BWV – 11. After We Met

2160 Kata
-Amethyst Branch Office, NY- Tatapannya kosong, langkah kakinya gontai. Georgia tahu bahwa aksi nekatnya untuk bertemu dengan pria angkuh seperti George Timothy memang tak akan membuahkan hasil yang baik. Georgia tak tahu apa yang harus dia lakukan lagi selain menemui Jayden yang kini sedang berada dikantor cabang perusahaannya yang berada di New York. Blam! Hempasan pintu mengiringi Georgia memasuki ruangannya dengan suasana hati yang sangat buruk, dia tak ingin menikah. Tidak benar-benar ingin menikah dengan pria berhati dingin itu, tapi sang ayah akan menghakiminya jika dia tak berhasil menjadi istri CEO muda pewaris Gremlin Group itu dan Amethys Group berhasil di akuisisi penuh olehnya. Dirinya akan tercatat sebagai pemimpin terakhir Amethyst Group yang menghancurkan perusahaan tersebut. Dia seorang pewaris wanita yang tak berguna dan gagal. “Mengapa hidupku seperti ini? Fiuh…” gumam Georgia menghembuskan napasnya kasar setelah tubuhnya terhempas pada kursi dibalik meja kerjanya itu. Chief Executive Officer/ CEO Amethyst Group, Georgia Clayton. Papan nama yang terletak dimeja hanya seperti sedang menertawakan dirinya yang lemah dan tak berdaya saat ini. Sungguh sangat memalukan… “Kau menginginkan pernikahan bisnis ini demi mempertahankan perusahaanmu tanpa berpikir bahwa pernikahan bisnis ini seperti kau menjual tubuh mu demi lembar saham kepemilikan. Apa hanya itu yang bisa kau lakukan saat ini?” Tanpa dapat ditahan lagi, dia membiarkan air matanya jatuh. Bagian terlemah dari dirinya yang terkadang sulit untuk bersembunyi kala hatinya lelah. Georgia menendangkan kakinya hingga kursi kebesarannya itu berputar. Kepalanya mendongak, bersandar pada keputusasaan, apakah yang dia lakukan telah benar? Benar dan salah itu perkara yang sangat relatif, bukan? Tangis hadir sebagai wujud hatinya yang meringis nyeri dalam ketidakmampuan, dirinya yang sudah tak tahu lagi bagaimana caranya membuat George mengubah keputusannya dan menerima pernikahan bisnis serta penggabungan perusahaan mereka. Georgia terkesiap saat kedua tangan kokoh memeluk pundaknya, merangkul dirinya yang rapuh. Namun, tangisnya malah semakin kuat saat pria itu mengecup dahinya. “Kau wanita yang kuat, Georgia. Kau pasti sanggup melewati semua ini…” ucap Jayden membuat Georgia menggeleng samar. “Sudah tak ada jalan lagi, Jayden. Aku sudah benar-benar sangat hancur. Aku telah menghancurkan semuanya…” lirih Georgia terisak dalam tangisnya. “Menangislah, setelah ini kita akan memikirkan apa kau akan kembali ke London ataukah melarikan diri dari semua ini. Kau berhak menentukan apa yang ingin kau lakukan saat ini, Georgia...” ucap Jayden memberikan masukan yang sama seperti sebelumnya. Georgia bisa pergi meninggalkan semua ini jika dia tidak sanggup dan Jayden sanggup menemaninya kemanapun. Dalam tangis, Georgia hanya terdiam menikmati dekap hangat tubuh Jayden yang selalu ada untuknya. Perlahan ia melepaskan diri dari dekapan itu, berusaha untuk menata hati dari semua rasa sakit yang ada. “Rasanya aku ingin menyerah, tapi aku tak ingin lari dari masalah. Jika dia berkeras untuk mengakuisisi penuh Amethyst Group maka aku akan menawarkan diri sebagai seseorang yang mampu membantunya. Jabatan apapun di perusahaan itu, aku akan berjuang untuk memperbaikinya dan mempertahankan citra diriku...” ucap Georgia membuat Jayden kini hanya dapat memijat pundaknya. “Aku rasa lebih baik kau memperjuangkan penggabungan perusahaan dan pernikahan bisnis itu, Gerald tidak akan membiarkanmu bekerja membantunya sebagai bawahan setelah dia mengakuisisi Amethyst Group. Gerald akan semakin mencecarmu dan mengatur hidupmu. Bisa-bisa dia memintamu untuk menikah dengan pemimpin perusahaan besar lainnya demi mendapatkan saham kepemilikan. Kau tahu betapa gilanya Gerald akan hormat...” desis Jayden membuat Georgia memijat kepalanya yang terasa sangat pening. “Jadi, maksudmu jika aku gagal menikah dengan putra pemilik Gremlin Group maka akan ada perjodohan lainnya?” tanya Georgia membuat Jayden mengangguk samar. “Jika kau tidak pergi meninggalkannya, maka kau akan terus menjadi alat untuk mempertahankan kehormatannya. Dia sangat dekat dengan Vladim Mordashov, pemilik perusahaan tambang batu mulia terbesar dunia dari Rusia. Mungkin dia akan menawarkanmu sebagai istri kedua Vladim yang sampai sekarang belum memiliki keturunan.” jelas Jayden yang sangat tahu langkah Gerald selanjutnya. “Semakin aku mengenal ayahku sendiri, hidupku terasa seperti boneka penyelamat hidupnya...” desis Georgia kini merasa telah kehabisan kata-kata. “Jika kau tak sanggup meneruskan perusahaannya, maka kau harus melahirkan seorang penerus perusahaan besar yang mampu mengharumkan namanya di dunia bisnis. Gerald Clayton sangat berambisi untuk sebuah nama baik akan kekuatannya.” “Aku tak tahu apakah aku bisa meyakinkan George untuk menerima pernikahan ini. Sesungguhnya aku tak bisa menikah dengan seorang pria yang telah merendahkanku...” ucap Georgia kini tak mampu lagi menyimpan semua cerita memalukan itu sendiri. Jayden menghembuskan napasnya berat, “Georgino bahkan menginginkanmu menjadi menantunya, dia melihat dengan baik keuntungan dari pernikahan bisnis ini. Namun, Edward berkata sangat sulit mengubah prinsip George jika sedang mencintai seorang wanita. Tapi biarkan saja George melakukan pertemuan dewan itu dan dia akan tahu bagaimana sulitnya untuk mempertahankan perusahaan besar yang telah lama bekerja sama dengan Amethyst Group jika dia melakukan akuisisi. Kau bisa kembali menawarkan dan lebih menunjukkan keuntungan yang akan dia dapat dari pernikahan dan penggabungan perusahaan itu...” ucap Jayden membuat Georgia kini memikirkan segalanya. “Jadi, untuk sementara waktu, apakah kita akan menetap disini atau kembali ke London?” tanya Georgia membuat Jayden mengangguk samar. “Bersembunyi disini jauh lebih baik daripada menghadapi tekanan ayahmu di London. Lagipula tak banyak yang dapat kita lakukan disana semua pekerjaan sedang berjalan sudah mendekati akhir dan tidak ada penawaran proyek terbaru. Kelesuan Amethys Group sudah terasa sangat kentara...” ucap Jayden membuat Georgia mengangguk samar. “Bagaimana jika George berhasil dengan rencana akuisisinya?” tanya Georgia. Jayden kini hanya dapat menggeleng, “Saham perusahaan kian merosot tajam, produksi alat berat sudah semakin menipis karena terhambat bahan baku. Ada empat perusahaan yang telah lebih dari 50 tahun bekerja sama, kini sedang dalam pertimbangan menghentikan kerja sama. Dengan kata lain, akuisisi hanya dapat menghancurkan kedua belah pihak. Gremlin Group sebagai pemegang saham terbesar dan Amethyst Group sebagai pemilik.” Jelas Jayden membuat kini Georgia menegang dengan berbagai macam pikiran yang memenuhi kepalanya. *** -Gremlin Group- “Dad, apa maksudmu akan menghancurkan Resor untuk membangun hotel di Bali?” tanya George begitu memasuki ruangan ayahnya dengan penuh amarah. “Resor pribadi itu kudirikan untuk keluarga kita berlibur, tapi sepertinya tempat itu telah beralih fungsi menjadi tempat tinggal kekasihmu...” ucap Georgino datar. “Kau membatalkan sepihak pembelian apartemen untuknya, padahal aku ingin membeli apartemen dengan uangku. Sekarang kau ingin menggusur tempat tinggalnya di Resor saat aku tak berada disana, mengapa kau licik sekali?” tanya George mengukir senyum diwajah senja ayahnya. “Semua uang yang kau hasilnya juga uangku, George. Selama kau masih bekerja di perusahaanku, uang yang kau dapat adalah uangku. Orang kepercayaanku telah mengirim surat padanya untuk pindah dalam kurun waktu 1 minggu, aku tidak sepenuhnya berlaku kejam padanya...” “Stella sudah tak memiliki tempat tinggal. Dia juga tidak memegang banyak uang, mengapa kau begitu kejam mengusirnya dari hidupku dengan cara ini! Aku akan kembali ke Bali sekarang!” teriak George tak mampu menahan amarah dan rasa bimbangnya saat ini. “Saat kau sampai di Bali, kau hanya dapat menemukannya di dalam sel tahanan!” seru Georgino penuh ancaman. “Kau sudah tidak waras, Georgino!” bentak George membuat ayahnya menatap tajam kearahnya. “Entah akan berada di sel tahanan atau sudah di deportasi lebih tepatnya. Jika kau ingin dia aman, maka lakukan pernikahan bisnis ini dan berhenti mempermalukanku, George!” tegas Georgino membuat George kini membeku dihadapannya. “Kau harus menjamin dia memiliki kehidupan yang layak disana, maka aku akan melakukan pernikahan ini...” “Aku menginginkan pernikahan yang sebenarnya, George. Bukan hanya formalitas untuk penggabungan perusahaan. Jika kau memilih menikah dengan Georgia, lupakan Stella dan aku akan menjamin kehidupannya di Bali.” Tegas Georgino membuat George meninggalkan ruangan itu tanpa kata. Raut wajah kusut George disambut oleh Edward sang pembawa berita tentang Stella, “George, jadi bagaimana?” tanyanya mengikuti langkah George yang jelas sedang tak ingin berbicara. “Tolong atur pertemuanku dengan Georgia Clayton...” ucap George disela langkahnya. “Apa? Kau ingin menikah dengannya?” tanya Edward bersambut dengan bantingan pintu ruangan George. Blam! “George, kau nyaris mematahkan hidungku!” teriak Edward memukul pintu tersebut. Sementara di dalam sana George menghempaskan tubuhnya pada sofa empuk diruangannya sembari menarik dasinya kasar. “Sialan...” desis George frustasi. “Hei, kau harus menjawab pertanyaanku, George. Apakah kau ingin menerima pernikahan bisnis itu?” tanya Edward membuat tatapan tajam George menghunusnya. “Apalagi yang bisa kulakukan selain menuruti keinginannya? Kau jelas mengetahui semua rencananya, jangan pura-pura berpihak padaku...” desis George kesal menatap anjing perusahaan yang menjilat kesana kemari itu dengan jijik. “Kau seharusnya menjaga ucapanmu, George. Apa kau pikir aku dapat mengetahui semua hal yang direncanakan ayahmu?” tanya Edward membuat George menghembuskan napasnya kasar. “Aku harus menemui wanita sialan itu untuk membentuk sebuah perjanjian pranikah yang saling menguntungkan...” desis George membuat Edward mengerutkan dahinya. “Bukankah Georgino juga menekankan kepada Georgia bahwa dia tidak ingin pernikahan bisnis ini hanya sebuah formalitas untuk mencapai kesepakatan kerjasama? Dia pasti tidak mengizinkan kau membuat kesepakatan perjanjian pranikah sebagai pegangan untuk perceraian kalian nanti.” “Aku sedang tak membutuhkan izin darinya, Ed. Dia tak akan pernah tahu jika kau tak memberitahukannya.” ucap George jelas mengandung ancaman. “Aku bukan anjing perusahaan yang menjilat sana sini, George! Aku menghormati ayahmu dan aku selalu mendukungmu karena persahabatan kita...” desis Edward membuat George menghembuskan napasnya kasar. “Atur pertemuan kami secepatnya...” ucap George membuat Edward menggeleng samar. “Terlalu terburu-buru juga akan membuat ayahmu merasa kau tidak serius memikirkan pernikahan ini, George. Kau hanya ingin melindungi kekasihmu dan berencana membuat kesepakatan dibelakangnya...” ucap Edward memberi masukan. George mengangguk mengerti, “Baiklah, berarti Jumat nanti atur pertemuan kami. Setelahnya atur kunjunganku ke London untuk pertemuan makan malam dengan Gerald Clayton. Kunjungan ke Amethyst Group hari Senin depan. Aku akan mengumumkan rencana penggabungan perusahaan dengan ikatan pernikahan bisnis melalui rapat dewan.” ucapnya mantap membuat Edward bertepuk tangan. “Waah, kau benar-benar sangat bersemangat melakukan segalanya...” puji Edward membuat George berdecak pelan. “Jangan kau beritahukan hal ini lebih dulu pada ayahku, aku ingin lihat sejauh mana dia menjamin bahwa hidup Stella baik-baik saja...” ucap George membuat Edward mengerutkan dahinya. “Apakah kau tidak menghubungi kekasihmu?” Menggeleng samar, “Semakin terhubung, aku akan semakin tak bisa jauh darinya. Aku akan kembali dengannya setelah semuanya berjalan lancar...” ucap George pelan. “Jadi, kau berniat meminta perceraian setelahnya?” tanya Edward membuat George menganggukkan kepalanya. “Aku rasa setahun sudah sangat cukup untuk menyukseskan restrukturisasi pasca penggabungan perusahaan. Lima bulan setelahnya, kami harus bercerai...” desis George membuat Edward tertegun sejenak. “Itu berarti akan menjadi pernikahan yang sangat singkat, George. Kau akan menyakiti hati orangtua kalian dan juga istrimu...” “Tidak ada cinta diantara kami, Ed. Pernikahan ini hanya untuk menguntungkan satu sama lainnya. Kami berhak bercerai setelah kepentingan itu telah tercapai, bukan?” tanya George membuat Edward hanya dapat mengangguk samar. Jelas keinginan Georgino tidak seperti itu, tapi kembali lagi dengan kenyataan bahwa memang George yang memiliki keputusan atas hidupnya. “Semoga Georgia Clayton menyetujui keinginanmu...” ucap Edward membuat George menghembuskan napasnya kasar. “Dia harus menyetujuinya jika ingin menikah denganku...” ucap George dengan senyuman licik yang terukir diwajah tampannya. *** Beberapa hari telah berlalu setelah pertemuannya dengan George yang berakhir tidak mengenakkan hatinya. Georgia kini hanya menghabiskan waktunya hanya untuk ke kantor cabang mengikuti rapat kerja bersama staf kantor pusat melalui daring. Berakhir menikmati petang yang melelahkan di Southampton. Georgia semakin tak mengerti apa yang sedang dia tunggu di New York. “Besok aku akan menemuinya dan jika dia tetap menolak, aku akan kembali ke London.” ucap Georgia menyatakan keputusannya. Jayden yang sibuk dengan berkas-berkas yang ia kerjakan seketika berhenti, “Kau benar-benar ingin kembali ke London?” tanyanya. Mendengus kesal, “Mau sampai kapan aku berada disini dan menunggu hal yang tidak pasti. Jika dia tetap menolak, berarti aku harus menerima apapun keputusan yang Gerald berikan nanti. Hidup harus tetap berjalan, bukan?” tanya Georgia bersambut dengan ketukan pintu kaca ruang bersantai yang menghadap ke pantai itu. Salah satu keamanan yang menjaga pintu gerbang Vila datang dengan sebuket bunga mawar merah ditangannya. Georgia dan Jayden kini saling tatap, lalu Jayden berinisiatif untuk membukakan pintu. “Bunga dari siapa, Harry?” tanya Jayden. “Kiriman dari Gremlin Group untuk Ms. Clayton...” ucap pria bertubuh tinggi besar itu membuat Jayden menyambutnya dalam kebingungan. “Pasti Georgino menyatakan permintaan maaf padaku, sudahlah sepertinya kita harus kembali ke London besok...” ucap Georgia kini merasa tak ingin lagi berharap. “Bunga untuk permintaan maaf dan undangan makan malam, aku harap kau mau meluangkan waktu besok. Hubungi aku mengenai persetujuanmu. George Timothy...” ucap Jayden membaca secarik kertas ucapan yang terselip disana dengan nomor ponsel yang tertulis disana. Georgia menutup mulutnya tak percaya, “George mengirim bunga itu untukku?” tanya Georgia membuat Jayden mengangguk samar. “Sepertinya dia berubah pikiran...” ucap Jayden membuat Georgia berkedip dalam rasa tidak percaya. Apakah benar kini George Timothy telah berubah pikiran dan menerima pernikahan bisnis dengannya? Jika ini mimpi, Georgia tak ingin terbangun sebelum pernikahan dan penggabungan perusahaan mereka menjadi kenyataan...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN