“Melamarmu.” Suasana aula yang besar itu terdengar riuh dengan suara tepuk tangan yang saling bersautan. Di hari wisuda, semua mahasiwa yang telah berjuang melawan kerasnya skripsi terlihat tersenyum sumringah naik ke atas panggung secara bergantian, dan sebentar lagi Qilla juga akan merasakannya. Satu setengah tahun telah berlalu, dia resmi diwisuda sekarang setelah melakukan perjalan panjang yang sering membuatnya mengeluh dan menangis. Namun Qilla bersyukur jika ada Dewa yang selalu ada di sampingnya. Pria itu seolah mengerti posisi dirinya ketika sedang dipusingkan dengan tugas akhirnya. Dewa sendiri juga tidak banyak protes jika Qilla meluapkan kekesalannya padanya. Entah Dewa yang sabar atau memang dia mengerti posisi Qilla. Biar bagaimanapun juga Dewa pernah di posisi itu.
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


