“Could you please slow down? Nanti kamu tersedak!” Ian berseru mengingatkan. Isterinya melahap makan malamnya cepat-cepat dan dalam suapan besar seperti dikejar setan. Tiga puluh menit lagi mereka akan mendarat di kota tujuan, melanjutkan bulan madu yang berubah menjadi petaka di hari keempat. Kara masih bungkam, bahkan menolak kontak mata dengan Ian. Sedari tadi, Kara hanya tidur dan bangun sekadar untuk makan siang atau ke toilet. Ian tahu Kara menyembunyikan matanya yang memerah di balik kacamata hitamnya. Kesedihan membayang di raut wajahnya. Kara berubah menjadi sosok yang rapuh, dan itu karena perbuatannya. Ia tak henti menyalahkan dirinya sendiri serta keadaan yang melibatkan mereka dalam hubungan canggung seperti ini. Berulang kali ia menghela napas atau menyugar rambutnya kasa

