“Ya sudah. Hati-hati, ya? Mama kirim alamatnya.” Susan memutuskan sambungan telepon.
Elvina tahu bahwa ibunya mempunyai kerabat dekat di Jakarta, tetapi ia tidak mengenalnya. Sekarang, Elvina bingung untuk pamit pulang. Clara pasti tidak mengizinkannya. Namun, bukan Elvina namanya jika tak memiliki cara untuk berbohong.
“Sayang, Mama mau ke dapur dulu, ya? Mama haus,” ucap Elvina ingin mengelabui Clara dan gadis kecil itu menganggukkan kepalanya. Elvina bergegas menemui Rafael untuk meminta izin pulang.
“Pak, maaf. Vina harus pulang sekarang, Ibu Vina mau jenguk,” ucap Elvina gugup.
Rafael terlihat bingung, apa yang harus ia katakan kepada Clara jika tahu Elvina meninggalkan rumahnya? “Baik,” jawabnya kemudian sambil mengangguk kecil.
“Tapi Clara gak tau Vina mau pulang, Pak. Tolong kasih tau kalo Vina udah pergi, ya?” pinta Elvina.
Rafael mengerti, putrinya memang keras kepala. Ia berkata, “Biar saya dan Bi Ambar yang tangani Clara.” Rafael memasukan ponselnya ke saku celana dan hendak berjalan menuju kamar Clara.
“Terima kasih, Pak. Vina pamit.” Elvina lalu segera keluar dari rumah Rafael, kemudian memasuki mobilnya.
Mengendarai mobilnya, Elvina mencari-cari alamat yang ibunya kirimkan melalui sebuah chat. Tempatnya cukup jauh dari kediaman Rafael. Elvina hanya bingung, mengapa ibunya baru ingin memperkenalkan dirinya kepada kerabatnya, sedangkan Elvina sudah bertahun-tahun di Jakarta.
Tibanya di alamat tujuan, Elvina merasa alamatnya salah. Ia melihat rumah besar nan megah, lebih tepatnya adalah istana yang sesungguhnya di dunia nyata. Jika dilihat dari pintu gerbang, gambaran rumahnya samar-samar terlihat karena tertutup pohon pinus di sepanjang jalan menuju rumah tersebut. Elvina juga melihat banyak orang yang berjaga di rumah itu. Mereka terlihat sangat tegas berwajah garang. Sebenarnya rumah siapakah ini? Presiden? Perdana menteri? Atau siapa? Elvina tidak menyangka jika ibunya mempunyai kerabat sehebat itu.
Elvina keluar dari mobilnya, tangannya menggenggam ponsel, berjalan ke arah gerbang besar yang menjulang tinggi.
“Anda mencari seseorang?” tanya salah satu penjaga rumah itu dengan suara tegas sambil menghampiri.
Suara anjing-anjing bersahutan, tanda tidak mengenal orang yang kini berada di depan gerbang besar berwarna putih.
“Hm … saya disuruh ke sini … ini alamatnya betul, ‘kan?” Elvina memberikan ponselnya dengan layarnya yang memperlihatkan isi percakapan bersama ibunya.
“Mari saya antar,” ucap penjaga itu tanpa ekpresi apapun.
Gerbang terbuka setelah penjaga yang sedang duduk di dalam sebuah pos, menekan tombol untuk membuka gerbang. Sementara penjaga yang tadi berbincang dengan Elvina, meminta Elvina untuk mengikutinya ke dalam halaman rumah itu. Pria itu kemudian memasuki sebuah mobil yang berada di sana, diikuti Elvina yang juga memasuki mobilnya kembali lalu masuk ke dalam gerbang itu. Ya, saking besarnya halaman di depan rumah itu, hingga dari gerbang menuju rumahnya saja memerlukan kendaraan.
Mobil berhenti tepat di depan rumah dan kini Elvina dapat melihat dengan jelas bentuk rumah yang tadi samar-samar terlihat. Rumah berlantai tiga dengan cat yang hampir sepenuhnya warna putih di bagian tembok, dan hitam di bagian besi-besi tralis di rumah itu. Empat pilar menjulang tinggi yang menambahkan kesan kokoh bangunan itu.
Penjaga yang mengantarkan Elvina turun dari mobilnya, berjalan ke arah pintu besar lalu menekan tombol bel. Sementara Elvina sangat gugup, entahlah. Rumahnya di Bandung juga besar, sangat besar menurutnya. Namun, kini ia berada di rumah super besar dengan halaman yang seperti stadion saja.
Cklek…
Suara pintu terbuka, petugas itu menghampiri asisten rumah yang membukakan pintu. Elvina masih mematung di samping mobilnya seraya menyusuri pandangan ke sekelilingnya yang menakjubkan bagi siapapun, baik itu manusia ataupun jin sepertinya.
“Silakan masuk. Mari saya antar.” Seorang asisten rumah mempersilakan untuk masuk dengan ramahnya.
Elvina merasa tersanjung seperti tuan putri, ia tersenyum kecil mendapat perlakuan yang menurutnya berlebihan. Elvina pun mengikuti langkah kaki asisten rumah itu dan melewati beberapa ruangan. Seketika ia terkagum-kagum melihat desain dan properti di dalam rumah itu.
‘SEMPURNA’ hanya kata itu yang ada dibenaknya. Ia juga melihat beberapa pelayan yang berdiri tegak disisi tembok dengan pakaian hitam putih seperti pada umumnya dan kini ia melihat ibunya berada di sebuah sofa bersama orang-orang yang tidak dikenali olehnya.
Seorang wanita yang sangat cantik, memakai hijab di kepalanya segera menghampiri Elvina yang masih berjalan menuju ke arah ibunya, Susan. Namun, wanita itu menghentikan niat Elvina untuk menyalami ibunya karena wanita itu segera menyapa.
Ia menghampiri Elvina dan menyentuh pipinya dengan lembut sambil berkata, “Ih cantiknya .... ”
Elvina hanya tersenyum manis lalu mencium punggung tangan wanita itu. Setelah itu, Elvina mendekati Susan dan menyalaminya. Tak lupa ia juga mencium punggung tangan seorang pria yang kini Elvina tahu adalah pemilik rumah dan wanita berhijab tadi adalah istrinya. Ia pun duduk di samping ibunya, Susan. Dan Amy ikut duduk bersebelahan dengan Elvina.
“Ay, Tante Amy sama Om Mehmed ini teman Mama sama Papa dari waktu kita masih muda. Dulunya, Om sama Tante ini tinggal di Bandung juga, cuma udah lama pindah ke Jakarta,” ungkap Susan menceritakan tentang kerabatnya itu.
Elvina memang dipanggil Ayu oleh keluarganya. Diambil dari nama kepanjangannya, Ayunindya.
“Mungkin kamu gak ingat. Waktu kamu masih kecil, kamu sering bermain sama Om dan Tante. Bahkan, kamu sering menginap di rumah kami sewaktu di Bandung. Kamu ini sudah seperti putri kami sendiri,” tutur Mehmed yang juga menceritakan kedekatan antar keluarga.
“Sekarang pun tetap sama, Pah. Ayu anak kita dan selamanya anak kita,” tegas Amy memperingati Mehmed dengan raut kesal menatap suaminya. Pandangannya beralih ke arah Elvina, lalu senyum muncul kembali di bibirnya.
“Mama gak nyangka kamu bakal secantik ini. Bayi Mama yang lucu, sekarang sudah dewasa.” Amy tak henti menebar senyum dan menghamburkan pelukan seolah ia sangat merindukan Elvina.
Namun, Elvina benar-benar tak mengenal mereka sehingga ia memutuskan untuk diam mendapat perlakuan manis dari kerabat ibunya itu. Elvina menatap ibunya seolah meminta jawaban atas apa yang terjadi dan siapa mereka sebenarnya?
“Mereka orang tuamu juga, Ay. Mereka yang biayai kamu kuliah di sini,” ungkap Susan dan Elvina membelalakkan matanya tak percaya, ia pikir Susan lah yang membiayai kuliahnya selama ini. Namun, walau bagaimanapun, Elvina sangat berterima kasih kepada Mehmed dan Amy.
“Maaf, kami baru menemuimu, Nak. Papamu ini sakit-sakitan dan harus pulang pergi ke Turki untuk pengobatan, karena dokter Papa ada di sana,” pungkas Mehmed merasa bersalah karena sudah bertahun-tahun Elvina berada di Jakarta, tetapi ia selalu tak sempat menemuinya.
Mehmed dan Amy memang membiayai kuliah Elvina, tapi mereka tidak tahu jika selama ini Elvina harus bekerja untuk menutupi kekurangan biayanya dan Elvina juga tak mungkin meminta lebih. Jika ia tak berani kepada keluarganya sendiri, bagaimana ia berani meminta lebih kepada orang lain walaupun orang itu adalah orangtua angkatnya?