Kara terbangun pukul empat pagi. Hawa dingin yang berasal dari air conditioner semakin menggigit. Ia mengucek matanya sebentar, lalu mencari remote control dan mengatur suhu ke titik normal. Senyuman di bibirnya langsung terbit melihat Ian bergelung memeluk bantal. Suaminya itu terlelap seperti bayi, damai dan tenang. Kara tertawa dalam hati teringat kejadian semalam. Pria yang disebutnya suami itu, mendadak lesu setelah mendengarnyasedang menstruasi. Ian sama sekali tidak mau menyentuhnya, bahkan memunggunginya dengan bibir mengerucut. Tak ada ciuman panas menggelora, pun tanpa kecupan selamat malam. Kara mengusap alis tebal yang membingkai mata abu-abu itu dengan gerakan seringan kapas. Ia menelusuri bibir yang sering melumatnya dengan kurang ajar, hidungnya yang mancung dan bekas cu

