Ibu Yang Sesungguhnya?

1031 Kata
“Tapi Mama ikut.” Clara kekeh ingin Elvina ikut bersamanya. Rafael menyerah, jika ia harus memaksa putrinya sendiri, artinya ia juga harus memaksa wanita yang sudah Clara anggap ibu kandungnya. “Bagaimana?” tanya Rafael kepada Elvina. Tatapannya sudah jelas ingin Elvina mengiyakan, memaksa, memohon dan yang lainnya. Yang jelas, sepertinya ia tak ingin mendengar penolakan dari Elvina. Elvina ingin mengatakan tidak, tapi kepalanya malah mengangguk pasrah. Ia tak mungkin menolak keinginan gadis kecilnya itu. “Baik Pak, tapi Vina ada kuliah pagi,” jawab Elvina dengan senyum manisnya yang dianggukkan Rafael, tak masalah dengan itu. “Oke, kita pergi Sore saja,” ucap Rafael kepada Elvina seraya membalas senyum lega. “Sekarang ayo, Papa mau suapin kamu makan.” Rafael menarik tangan Clara dan Clara malah menarik tangan Elvina. “Mama ikut.” Dan itu bukan yang pertama kalinya. Clara memang benar-benar menganggap bahwa Elvina adalah ibunya. Elvina yang notabene cuek dan acuh, hanya mengiyakan tanpa memikirkan perasaan Rafael yang sejak pertama kali ia bekerja, Rafael sering kali merasakan bahwa Elvina memang istrinya yang sudah tiada. Namun, pria itu tak pernah melakukan apapun dan menjaga sikapnya agar Elvina tidak curiga. Jujur saja, Rafael sangat senang dengan kehadiran Elvina. Entah mengapa hatinya yang kosong, terasa terisi kembali dengan sosok wanita yang menjadi pengasuh untuk anaknya. Asisten rumah segera menyiapkan makan siang untuk Clara. Gadis kecil itu memang sedikit sulit untuk makan, hingga hari menjelang Sore, ia masih belum makan juga. Saat Rafael pulang ke rumah, hal pertama yang ditanyakan kepada asisten rumah adalah makan siang Clara. Jika asisten rumah atau Ambar menjawab Clara belum makan, Rafael tak pernah marah kepada mereka, melainkan menyuapi Clara makan dengan kesabarannya yang luar biasa. Sebagai seorang ayah, ia juga berperan sebagai ibu meski tak sepenuhnya ia merawat Clara karena harus bekerja bahkan sering tak pulang selama berhari-hari jika ada urusan bisnis di luar Kota. “Aku gak mau makan ini!” bentak Clara kepada ayahnya, ia menunjuk dengan ibu jarinya ke arah sayuran yang hendak Rafael suapkan. “Clara lupa ya, sama kata-kata Mama? Oke, Mama pulang aja. Mama gak suka kamu teriak-teriak gitu sama orangtua,” ancam Elvina kesal. Clara masih saja menyimpan amarah yang tidak ada yang tahu, amarah apa yang ada dibenaknya. Yang jelas, Clara gadis manja yang kemauannya harus dituruti oleh sang ayah. Gadis itu seperti menyimpan kekesalan di dalam lubuk hatinya, tak segan ia membentak ayahnya hanya karena masalah kecil. Elvina sering kali mengajarinya untuk bersikap lemah lembut, sopan, ramah dan menghargai orang yang lebih tua darinya. Gadis itu patuh, tetapi selalu saja lupa akan apa yang diajarkan Elvina. “Mama …, ” rengek Clara dengan nada gemetar ingin menangis. Rafael hanya menyaksikan dengan tenangnya percakapan anaknya dan wanita yang sudah ia anggap sebagai bayangan istrinya tanpa merasa pusing dengan cara Clara bicara padanya. “Jangan gitu makanya. Sini, Mama yang suapin.” Elvina mengambil alih piring Clara dari hadapan Rafael dengan tenangnya, akan tetapi melempar senyuman agar Rafael tak marah sebagai tanda ucapan maaf karena mengambil alih piring Clara. “Papa, nanti aku ada liburan di sekolah. Mama ikut, ya? Boleh ‘kan, Pah?” Clara meminta izin kepada ayahnya. “Ke mana? Kamu tahu ‘kan Mama sibuk? Jangan paksa Mama. Kamu bisa pergi sama yang lainnya.” Rafael tahu, akan ada pemaksaan dari Clara kepada Elvina. Ia sudah terlalu melibatkan Elvina sebagai ibu Clara yang sesungguhnya. “Ke … berenang,” jawab Clara asal, berusaha mengingat ke mana sekolahnya akan berlibur. “Darajat Pass, Garut,” timpal Elvina tanpa menatap Rafael. Tentu, Elvina lebih tahu kegiatan Clara di sekolahnya. “Lalu? Kamu pasti kuliah, ‘kan?” Rafael ingin memastikan. “Tanggal 28, 29 dan 30 libur. Pak Rafa lupa? ‘Kan tanggal merah,” tutur Elvina membuat Rafael tersipu. Rafael tak memikirkan tanggal merah, tetapi kesiapan Elvina untuk menemani Clara berlibur. Matanya tak henti memperhatikan Elvina yang sedang fokus menyuapi Clara makan. Jika matanya tak akan terasa perih, ia tak sudi untuk berkedip. Namun, Elvina tak tahu jika Rafael memperhatikannya sehingga ia santai-santai saja seperti biasanya. “Oh, ya? Jadi, tanggal berapa Clara berangkat?” tanya Rafael lagi. “Tanggal 28. Clara menginap di sana. Nanti Vina temani Clara, kalo Pak Rafa kasih izin sih.” Elvina tetap fokus memeberikan makanan kepada Clara saat menjawab pertanyaan Rafael. “Kenapa tidak? Kamu ibunya, ‘kan?” Rafael balik bertanya. Sebenarnya, ia kelepasan mengatakan itu. Namun, karena Elvina yang tak punya perasaan, hanya mengiyakan seperti biasanya. Rafael lega, Elvina dapat ikut berlibur karena tanggal merah. Sepertinya takdir sedang merencanakan sesuatu untuk mereka? Sebuah kebetulan Elvina dapat ikut berlibur. “Kamu ajak Bi Ambar, biar kamu gak terlalu capek temani Clara,” pinta Rafael seolah Elvina memang ibunya Clara dan tetap membutuhkan pengasuh lainnya. Lagi-lagi Elvina mengangguk tanpa mengatakan apapun. Lalu, bagaimana dengan Ambar? Ambar bahkan seolah mendukung jika Elvina menjadi ibu Clara yang sesungguhnya. Namun, tentu saja tidak secara langsung Ambar mengatakan itu. Ambar tahu, kesedihan apa saja yang Clara alami. Ia dapat melihatnya sendiri perubahan Clara yang menjadi periang walau manjanya tetap sama. Setidaknya, Ambar tidak memiliki rasa iri yang justru senang karena keinginan Clara mempunyai ibu sudah tercapai meski bukan seorang istri dari ayahnya. Jam menunjukan pukul 17:30. Tiba-tiba Susan, ibu Elvina, menghubunginya saat wanita itu sedang berada di kamar Clara sehingga ia harus keluar dari kamar terlebih dahulu untuk menjawab panggilan sang ibu. “Assalamu’alaikum, Mah.” “Wa’alaikumsalam, kamu sibuk gak? Di mana sekarang?” tanya Susan di sebrang sana. “Ayu di rumah teman, Mah. Ada apa emang Mah?” kilah Elvina yang saat itu masih di rumah Clara. Meskipun ibunya tahu Elvina sering bekerja paruh waktu sejak SMP, tetapi tak mungkin Elvina mengatakan dirinya menjadi seorang pengasuh anak berusia 5 tahun dan saat ini ia masih di rumah majikannya. Terlepas bagaimanapun sikap Susan terhadap Elvina, tetap saja Elvina tak ingin ibunya merasa prihatin atas kekurangan biayanya untuk menutupi kebutuhan hidup. “Mama lagi di rumah temen Mama di Jakarta juga. Kamu bisa ke sini?” tanya Susan lagi, meminta Elvina untuk menyusul ke rumah kerabatnya. Elvina melihat jam di pergelangan tangannya, ia pikir masih banyak waktu untuk bertemu dengan ibunya dan ia pun menjawab, “Boleh, Mah, kirim aja alamatnya.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN