Rafael bergegas meninggalkan ruang tamu, berjalan menuju kamar Clara di lantai dua rumahnya. Ibu guru terlihat bingung, mengapa Rafael yang memanggil ibu Clara dan bukan asisten rumah? Tentu saja! Rafael harus meminta sesuatu terlebih dahulu kepada Elvina. Tapi entah mengapa, ia tak merasa pusing. Ia yakin, Elvina dapat bersikap sebagaimana seorang ibu dari anaknya seperti yang biasa Elvina lakukan di rumah.
Tok.. Tok.. Tok..
“Sayang,” panggil Rafael kepada Clara sambil membuka pintu kamarnya.
Rafael melihat Elvina terlihat lucu, rambut panjangnya sedang diikat asal oleh Clara dan Elvina membiarkannya. Saat itu, Elvina sedang mengerjakan tugas kuliahnya, sedangkan Clara asik bermain dengan rambutnya.
Elvina segera menutup laptopnya seraya tersenyum canggung ke arah Rafael yang sedang menahan tawa. “Hm … Pak.” Ia takut jika Rafael akan marah karena bukannya bermain dengan Clara, tapi malah mengerjakan tugas kuliahnya.
“Papa,” sahut Clara, lalu berlari ke arah Rafael dan mengalungkan tangan mungilnya di leher sang ayah. Sementara Elvina, langsung melepaskan karet-karet yang mengikat rambutnya yang seperti sedang diospek oleh ketua OSIS.
“Papa mau bicara sama Mama sebentar, ya?” ucap Rafael meminta izin dari sang putri. Mendengar itu Elvina menatap Rafael bingung.
“Nggak! Mama gak boleh ke mana-mana!” Clara menggeleng antusias.
Rafael menghela napas dan mengembuskannya dengan kasar. Menatap Elvina sekilas, lalu kembali menatap Clara dan berkata, “Sebentar saja Sayang, ya?” Rafael memelas.
Clara diam, memikirkan keputusannya lalu menjawab, “Tapi jangan lama!” pintanya dengan ketus seolah ayahnya akan merebut sesuatu yang berharga darinya.
“Siap, Tuan Putri.” Rafael mengangguk patuh, kemudian meminta Elvina untuk ikut keluar dari kamar Clara.
Dengan langkah pelan, perasaan yang penasaran, Elvina berjalan di belakang Rafael, keluar dari kamar Clara. Setelah menutup pintu kamar Clara, Rafael menatap Elvina dengan was-was seolah ia sedang dalam bahaya.
“Wali kelas Clara ada di bawah. Katanya mau membicarakan tentang Clara, entah apa itu. Kamu bisa temui beliau sebagai ibu Clara? Maksudnya … Ibu Guru sudah tahu Clara mempunyai ibu yaitu kamu dan beliau menanyakan keberadaan kamu,” tutur Rafael ragu-ragu.
“Tentu, Pak.” Elvina mengangguk satu kali, paham yang dimaksud bosnya itu.
Rafael mendesah lega, bersyukur Elvina tidak sulit untuk dimintai bantuan. Pasalnya, ini sangat mendadak. Rafael tak sengaja bertemu ibu wali kelas di sebuah restoran saat Rafael akan pulang dari restoran tersebut setelah menghadiri acara meeting yang diadakan di sana. Ibu wali kelas tersebut mengatakan ingin berkunjung ke rumah Rafael untuk membicarakan suatu hal. Jadi, Rafael mengiyakannya.
“Maaf, panggil saya ‘Mas’ untuk saat ini,” bisik Rafael saat menuruni anak tangga dan tanpa berpikir lagi, ia merangkul bahu Elvina.
“Waduh, Pak!” pekik Elvina sangat risih dengan rangkulan Rafael yang tiba-tiba itu.
Elvina tidak pernah memiliki kekasih, tentu ia sangat tak nyaman jika seorang pria memperlakukannya seperti itu. Terlebih pria itu orang yang ia segani, majikannya sendiri.
“Untuk saat ini saja. Maaf, saya harus melakukannya,” bisik Rafael tak enak tetapi Elvina juga tak bisa berbuat apa-apa selain mengerti dengan situasi ini.
Mereka berjalan menuju ruang tamu, terlihat memang seperti sepasang suami istri. Elvina berjabatan tangan dengan ibu wali kelas Clara, kemudian duduk di samping Rafael. Elvina memang sering bertemu dengannya saat mengantarkan Clara sekolah sehingga ia tak begitu sungkan saat bertemu.
“Apa saya menganggu? Maaf mendadak seperti ini. Saya tidak mungkin ke mari jika Pak Rafael tidak mengatakan bahwa Mama Clara ada di rumah,” ucap ibu wali kelas lemah lembut.
“Tidak sama sekali, Bu. Tapi kalau boleh tau, ada apa? Apa anak saya melakukan kesalahan di sekolah?” jawab Elvina ramah membuat Rafael terpaku kagum. ‘Anak saya?’ batin Rafael tersenyum.
“Tidak Bu, Pak, justru saya ke mari ingin membicarakan perubahan Clara. Jujur, saya sangat senang dengan perubahan Clara yang sangat berbeda sejak bulan-bulan lalu, lebih tepatnya saat Mama Clara sering mengantarkan Clara sekolah.
“Dulu Clara sering sekali murung, tidak ingin bermain bersama teman-temannya, sulit untuk berinteraksi. Tapi sekarang, Clara menjadi anak yang periang seperti anak yang lainnya. Ia begitu semangat untuk belajar juga bergaul bersama teman-temannya.
“Maaf, saya tidak bermaksud untuk ikut campur, tapi saya berharap Mama Clara tetap seperti ini. Semoga hubungan Pak Rafael dan Mama Clara tetap seperti ini. Jangan sampai anak menjadi korbannya.
“Maaf, bukan saya menggurui. Clara anak yang cerdas juga ceria sekarang dan saya harap, Clara akan tetap seperti itu,” tutur ibu wali kelas panjang lebar membuat Rafael dan Elvina mematung, keduanya kikuk berjamaah.
Ibu guru itu mengatakan ‘Semoga hubungan Pak Rafael dan Mama Clara tetap seperti ini', seakan-akan hubungan Elvina dan Rafael sebagai ‘suami-istri’ sempat tak baik.
Namun apa boleh buat, Elvina tetap bersikap sebagaimana seorang ibu Clara tanpa gugup. Ah tidak! Hatinya sangat gugup, akan tetapi Rafael seolah mencari kesempatan untuk lebih dekat dengan Elvina.
Sejak tadi, ia tak henti menebar senyum ke arah Elvina dan menggenggam tangannya, sedangkan Elvina susah payah mengobrol dengan ibu wali kelas Clara dan berbicara normal layaknya seorang ibu.
Setelah cukup lama Elvina berbincang dengan ibu wali kelas, akhirnya ibu wali kelas berpamitan untuk pulang. Dan kini, Elvina bisa bernapas dengan semestinya. Rafael terlihat tak pusing ataupun gugup sedikitpun.
Setelah mengantarkan ibu wali kelas ke depan rumah, Rafael segera menemui Clara di kamarnya sedangkan Elvina masih berada di belakangnya.
“Besok ‘kan kamu libur sekolah, kamu mau pergi jalan-jalan?” tanya Rafael kepada Clara, mengingat esoknya sekolah Clara libur karena ada kegiatan lain.
“Mau, tapi sama Mama.” Clara mengangguk-angguk tetapi memberi syarat diakhir jawabannya.
“Mama ada acara, maaf,” tolak Elvina saat baru saja masuk ke dalam kamar Clara dan ia mendengar percakapan mereka saat masih di luar kamar.
Elvina ingin sekali beristirahat satu hari saja. Tubuhnya sudah lelah dengan tugas kuliah juga menjaga Clara. Elvina berbohong mengatakan bahwa ia ada acara.
“Kalo gitu, aku juga gak mau.” Clara menggelengkan kepalanya seraya menarik-narik dress-nya dengan asal yang terlihat sangat menggemaskan.
“Kita bisa pergi sama yang lain,” ucap Rafael memelas.
“Gak mau kalo gak sama Mama!” Clara sedikit membentak kesal.
“Kalau begitu, kita jalan-jalan di mall aja. Yang dekat aja, ya? Sekalian beli pakaian kamu. Baju-baju kamu udah banyak yang gak muat, ‘kan?” Rafael memaksa tapi dengan cara yang lembut.