Southampton, New York.
-Clayton’s Vila-
Telah beberapa hari Georgia melarikan diri dari intervensi ayahnya dengan kembali ke Vila bersama Jayden setelah perdebatan panjang mereka, sampai hari minggu kemarin dia mendapatkan kabar bahwa ayahnya telah kembali ke London.
“Apakah kau yakin akan pergi menemuinya hari ini?” tanya Jayden membuat Georgia mengangguk samar.
“Dia tak pernah membalas surel, namun Edward mengatakan dia selalu datang ke kantor setiap harinya. Dengan gilanya besok lusa dia masih berniat berkunjung ke Amethys Group untuk melakukan rapat dewan…” ucap Georgia merasa kesal dengan tabiat pria arogan itu.
“Sepertinya dia benar-benar berkeras untuk mewujudkan rencana akuisisi itu agar tak perlu menuruti ayahnya untuk pernikahan bisnis ini. Namun, aku yakin kau pasti bisa meyakinkannya…” ucap Jayden membuat Georgia tersenyum menghela napas panjang.
“Persiapkan penerbangan ke Gremlin Group. Aku akan bersiap…” ucap Georgia meninggalkan meja makan itu.
“Apakah kau ingin kutemani, Gia?” tanya Jayden memastikan.
Georgia menggeleng samar, “Tidak, biarkan aku pergi sendiri dan memastikan semuanya...” ucap Georgia membuat Jayden hanya dapat menghela napasnya kasar.
Jayden kini merasa tidak tega jika harus melihat Georgia mengemis pada pria itu, tapi dia sangat tahu hanya ini jalan yang Georgia miliki untuk mempertahankan perusahaannya.
***
-Gremlin Group-
Pria berambut pirang itu kini berada diruangan CEO yang telah lama dia tinggalkan, dia sedang sibuk mempelajari setumpuk berkas-berkas Amethys Group untuk pertemuan rapat dewan yang dia minta besok lusa.
Konsentrasinya nyaris terpecah saat pintu terbuka tanpa suara ketukan sama sekali, George mendengus saat menyadari kehadiran ayahnya.
“Jika kedatanganmu hanya ingin membahas hal yang sama, maka aku tidak ingin lagi mendengarnya” tegas George membuat ayahnya tertawa pelan.
“Kau memang selalu serius jika ingin memecahkan suatu masalah, George. Namun, kau juga harus percaya bahwa rencana akuisisimu ini akan gagal. Amethyst Group memiliki pengaruh besar di London. Begitu kau melakukan rapat dewan, pasti akan banyak investor dan klien yang menarik investasi dan kerjasama mereka…” ucap Georgino menyadarkan George bahwa yang dia lakukan adalah hal yang percuma.
“Aku bisa meyakinkan mereka untuk bertahan dan merestrukturisasi perusahaan itu hingga kembali stabil…” ucap George penuh keyakinan akan keinginannya.
“Coba saja, jika kau gagal maka semuanya akan hancur tak bersisa…” ucap Georgino tampak meremehkan George.
“Aku akan membuktikannya…”
“Jika setelah rapat dewan banyak perusahaan yang menarik kerjasama dengan Amethyst Group. Maka kau harus menyerah dan menerima pernikahan bisnis ini.”
“Dad…” desis George jelas kini terpancing amarah.
“Aku tidak ingin membiarkanmu menghancurkannya, George!” bentak Georgino menegaskan semuanya.
George mendengus kesal, “Jika kau sudah selesai, lebih baik kau tinggalkan ruangan ini. Aku masih perlu mempelajari semuanya…” ucapnya meminta pengertian sang ayah.
“George, ingatlah meskipun kau menyukseskan akuisisi Amethyst Group, aku tetap tak akan membiarkanmu bersama Stella. Kau tahu betul apa yang bisa kulakukan terhadapnya…”
“Jangan sentuh dia, Dad!” teriak George tak mendapatkan tanggapan apapun dari ayahnya yang meninggalkan ruangannya tanpa kata.
“Sial…” desisnya melanjutkan konsentrasi membaca berkas-berkas milik Amethyst Group.
***
Georgia menghembuskan napas gugup begitu sampai di gedung perkantoran Gremlin Group. Rasa gugupnya saat ini melebihi rasa gugup saat pertama kalinya dia datang menemui Georgino minggu lalu.
Kedatangannya yang kini tak di dampingi oleh Jayden disambut hangat oleh Edward Collins.
“Apakah tidak masalah jika aku datang tanpa meminta persetujuan darinya?” tanya Georgia membuat Edward tersenyum tanpa beban.
“Kau datang atas izin dari ayahnya. Jadi, kau yang menang…” kelakar Edward membuat Georgia kini turut tersenyum.
“Jangan gugup, George memang menyebalkan tapi kegigihanmu pasti dapat membuatnya luluh, Georgia…” ucap Edward membuat Georgia mengangguk samar.
“Aku harap begitu…” ucap Georgia seiring dengan denting lift yang mengiringi pintu besi itu terbuka.
“By the way, namamu dan George seperti saudara kembar. Sungguh kebetulan yang sangat lucu…” komentar Edward membuat Georgia hanya dapat tersenyum.
Edward mempersilahkannya untuk keluar dan mengantarkannya ke ruangan CEO yang berada diruangan yang sama dengan pertemuan pertamanya bersama Georgino.
“Ketika dia kembali, ini memang ruangannya dan Mr. Timothy kembali bersantai diruangan Presdir maupun dirumahnya…” kelakar Edward lagi-lagi mampu membuat Georgia tertawa.
Edward mengetuk pintu dan membukakan pintu tersebut untuk Georgia, “Masuklah…”
“Terima kasih, Edward…”
Georgia melangkah gugup memasuki ruangan itu. Senyap menghiasi ruangan kerja yang terlihat begitu luas, mewah, elegan dan tertata dengan rapi. Namun, terlihat sedikit lebih redup dari kunjungan sebelumnya. Ruangan kerja yang terdapat di lantai 45 gedung pencakar langit itu terasa begitu nyaman dengan teduhnya langit pemandangan di musim gugur Kota New York.
Dimeja kantor yang di d******i dengan kayu pilihan dan kristal yang mewah itu, terdapat papan nama yang terbuat dari batu granit dengan lapisan kaca terukir yang jelas tulisan emas.
Chief Executive Officer, George Timothy.
Mata hijau daun yang teduh itu berkedip dibalik kacamata yang membingkai wajah tampannya, hingga gerak perlahan bulu mata lentik itu menyapu kaca. Hidung bangir yang terpahat indah seolah bersatu padu dengan pahatan tulang pipi yang terlihat sangat pas dengan bingkai rahangnya yang kokoh. Bibir tebal berwarna merah muda itupun seolah menjadi pelengkap untuk sebuah kata sempurna. Ya, ketampanan yang sempurna.
Georgia terpaku hingga tak dapat lagi melangkah, menatap pria berjas abu-abu yang memakai dasi berwarna merah marun itu. Tak salah gelar George Timothy miliki dari beberapa artikel yang ia baca di internet sebagai CEO muda, tampan dan berbakat yang memiliki tampilan yang begitu teduh dan kharismatik dengan rambut pirang emasnya.
Rahang pria itupun lantas mengeras begitu langkah kakinya kian mendekat, “Aku tak mengerti apalagi yang Dad inginkan melaluimu, Gween!” bentak George tanpa ingin mengetahui siapa yang kini berada didepan meja kerjanya.
“Sayangnya aku bukanlah Gween, Mr. CEO…” ucap Georgia diiringi dengan ketukan sepatu haknya yang angkuh.
Mengangkat kepalanya, “Apa yang membawamu kemari? Apakah penolakanku malam kemarin belum cukup kuat menamparmu, Miss Clayton?” tanya George jelas mengandung sindiran.
Georgia tersenyum sinis tanpa beban, “Aku ingin kau menerima kesepakatan yang menguntungkan bagi masa depan perusahaan kita…” ucapnya to the point.
Tersenyum tak kalah sinis, “Sudah kukatakan padamu, aku tidak tertarik pada pernikahan. Apalagi denganmu.” tegas George dengan nada kelam.
Menekan amarahnya dengan sebuah senyuman yang jelas palsu, “Aku bisa menjadi rekan yang baik untukmu, lagi pula apa salahnya menuruti keinginan orangtua kita?” tanya wanita cantik itu membuat George menatap padanya penuh pertimbangan.
“Bagaimana ya?” ucap George berdiri dari duduknya, menatap wanita cantik berambut pirang gelap itu dengan penuh penilaian.
Wanita berusia 29 tahun itu terlihat sangat cantik dan menarik dengan mata abu-abu yang indah seperti anak anjing, dia matang, pintar, namun perangai angkuh nan sombongnya sungguh tidak menyenangkan. George sangat tidak menyukai wanita yang penuh ambisi dalam memimpin perusahaan.
“Kau bukan tipe ku, Nona…” ucap George membuat Georgia meneguk ludahnya kasar atas penolakan terang-terangan pria itu.
“Aku tahu tipe wanita yang kau sukai memang tidak lebih cantik dariku…” cibir Georgia berusaha tidak terlihat kalah.
George mengulurkan tangannya mengangkat rambut Georgia yang tergerai. Kini dia mengingat dimana mereka bertemu, sebuah kedai kopi langganannya.
“Sebegitunya kau menginginkanku sampai mengikutiku ke kedai kopi dihari pertamaku kembali ke New York…” ucap George dengan senyum meledek membuat Georgia mengumpat dalam hati.
“Kau terlalu percaya diri, Tuan. Aku berada disana setelah berkeliling di pusat perbelanjaan. Bagaimana bisa kau berpikir bahwa aku mengikutimu?” tanya Georgia menepis tangan George dan membenarkan rambutnya.
George tahu wanita itu memiliki muslihat untuk mengembalikan kekuatan perusahaannya dan memegang penuh kendali jika penggabungan perusahaan mereka terjadi. Melalui pernikahan bisnis yang dia tawarkan ke ayahnya, wanita itu pikir semuanya akan berjalan sesuai dengan rencananya.
“Mengapa kau begitu tertarik dengan pernikahan ini?” tanya George dengan senyum meremehkan.
Georgia tersenyum sinis seraya duduk dihadapan pria itu, “Sebenarnya aku tidak begitu menginginkannya, siapa yang mau dengan pria angkuh dan menyebalkan sepertimu? Kau bahkan tidak tahu caranya mempersilahkan seorang wanita untuk duduk terlebih dahulu.” ucapnya seraya bersedekap.
“Well, pada kenyataannya kau sudah duduk tanpa di persilahkan. Seperti kau datang tanpa di undang…” ucap George sarkas sembari menutup map dihadapannya.
“Ayahmu yang mengizinkanku untuk bertemu denganmu, sepertinya Georgino sangat pusing memikirkan putranya yang keras kepala hingga menimbulkan banyak gosip buruk terhadap nama baik keluarganya…” cibir Georgia membuat George tersedak oleh tawanya.
“Kau pikir kau adalah wanita yang paling sempurna. Lihatlah, setelah penolakanku dihadapan orangtua kita, kau datang sendiri untuk menawarkan diri tanpa di pinta.” ucap George terkekeh geli.
Bukan sisi humoris yang tampak, melainkan tawa yang begitu dominan dengan rasa muak.
Georgia kini mati-matian menahan diri agar tidak menjambak rambut pria sialan itu. Lalu memukul wajah tampannya dengan tinjuan hingga gigi pria itu patah dan mencakarnya sampai wajahnya tak berbentuk.
Menghembuskan napasnya kasar, “Aku hanya ingin memberi solusi untukmu mengakhiri masa lajang dengan terhormat dan menghapus semua rumor burukmu dengan berita pernikahan serta penggabungan perusahaan kita. Aku Georgia Clayton, putri Amethyst Group. Tempat dimana perusahaanmu ini memanen keuntungan dari pembelian dan penyewaan alat berat yang kami produksi untuk pembangunan dan pertambangan dari seluruh penjuru dunia.” ucap Georgia membuat George tersenyum sinis.
“Apakah saham 50% milikku sangat berarti untukmu, wanita terhormat? Kau sepertinya melupakan fakta bahwa dalam 2 tahun ini kau nyaris membuat perusahaanmu bangkrut. Beruntung Gremlin Group menutupi semua masalah keuangan yang ada…” ucap George membuat hati Georgia semakin panas ingin menendang kepalanya.
Tersenyum kecut, “Kau sudah memiliki begitu banyak saham dari berbagai macam perusahaan pembangunan terbesar, termasuk kepemilikan saham 50% perusahaanmu ini dan juga perusahanku. Apa salahnya kau berbagi untuk sesuatu hal yang sangat berarti bagi orang lain?” tanya Georgia membuat pria itu lagi-lagi tertawa geli.
Georgia membuang napasnya kasar, “Lagipula, aku tak memintanya secara instan. Aku hanya meminta kau menerima penggabungan perusahaan dan pernikahan denganku untuk memperbaiki keadaan secara cepat. Kau juga mendapatkan keuntungan yang sama untuk memperbaiki citra dirimu sendiri…” desisnya kesal.
“Keterbukaanmu benar-benar menambah daya tarikmu, Georgia.” ucap George bangkit dari duduknya, kemudian mengusap wajah cantik itu hingga berakhir menarik dagunya.
“Tapi sayang, aku tak menyukai wanita sepertimu…” ucap George seraya melepaskan dagu wanita itu hingga umpatan keluar dari mulut manisnya.
“Dasar pria terkutuk!” teriak Georgia membuat mata hijau yang teduh itu berubah tajam dalam tatapan takjub.
Berdiri seraya menolak d**a bidang itu dengan telunjuknya, “Kau pikir aku menyukai pria sepertimu, heh?!” George mundur selangkah dengan tolakan jemari lentik itu.
“Kau itu hanya pria yang beruntung karena terlahir sebagai penerus Gremlin Group yang berjalan stabil atas kerja keras ayahmu! Kau tidak memiliki apapun selain semua kesombongan dari otak dungumu itu! Jika tidak karena keinginan ayahku, aku tak mungkin datang mengemis pada pria tak tahu diri sepertimu!” teriak Georgia kini meledak seperti bom yang telah kehabisan waktu.
“Georgia?” tanya George membuat Georgia berkedip seraya mengumpat dalam hati.
Andai saja, semua kata-kata itu dapat dengan lantang dia ucapkan. Sialan, nyalinya belum sehebat itu untuk bertingkah bar-bar dan mempermalukan dirinya sendiri…
“Apakah kau sudah selesai?” tanya George membuat Georgia menggelengkan kepalanya.
Tersenyum seraya menganggukkan kepalanya, “Aku pikir kau akan mengumpat lebih banyak kepadaku…”
“Eoh?” tanya Georgia bagai i***t yang sedang tertangkap basah.
“Jika kau tidak menyukai pria sepertiku, mengapa kau ingin menikah denganku?” tanya George dengan alis terangkat sebelah.
Berdecak pelan, “Sebagai putri tunggal dari perusahaan yang kini akan kau akuisisi, apalagi yang bisa kulakukan selain menawarkan diri untuk menikah denganmu demi perusahaanku?” tanya Georgia membuat George menatapnya semakin kelam dan penuh intimidasi.
“Pernikahan bisnis seperti kau menjual tubuhmu demi lembar saham kepemilikan?” tanya George membuat wanita itu membuang napas sekaligus pandangannya.
“Lupakan saja, maaf telah lancang mengganggu waktumu yang sangat sibuk. Rasanya percuma jika terus meminta dan berdebat padamu seperti pengemis tak tahu diri!” ucap Georgia sarkas seraya memutar tubuhnya untuk pergi.
“Jika kau sudah sadar telah berbuat lancang, bukankah ada harga yang harus kau bayar?” tanya George membuat langkah Georgia terhenti sejenak.
Menghentakkan kakinya kesal, “Kau bisa mengirim tagihan kepada sekretaris pribadiku. Tolong lupakan kedatanganku hari ini…”
Georgia melanjutkan langkahnya dengan hati yang terasa sesak. Mungkin dirinya sudah gila hingga mendatangi kantor pria sombong yang sudah jelas-jelas menolak perjodohan mereka kemarin.
Ya, dirinya memang sudah benar-benar gila demi mempertahankan perusahan ayahnya…
“Memang sudah nasibku harus menjalani kesialan seperti ini, memiliki seorang putri yang bahkan tak mampu melakukan apapun. Mempertahankan perusahaan saja tidak bisa, mengambil hati seorang pria pun tak mampu. Bukankah kata-kata mendiang kakek dan nenekmu, benar? Tidak ada yang bisa diharapkan pada seorang anak perempuan!”
Georgia tersenyum getir seraya menepis air matanya dan menutup pintu ruangan CEO tersebut dengan bantingan kasar.
Blam!
Perkataan ayahnya malam kemarin bahkan kembali terdengar jelas di telinganya, sakit dan hancur saat memikirkan tak ada orang lain yang mengharapkan kehadirannya di dunia ini selain mendiang sang ibu.
-
Blam!
Bantingan pintu membuat sudut bibir George semakin tertarik sempurna, “Eum? Hanya seperti ini perjuanganmu? Rasanya tidak seru…” gumam George menggigit bibir tebalnya gemas.
Membuang napasnya kasar seraya menghempaskan tubuhnya tepat kursi kebesarannya itu, lalu memutarnya hingga matanya bertemu dengan pemandangan kota New York yang begitu sendu seperti tatapan mata abu-abu itu sebelum meninggalkan ruangannya.
Apakah dia sungguh telah menyakiti wanita itu? Apakah dia harus menyerah pada semua tekanan ini termasuk dengan hubungannya bersama Stella? George membuka kembali daftar tiga besar perusahaan dengan pemasukan terbesar dan memiliki loyalitas yang tinggi terhadap Amethys Group. Semua perusahan itu sudah bergabung sejak kepemimpinan kakek Georgia, bahkan salah satunya telah bergabung sejak perusahan itu berdiri.
George kini merasa ragu dengan rencana akuisisi yang akan dia jalani, apakah dia harus menjalani pernikahan ini demi mendapatkan kembali citra dirinya dan nama baik keluarganya dimata publik, yang terpenting adalah kepercayaan ayahnya agar tak mengusik Stella dengan masa lalunya lagi.
Menghela napasnya lelah, “Bukankah setiap pernikahan bisnis akan memiliki perjanjian hitam diatas putih? Setiap orang yang menikah pasti memiliki hak untuk bercerai, bukan?” tanya George dengan senyuman yang terbit.
Menganggukkan kepalanya, “Sepertinya cukup menarik…” gumam George disertai dengan senyuman licik pada wajah tampannya.