidupnya yang sebenarnya. Mungkin dimata orang awam Georgia adalah wanita pemimpin perusahaan yang kuat, tapi sebenarnya Georgia selalu hidup dalam tekanan dan hinaan sang ayah, wanita itu rapuh karena sering kali di hancurkan.
Blam!
Hingga pintu tertutup, mata Jayden pun berkedip bersamaan dengan bulir air matanya yang jatuh.
"Andai aku berdaya untuk melepaskan semua beban yang kau tanggung dan memastikan kebahagiaanmu, Georgia…" gumam Jayden dalam kesendiriannya.
***
Bali, Indonesia.
-Gremlin Private Resort-
Dering ponsel membuat netra hijau yang menenangkan itu perlahan terkuak. Pria tampan berusia 34 tahun itu membuang napasnya kasar.
"Jawab telpon mu, George! Sebelum orang-orang kepercayaan ayahmu datang bersama para bodyguard-nya memenuhi tempat ini!" teriak suara manis wanitanya dari luar kamar membuat wajah tampan itu mengukir senyuman hambar.
Sore harinya menjadi terasa begitu menyebalkan. Penat setelah bergelut dengan pekerjaan nyaris hilang dengan tertidur sejenak, namun kini kepalanya terasa kembali berdenyut nyeri karena suara dering telpon yang tak lain dan tak bukan sebuah panggilan dari sang ayah.
"Ah, menyebalkan sekali…" desis George dengan bahasa Indonesia yang belum pas karena aksen Amerikanya sangat kental meski telah setahun menetap di negara kepulauan beriklim tropis ini.
Menatap ponselnya yang hanya berhenti berdering sejenak, lalu berdering lagi seakan tak tahu diri. George memilih untuk bangkit dan meneguk segelas air putih, lalu menjawab panggilan telepon tersebut.
"Ya, Dad?" jawab George tanpa minat sama sekali.
"Kenapa lama sekali menjawab teleponku, George?"
"Sepulang kerja aku ketiduran, Dad. Lagipula, apa yang membuatmu menelponku jam segini? Bukankah disana baru pukul enam pagi?" tanya George menyadari sekarang sudah pukul 6.10 sore di Bali, itu berarti di New York masih pukul 6.10 pagi.
Terdengar suara dehaman marah dari seberang sana, "Kau sangat tahu bahwa ayahmu ini sangat tak suka berbasa-basi, George. Aku telah memintamu untuk kembali ke New York dalam minggu ini untuk pergi bersamaku ke London dalam rencana mengakuisisi Amethyst Group. Tapi kau masih betah bermain-main bersama p*****r tak tahu diri itu disana!"
"Jaga ucapanmu, Dad!" teriak George tak terima.
"Kau yang harus menjaga sikapmu dan tahu akan siapa dirimu, George! Sebagai satu-satunya anak lelakiku, kami hanya mengharapkan masa depan perusahaan kepadamu!"
"Bukankah katamu Gween lebih piawai memimpin perusahaan, sekarang mengapa kau masih mengharapkan ku, Dad? Aku sudah nyaman mengelola anak cabang perusahaan disini. Jadi, aku harap kau berhenti menggangguku lagi!" teriak George berkeras dengan keinginannya.
"Kakak mu telah menggantikan kepemimpinanmu di Gremlin Group selama setahun belakangan ini. Aku selalu mentolerir keinginanmu selama ini, George. Tapi kau hanya mementingkan dirimu sendiri dan tak pernah memikirkan ayah dan ibumu yang sudah tak lagi muda, begitukah caramu membalas kebaikan kedua orangtua mu selama ini?”
Menghela napasnya kasar, “Apakah kewajiban orangtua untuk anaknya harus berbalas? Bukankah kau terlalu pamrih?” tanya George merasa jengah dengan perkataan sang ayah yang sudah mulai mengungkit segala hal.
“Berkaca dengan dirimu sendiri, George? Apakah kau sudah menjalankan kewajibanmu sebagai seorang anak, kau hanya menuntut hakmu. Bahkan kau telah meninggalkan kewajibanmu untuk beribadah sebagai umat Tuhan. Kau sudah terlena dengan dunia, kau tidak pernah lagi ke gereja, tinggal serumah dengan wanita yang bukan istrimu. Kau telah berzina, George!”
“Oh ayolah, Dad. Sudah ku katakan padamu, jangan mencampuri urusanku dengan Tuhan adalah tanggung jawab ku sendiri! Mengenai hubunganku dengan kekasihku juga bukan urusanmu, yang perlu kau ketahui bahwa aku telah mengelola anak cabang perusahaan disini dengan sangat baik. Jadi berhenti memintaku untuk kembali ke New York!” tegas George dengan nada meninggi atas amarahnya saat ini.
“Sebagai orangtua yang membesarkanmu sejak dari dalam kandungan ibumu, aku memiliki hak penuh atas hidupmu dan menegurmu saat kau melakukan kesalahan, George!”
“Demi apapun, ini hidupku dan benar ataukah salah adalah pilihanku, Dad!”
“Sekarang bangun dari tidurmu dan kembali secepatnya sebelum aku menghancurkan segalanya disana!”
Teriakan sang ayah diseberang sana membuat nyali George sedikit gentar, “Wait, apakah kau sedang mengancamku, Dad?”
“Terserah bagaimana kau menyimpulkannya, tapi harus kuingatkan padamu, Giorgino Timothy tak pernah sekalipun bermain-main dengan ucapannya!”
“Aku sudah dewasa, Dad!”
Pip!
“s**t!” teriak George saat panggilan itu terputus.
“Berhenti mengumpat, George. Tidak baik...” ucap Stella memeluk tubuhnya dari belakang seraya mengusap d**a bidangnya.
“Ayahku semakin mengada-ada saja tabiatnya...” keluh George membuat Stella kini berputar dihadapannya.
“Semakin tua, terkadang para orangtua semakin banyak maunya. Maklumi saja...” ucap Stella membuat George menghembuskan napasnya kasar.
“Apakah kau tidak merasa cemas dengan kenyataan bahwa ayahku sangat menyebalkan?” tanya George membuat wanita berusia 23 tahun itu tampak berpikir.
“Mengapa aku harus merasa cemas?” tanya wanita berambut hitam legam dengan mata besarnya yang indah itu membuat George menggigit bibirnya gemas.
“George!” teriak wanita berdarah campuran Korea-Amerika itu seraya memukul d**a bidangnya.
“Ya, kau harus cemas karena pria tua menyebalkan itu akan menjadi ayah mertuamu!” teriak George membuat Stella Hwang berdecak kesal.
“Kita sudah bersepakat akan menikah dan hidup berdua disini, tanpa orangtuamu. Jadi, aku tak perlu mencemaskan hal itu...” ucap Stella tanpa beban.
“Ya, memang lebih baik begitu...” ucap George memaklumi ucapan Stella karena sejak kecil wanita itu hanya tinggal bersama saudara ibunya yang menetap di pulau ini.
Stella tak tahu apa itu keluarga dan bagaimana pentingnya kebersamaan dalam keluarga, tapi George tahu yang Stella miliki sekarang hanya dirinya. Begitu pula dengan dirinya.
“George, apakah kau tak mendengarkanku?” tanya Stella menarik George dari lamunannya.
“Maaf, apa yang kau katakan, Stella?”
“Ayo kita makan malam, George! Makanan sudah siap dan aku sudah lapar! Akh!” teriak Stella saat George memanggul tubuh mungilnya di pundak bak karung beras.
“Ayo kita menuju meja makan! Hahaha!”
“George, tolong darahku naik ke kepala!”
Gelak tawa mereka memecah senja yang sunyi itu, ketenangan yang hanya mereka bedua miliki. George dengan wanita yang berhasil mengobati patah hatinya karena Angela Sharon.
***
London, Inggris.
-The Ivy Restaurant-
“Pikirkan baik-baik ucapanku, Georgia. Kesempatanmu untuk menunjukkan kemampuanmu memimpin perusahaan telah habis, sekarang waktunya kau menunjukkan bahwa dirimu mampu mempertahankan perusahaan kita dari rencana akuisisi Gremlin Group!” tegas sang ayah seiring dengan suara derit kursi yang begitu kasar.
Brak!
“Pelan-pelan, sayang. Kau bisa jatuh sakit jika tak dapat mengontrol amarahmu...” ucap wanita paruh baya itu sembari melirik sinis pada Georgia.
Sang ayah dan istrinya pun pergi meninggalkan ruangan private restoran bintang lima itu bersama para bodyguard yang datang bersamanya. Georgia meneguk kesedihannya sendiri seraya meraup tasnya untuk pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Tatapan kosong menghiasi wajahnya, “Mengapa kau tidak bisa sedikit saja bersikap hangat padaku, Gerald Clayton?”
Meneguk segelas wine dihadapannya, “Mungkin benar bahwa aku bukanlah darah dagingmu...” lirih Georgia dengan air mata yang mengalir.
“Tapi, itu berarti aku juga membenarkan bahwa ibuku seorang peselingkuh. Sialan!” teriak Georgia memukul kepalanya sendiri.
Georgia meninggalkan restoran bintang lima itu dengan langkah gontai. Udara yang dingin diakhir bulan Oktober terasa begitu menyesakkan untuknya, penghujung musim gugur yang begitu sendu seakan menghancurkan dirinya bagai menerima tembakan dari serdadu.
Apakah dirinya harus melakukan apa yang ayahnya pinta tadi?
“Apa yang bisa wanita sepertimu lakukan selain menjual harga dirimu demi sebuah kesepakatan bisnis? Berhenti bersikap sombong dan idealis sementara kemampuamu hanya nol besar!
Apakah yang bisa dia lakukan saat ini hanya sebatas itu?
Sungguh, Georgia sangat membenci jalan buntu yang harus ia temui saat ini. Membuatnya menjadi sosok yang lemah tak berdaya, terlalu naif dan memalukan.