“Biarin Ayu main di kamar. Kamu jangan suka nyubitin pipinya gitu!”
Berbagai omelan sering Amy lontarkan kepada putra satu-satunya itu yang sering mengganggu tidur Elvina kecil, mencubit pipinya hingga menangis, mengajarinya cara berjalan hingga terus terjatuh dan menangis.
Saat Elvina masih bayi, ibunya sering menitipkannya kepada Amy dan Mehmed. Mereka tak pernah keberatan. Sebaliknya, Amy dan Mehmed sangat menyayangi Elvina kecil seperti kepada putrinya sendiri.
Amy diagnosa tidak akan memiliki anak lagi setelah dirinya terjatuh dan perutnya menghantam pembatas tangga, mengakibatkan rahimnya mengalami pendarahan dan menyebabkan kerusakan dalam.
Mehmed tak mempermasalahkan itu. Ia sudah memiliki putra yaitu William dan itu sudah cukup baginya. Namun, kehadiran Elvina kecil membuatnya sangat menyayanginya. Bahkan, Mehmed akan sangat murka dan tak segan menjewer telinga William jika kedapatan sedang menganggu tidurnya.
Dari sikapnya yang sering usil, William sangat menyayangi Elvina kecil seperti kepada adiknya sendiri. Sejak kehadiran Elvina kecil, ia bahkan jarang bermain dengan temannya sepulang sekolah dan lebih memilih bermain dengan bayi mungilnya. Kasih sayang yang Mehmed dan Amy berikan kepada Elvina kecil, tak pernah membuat William merasa iri ataupun cemburu.
Saat keluarga Abizard pindah ke Jakarta, William menjadi murung seolah tak bersemangat untuk menjalani harinya tanpa kehadiran Elvina kecil. Bahkan, William sering sakit-sakitan dan setiap kali mengigau, nama ‘Ayu’ lah yang keluar dari mulut William. Pada saat itu, keluarga Abizard dan keluarga Wijaya sedang dalam masalah sehingga rindu terhadap Elvina kecil, harus dipendam karena tak ingin bertemu dengan keluarga Wijaya.
Seiring berjalannya waktu, William dapat melupakan teman kecilnya dan menjalani kehidupan yang semestinya. Namun, tak jarang di saat-saat yang tak tertentu, William akan mengingat Elvina kecil. Ia selalu penasaran, bagaimana wajahnya setelah dewasa, postur tubuhnya, cara bicaranya, kehidupannya dan yang lainnya.
Setelah dewasa, takdir mempertemukan mereka dengan hati yang berbeda. Mengapa mereka mengenal satu sama lain sebagai musuh?
Di meja makan, William tak dapat menjawab apapun selain hanyut ke dalam masa lalunya bersama Elvina kecil. Enggan menegakkan wajahnya untuk menatap Susan, dengan ingatannya ia baru menyadari bahwa wanita itu adalah ‘Tante Susan’ dengan wajah yang kini sudah menua dibandingkan 23 tahun yang lalu.
Di sisi lain, Elvina juga memilih diam. Ia bahkan tak ingat sama sekali kejadian saat ia masih bayi. Namun, permusuhannya dengan William kini membuatnya menjadi khawatir. Banyak pertanyaan dibenaknya saat ini.
Apakah William akan mengolok-oloknya karena orangtuanya yang sudah membiayai Elvina kuliah? Tetapi mengapa ia tak melakukan itu sejak dulu? Apa dosennya itu tidak tahu soal biaya kuliah untuknya yang diberikan orangtuanya sendiri selama ini? Tapi kenapa?
Tidak! Mehmed dan Amy tidak pernah memberitahu tentang biaya kuliah yang mereka berikan kepada Elvina. Mereka juga tak pernah menceritakan apapun tentang Elvina kepada William.
Tidak ada sepatah katapun dari mulut Elvina ataupun William, mereka hanyut ke dalam pikiran masing-masing. Hanya orangtua mereka lah yang asik berbincang. Sampai pada akhirnya, Amy membuka suara mengapa ia menginginkan pertemuan ini secara mendadak.
“Ayu, Mama harap kamu sudah tahu maksud Mama mempertemukan kalian berdua,” ucap Amy menatap William dan Elvina secara bergantian, begitupun Mehmed yang sejak tadi memperhatikan putranya dan Elvina yang mematung, membisu bagaikan sebuah robot di sebuah museum.
Belum sempat orang lain bersuara, Amy melanjutkan ucapannya, “Mama mau kamu jadi menantu di rumah ini. Lagipula, kalian sudah cukup untuk menikah.” Amy dengan semangat dan tanpa beban mengucapkan kalimat itu.
Elvina dan William membeku, otaknya berhenti bekerja, rasa-rasanya mereka ingin menghilang saat itu juga atau kembali ke beberapa jam yang lalu. Elvina di rumah Rafael, akan pulang ke kostannya dan William sedang bersama kekasihnya, akan pulang ke apartemennya. Dengan itu, mereka tak akan mendengar lelucon yang sangat kurang menyenangkan itu.
Elvina menatap Susan, tatapannya meminta penjelasan dari sang ibu. Susan terlihat tak masalah dengan ucapan Amy, menatap balik Elvina dan berkata, “Mama sudah pilih calon suami untuk kamu dan Mama ga salah pilih. William berpendidikan, tampan, sopan santunnya bagus, mapan iya.” Susan dengan rasa percaya diri membanggakan calon mentantunya itu kepada Elvina.
“Aku juga sangat setuju,” sahut Mehmed lalu menatap William dengan tenangnya sambil berkata, “lagian, kamu sama Ayu sudah dijodohkan sejak dulu.” Kini tatapannya beralih ke arah Elvina. “bagaimana menurutmu, Nak? Anak Papa tampan, ‘kan?
“Dia ini yang suka gangguin kamu loh waktu kamu kecil, yang suka cubitin pipi kamu yang gembul. Tapi sekarang pipimu sudah tak bulat seperti dulu lagi, Willi pasti sulit mau cubit kamu lagi,” goda Mehmed sambil menepuk pundak William seraya tersenyum ke arah Elvina.
Kali ini, William tak ingin diam, dengan ragu-ragu ia berseru, “Sebenarnya saya—” William dengan gugup ingin menceritakan bahwa dirinya sudah memiliki kekasih. Namun, Mehmed tak memberinya waktu untuk bicara.
“Willi, kamu mau yang gimana lagi? Ayu ini gadis baik-baik loh. Kamu sudah cukup umur untuk menikah. Mau nunggu apalagi?” Mehmed dengan nada kesal dan mata yang tertuju tajam menatap putranya yang berada di sampingnya.
“Mama ga mau ada penolakan, Will. Keputusan Mama sudah matang. Mama gak mau menunggu lagi dan sebaiknya kamu juga begitu Ayu,” ucap Amy memelas tapi dengan nada tegas kepada William yang berakhir menatap Elvina.
Terlepas apapun keterkejutannya hari ini, William tak dapat melupakan kekasihnya. Tak mungkin ia menerima perjodohan dengan sukarela. Pada akhirnya, William memutuskan untuk pergi.
“Willi ada urusan Mah, Pah. Kita bicara lagi nanti.”
Tanpa menunggu orangtuanya menjawab lagi, William langsung bangkit dan menyalami orangtuanya untuk pulang ke apartemen.
William tinggal seorang diri di apartemen elitenya. Alasan mengapa William tak tinggal di rumah orangtuanya, itu karena jarak dari apartemen menuju kampus sangat dekat sehingga ia tak perlu takut datang terlambat untuk mengajar.
Baginya, waktu adalah emas. William tak suka membuang waktunya hanya untuk hal yang tidak penting termasuk terjebak kemacetan dan ia akan datang terlambat untuk mengajar. Itu sebabnya, ia sangat membenci muridnya yang datang terlambat dan Elvina adalah satu-satunya murid yang sering melakukan kesalahan itu.
Namun, tak jarang pula William akan pulang ke rumah orangtuanya dan menginap di sana jika ia dapat mengajar di jam Siang.
Saat tubuh kekar William menghilang dari pandangan, Mehmed yang merasa tidak enak dengan Susan, segera berbalik dan berusaha meyakinkan. “Maaf jadi seperti ini. Aku pastikan Willi untuk menerima perjodohan ini. Kami hanya perlu bicara.”