“Terima kasih Om, Tante,” ucap Elvina lembut seraya tersenyum tulus tetapi Amy malah terlihat tak suka.
“Papa dan Mama. Seperti yang dikatakan Susan, kami ini orangtuamu juga,” ucap Amy penuh penegasan dan tak ingin dibantah. Elvina tersenyum canggung sebagai jawabannya.
“Malam ini kita makan malam bersama, ya? Kamu gak sibuk, ‘kan?” Amy kembali tersenyum manis kepada Elvina.
“Nggak kok … Mah,” jawab Elvina singkat, tak lupa dengan senyuman khasnya walau ia merasa canggung menyebutnya dengan panggilan ‘mama’.
Mereka lalu berbincang seraya menunggu para pelayan menyiapkan makan malam. Setelah salah satu pelayan menghampiri dan membungkuk hormat, kemudian mengatakan bahwa makan malam sudah siap, segeralah Mehmed dan Amy membawa Elvina dan Susan menuju ruang makan yang luasnya bisa dijadikan lapangan sepak bola.
Elvina sungguh tak habis pikir, jika saja bermain petak umpet di rumah ini, maka sudah dipastikan tak akan bertemu dengan yang sedang bersembunyi.
“Tunggu sebentar, ya? Anakku belum datang juga,” ucap Amy kepada Susan dengan wajah tak enak karena sudah cukup lama anaknya itu tidak muncul juga.
“Santai aja, My. Kita ‘kan bisa ngobrol-ngobrol dulu.” Susan menepuk punggung tangan Amy, menenangkan kerabatnya.
“Aku penasaran, pasti anakmu tambah tampan aja sekarang,” ucap Susan yang sejak tadi menerka-nerka wajah anak temannya itu.
“Dia jadi dosen sekarang. Memang keras kepala. Padahal, Papanya sudah beberapa kali minta dia buat gantiin posisi Papanya di kantor.” Amy menceritakan sekilas tentang anak satu-satunya.
“Anak keras kepala itu sebenarnya sudah bisa mengendalikan perusahaan, Dafa sudah mendidiknya dengan baik. Hanya saja, anak itu masih saja belum siap. Papa tidak mengerti lagi,” kesal Mehmed menggelengkan kepalanya.
Wajah Amy saat menceritakan anaknya terlihat kesal, sementara Mehmed memasang wajah pasrah seolah tak dapat berbuat apa-apa untuk membujuk putranya agar mau menggantikan posisinya menjadi seorang pemimpin di perusahaannya. Sekian menit membicarakan seorang pria yang merupakan putra satu-satunya keluarga itu, yang dibicarakan tiba-tiba saja muncul dari balik tembok.
“Nah, itu dia datang,” ucap Amy sambil menunjuk ke arah seorang pria yang sedang berjalan mendekati meja makan.
Elvina yang saat itu berwajah tenang, tiba-tiba terlihat kebingungan, firasatnya mendadak tak enak.
“Wah … kamu sudah dewasa sekarang. Tambah ganteng aja nih calon mantu aku,” sapa Susan seraya bangkit berdiri untuk bersalaman dengan pria itu.
Sontak perkataan Susan membuat Elvina dan pria itu mematung di tempat, dengan wajah yang sama-sama terkejut dan bingung.
William Okano Abizard, dosen killer di kampus Elvina yang memiliki wajah blasteran. Ayahnya, Mehmed, berasal dari Turki sedangkan Amy asli dari Bandung.
William lalu menyalami semua orang yang ada di sana. Khusus kepada Elvina, ia menyalami dengan wajah bertanya-tanya seakan-akan meminta penjelasan dan tatapan permusuhan terlihat di hazelnya yang berwarna biru.
Namun, keduanya hanya diam tanpa mengatakan bahwa mereka saling mengenal. Bukan! Tapi saling bermusuhan lebih tepatnya.
Aduh! Pingsan aja kali ya? Eh pingsan dong! Mampus aing! Batin Elvina geram. Apalagi mengingat kedua orangtua William yang membiayai Elvina kuliah, bisa-bisa kadar keangkuhan William meningkat berkali lipat.
“Ayo duduk, kita makan bersama.” Mehmed meminta makan malam segera dimulai dan semua orang yang ada di sana segera patuh dan duduk.
2 orang pelayan wanita mengelilingi meja makan besar berbentuk bundar, menyimpan beragam makanan di piring masing-masing secara bergiliran. Setelah pelayan selesai dengan pekerjaannya, Mehmed mengangkat satu tangannya dengan rendah di udara, segera setelah itu semua pelayan di ruangan itu pergi.
“Hari ini Papa mau kasih kejutan buat kamu, Will.” Suara Mehmed tiba-tiba saja menggema mengatakan itu kepada putranya. Mehmed tersenyum kepada William, senyum yang tak dapat diartikan. Lalu, pandangannya tertuju kepada Elvina, masih dengan senyumnya.
William merasakan ada yang aneh pada ayahnya. Mehmed dikenal sebagai pria yang sangat dingin, wajahnya penuh keangkuhan dan kesombongan. Tidak mudah untuk siapapun berbicara dengannya, termasuk orang terdekatnya sekalipun, terkecuali dengan keluarganya. Tapi, apa ini? Mehmed tersenyum kepada Elvina? Sikap acuh dan kejam bahkan tak tersisa di wajahnya. Sebaliknya, ia terlihat ramah dan tak ragu untuk tersenyum.
William belum sempat bereaksi apapun, Amy segera menimpali, “Will, kamu pasti gak nyangka ketemu temen kecil kamu,” ucap Amy saat menyantap makanannya dengan senyum yang tak dapat diartikan.
William hanya memandang bingung dengan pernyataan ayah dan ibunya. Wajahnya yang dingin, tertuju kepada wajah Elvina yang menegang. Mana mungkin teman kecilnya itu adalah Susan, bukan?
“Ini Ayu, Will. Kamu masih ingat, ‘kan? Dulu waktu kamu kecil, kamu sering gangguin dia kalo lagi tidur,” ungkap Mehmed sambil menatap Elvina lalu tersenyum ke arah putranya.
William termenung, mengingat bayi kecil yang selalu ia ajak bermain saat kecil. Jantungnya berdegup kencang, ia lalu menatap Elvina tak percaya. Bayi kecil itu adalah Elvina? William tak pernah menyangka itu.
Saat keluarga Abizard masih tinggal di Bandung
“Mah, Ayu nangis Mah!” teriak William yang saat itu masih di ujung tangga agar Amy mendengar.
Bocah laki-laki itu terus meraung memanggil ibunya, tak peduli dengan kakinya yang sedang terluka akibat jatuh dari sepeda. Amy yang saat itu sedang duduk dengan santai di ruang keluarga, segera berdiri dan berjalan ke arah tangga. William berlari dengan langkah terjingkat-jingkat, mendekati ibunya yang memasang wajah kesal.
“Ayu nangis? Pasti kamu ganggu tidurnya, ‘kan?” gerutu Amy lalu segera berlari kecil untuk memeriksa bayi kecil yang sedang menangis itu. William mengikutinya dari belakang, kembali menaiki tangga di rumah itu.
“Nggak, Mah. Ayu tiba-tiba nangis. Aku gak ganggu tidurnya,” jawab William pelan sambil menunduk takut dan menggelengkan kepalanya meski sang ibu tak dapat melihat ekpresi putranya.
Amy masuk ke dalam kamar dengan terburu-buru, menggendong Elvina kecil ke pangkuannya dan menggerak-gerakkan tubuhnya guna membuat Elvina kecil berhenti menangis.
“Cup.. Cup.. Cup.. kamu haus, Sayang? Kita ke bawah, yuk?” ucap Amy lemah lembut.
Amy membawa Elvina kecil ke lantai bawah dan meminta seorang asisten rumah untuk segera membuatkan s**u. Sementara dirinya segera duduk di sofa, menepuk-nepuk pinggul mungil Elvina dengan lembut. William duduk di samping ibunya, mengusap lembut pipi bulat dan besar Elvina kecil. Namun, sering kali William merubah kelembutannya menjadi gemas sehingga tak jarang mencubit pipi chubby-nya hingga memerah dan Amy akan mengomelinya.