“Pilih mantan, calon, atau tetangga?”
Mata itu kembali melirik ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya dengan gelisah. Sepuluh menit, 10 menit lagi kelas akan dimulai dan Qilla masih berada di pinggir jalan menunggu angkot atau apapun itu yang bisa membawanya datang ke kampus dengan tepat waktu.
Ini semua karena ibunya yang meminjam motornya untuk berangkat arisan tadi pagi sebelum Qilla bangun tidur. Jika mengandalkan Dewa tentu tidak bisa, pria itu sudah pasti telah berada di kafe atau paling tidak dia sedang melakukan wisata kuliner untuk inovasi menu barunya.
Sebenarnya Dewa mau-mau saja jika Qilla memintanya untuk datang, tapi Qilla tidak mau melakukan itu. Dia takut akan merepotkan nantinya. Dewa juga sedang bekerja sekarang, aneh sekali jika harus meninggalkan pekerjaannya untuk sesuatu yang tidak penting seperti ini.
"Cantik, ayo naik Neng.." Tiba-tiba sebuah angkot berhenti di depannya. Qilla sedikit takut melihat supir yang berwajah sangar itu. Apalagi keadaan angkot masih sangat sepi.
Dengan cepat Qilla menggeleng dan mengalihkan pandangannya, tapi tanpa diduga supir angkot itu langsung turun dan menarik tangan Qilla, "Ayo lah Neng naik, dari pagi angkot Abang sepi terus. Nanti Abang ajak neng muter-muter. Mau ya?"
"Apaan sih! Nggak usah pegang-pegang ya!"
"Tinggal naik lah Neng, Abang anter."
"Kok maksa sih Pak! Nggak mau!" Qilla menghentakkan tangannya dan berjalan menjauh. Belum jauh melangkah suara klakson membuatnya kembali berbalik. Angga melepas helmnya dan menatap Qilla yang masih menatapnya bingung.
"Naik." Perintah Angga sambil melirik supir angkot yang menatap mereka dengan sinis.
"Cepetan naik atau mau naik angkot?" Seolah tersadar, dengan cepat Qilla menghampiri Angga dan naik ke atas motor besarnya.
***
Qilla turun dari motor sambil merapikan ikatan rambutnya yang rusak karena memang dia tidak mengenakan helm tadi. Angga pun ikut turun dan melepas jaketnya. Entah kenapa, tiba-tiba tangan Angga terulur untuk membantu Qilla merapikan rambutnya dan sepertinya Qilla tidak merasakan kejanggalan itu, karena dia malah melihat tatanan make up-nya di spion motor.
"Karena gue udah baik, sebagai gantinya ntar lo temenin gue ke mall."
"Ngapain?" tanya Qilla kembali menegakkan tubuhnya.
Angga mengedikkan bahunya acuh dan berjalan meninggalkan Qilla, "Nyari buku."
Qilla mendengus dan masuk ke dalam gedung yang berlawanan arah dengan Angga. Dia memang merasa berterima kasih kepada pria itu atas bantuannya, tapi untuk menemaninya ke mall? Qilla malas melakukan itu, berbeda jika dia pergi dengan Dewa, karena pria itu selalu membelikan apa yang dia mau.
Pernah sekali Qilla bertanya apa Dewa tidak keberatan jika membelikannya ini-itu dan dengan gampangnya dia menjawab, untuk apa dia bekerja dan mempunyai kafe jika tidak digunakan, lagipula uangnya terlalu banyak jika untuk dirinya sendiri. Sedikit sombong memang, tapi ada benarnya juga. Pria itu bekerja hanya untuk menghidupi dirinya sendiri dan membelikan Qilla barang-barang hanya memakai sedikit pengeluaran dari pada pemasukan yang selalu masuk setiap hari.
Sebenarnya jawaban itu selalu membuat Qilla bingung. Apa benar Dewa hanya sendirian di dunia ini? Maksudnya, apa mungkin orang tuanya sudah tidak ada? Entahlah, Qilla bingung. Mereka tidak pernah membahas tentang keluarga Dewa karena Qilla tidak merasa curiga sedikitpun.
Qilla mencatat semua materi dari power point dengan lengkap, entah kenapa dia tidak malas belajar hari ini. Sekarang malah Syasa yang malas, sangat terlihat dengan sikap sahabatnya yang sedang makan batagor di pojok belakang hasil beli dari kantin sebelum memasuki kelas tadi.
Tak terasa berkutat selama dua setengah jam bersama teori-teori membingungkan itu membuat perut Qilla menjadi lapar. Dengan cepat dia menarik Syasa untuk ke kantin. Dia hanya ingin makan sekarang.
"Eh Qill, emang bener ya lo tadi berangkat sama si Angga itu?" Tiba-tiba Syasa bertanya sambil menyuapkan baksonya.
"Lo kenal Angga?"
"Ya kenal lah! Eh nggak ding nggak kenal, cuma tau aja. Dia kan dulu pernah nyalonin jadi ketua BEM tahun lalu."
"Ah yang bener lo?!" Tanya Qilla tidak percaya.
"Lo nggak tau?!" Tanya Syasa ikut terkejut, "Kita sejurusan tapi lo nggak tau? Parah banget si lo, Makanya jangan golput!"
"Sialan lo!" Qilla mengambil kerupuk dan melemparkannya ke arah Syasa, "Eh emang bener dia pernah nyalon jadi ketua BEM?"
"Iya bener, tapi nggak kepilih. Padahal pas itu gue yakin banget loh kalau dia yang bakal menang, tapi nggak tau kenapa voting dia paling dikit. Padahal dia kritis banget lo orangnya."
Qilla mendengus mendengar itu, "Kritis apaan? Yang ada nyebelin."
"Lo mah gitu dikasih tau! Lo juga nggak cerita kalo deket sama si Angga, itu Adit mau lo apain?"
Qilla meletakkan sendoknya dengan lesu. Dia jadi teringat dengan Adit, Qilla merasa pria itu mulai menjauhinya sekarang. Meskipun masih berhubungan via online tetapi mereka jarang sekali bertemu. Tidak seperti dulu yang di mana Adit maka di situ ada Qilla.
"Mana gue tau, mati kali," sahut Qilla acuh karena kesal. Dia bukan tipe wanita yang suka mengemis cinta. Dia juga tidak peduli jika Adit menjauhinya.
Meskipun ada rasa kecewa dalam hatinya, tapi Qilla yakin jika sikap Adit itu karena tingkah ayahnya dulu. Qilla tidak mempersalahkan itu, jika memang Adit serius dengannya dia pasti akan terus membujuk ayah Qilla, bukan malah menghilang seperti ini.
"Kalian ngomongin gue?" Suara berat tiba-tiba terdengar dari belakang Qilla. Di sana sudah ada Angga yang duduk dengan jus alpukatnya. Secara spontan Syasa menutup mulutnya dengan keras, sedangkan Qilla hanya melengos tidak peduli dan kembali memakan makanannya.
"Gitu cara lo makasih sama gue?" tanya Angga lagi sambil berpindah duduk di samping Qilla.
"Mau lo apa sih? Mau gue ucapin makasih? Ya udah makasih!"
Angga menggeleng dengan cepat, "Temenin gue ke mall."
"Gue nggak mau Ngga, gue mau ngerjain tugas Bu Arsih."
"Kalo lo mau nemenin gue ke mall, gue bakal kerjain tugas yang kemarin. Lo pasti belum ngerjain kan?"
"Emang lo udah?"
Angga terlihat menyeringai, "Udah sejak 3 hari yang lalu."
"Serius lo? Nyontek dong." Angga menggeleng dengan cepat.
"Nggak boleh sama jawabannya, tapi gue bisa bantuin ngerjain tugasnya asal lo mau nemenin gue ke mall."
"Ngapain sih ke mall? Males ah."
"Gue traktir chattime!" Tawar Angga.
"Setuju!" Bukan, bukan Qilla yang menjawab itu melainkan Syasa. Dia menatap Qilla dengan pandangan berbinar, seolah meminta Qilla untuk menyetujui permintaan Angga itu.
"Gimana?" tanya Angga lagi.
"Males gue ah— aduh!" Qilla meringis dan mengelus kakinya karena tendangan Syasa.
"Sorry, sengaja." Syasa hanya tersenyum geli.
"Ya udah, tapi bentaran aja, sore harus udah pulang."
Angga tersenyum, "Gampang kalo masalah itu, ayo berangkat."
***
Qilla melangkah dengan bingung ketika Angga memasuki sebuah bioskop dan bukan toko buku. Qilla hanya diam dan mengikuti ke mana Angga pergi, dia malas berbicara dengan pria itu.
"Lo mau nonton apa?" tanya Angga tiba-tiba sambil melihat daftar film.
"Kita mau nonton?" Qilla terlihat bingung, "
"Lo lagi modus ya?" tanya Qilla penuh selidik.
"Modus apaan?"
"Lo ngajakin gue nonton."
"Emang lagi pingin nonton aja." Angga meninggalkan Qilla menuju pembelian tiket. Dengan cepat Qilla mengejarnya.
"Gue nggak mau nonton horror," ucap Qilla cepat begitu telah sampai di samping Angga.
Dia tau modus pria itu, Angga akan membeli tiket film horror sehingga bisa menciptakan suasana yang mencengkam dan juga romantis di satu sisi.
"Ya emang, kita nonton superhero aja."
Salah! Sok tau banget gue!
***
"Gue ke kamar mandi bentar." Qilla berjalan menjauh dengan wajah kesalnya. Dia sedang kesal dengan Angga, setelah menonton tadi, pria itu malah membawanya ke sebuah restoran padahal Qilla baru saja makan tadi di kantin kampus.
Sebenarnya bukan itu permasalahannya, dia kesal karena Angga seolah-olah melakukan segala cara agar mereka bisa tetap berdua. Bukannya percaya diri, tapi tingkah pria itu terlihat sangat jelas. Bahkan Angga melarang Qilla untuk pulang terlebih dahulu.
Masa bodoh dengan Angga, Qilla tidak ingin jalan lagi, dia lelah. Meskipun tidak mengeluarkan uang sepeserpun tetap saja dia malas, entah kenapa dia malas sekali jalan hari ini, ingin tidur saja seharian.
Jika bukan karena tugas, Qilla tidak akan mau melakukan ini. Tapi sepertinya egonya lebih tinggi sekarang, terbukti dengan tangannya yang dengan cekatan mengirim pesan singkat untuk Dewa.
To : Dewa Jomblo!
S.O.S
KODE MERAH!
Harap jemput Qilla di mall Letro cepet nggak pake lama.
Sent!
Selagi menunggu balasan dari Dewa, Qilla melihat tampilan wajahnya di cermin toilet. Riasannya sedikit luntur tapi Qilla tidak peduli, dia hanya perlu memoleskan sedikit lipstick nude di bibirnya agar wajahnya tidak pucat.
Ting!
Sebuah pesan dari Dewa membuat Qilla dengan cepat membukanya.
From : Dewa Jomblo!
Lagi meeting Qill, tunggu sejam lagi yaa
Qilla menggeleng dengan cepat dan segera mengetikkan balasan untuk Dewa.
To : Dewa Jomblo!
Sekarang Om, kalo nggak aku bakal pulang sama Angga.
Sent!
Dengan cepat Qilla bergegas keluar toilet dan kembali ke meja makan mereka. Terlihat pesanan mereka telah datang, tapi Angga belum memakannya. Pria itu malah terlihat sibuk memainkan ponselnya.
"Belum dimakan?" tanya Qilla basa-basi.
Angga hanya menggumam dan menggeleng pelan. Matanya masih fokus pada ponselnya, seperti mengetikkan sesuatu. Qilla hanya mengedikkan bahu acuh dan mulai memakan makanannya. Tiba-tiba ponsel Angga berbunyi dan rahang pria itu mengeras.
"Halo!"
"Lagi di mall."
"Males, jemput sama Pak Tejo aja."
"Aku lagi ngerjain tugas Ma!"
Qilla berhenti makan begitu mendengar nada bicara Angga yang meninggi, bukan itu sebenarnya, panggilan pria itu yang membuat Qilla terkejut. Dia sedang berbicara dengan ibunya menggunakan nada seperti itu? Dasar durhaka!
"Terserah!" Kalimat terakhir yang diucapkan Angga sebelum mematikan ponselnya.
"Itu mama kamu?" tanya Qilla penasaran.
Angga hanya menggumam dan mulai memakan makanannya. Tidak begitu peduli dengan raut wajah Qilla yang penasaran.
"Kok kamu bentak-bentak gitu?"
"Bukan urusanmu."
Dengan kesal Qilla membanting sendoknya, "Ya emang bukan urusanku, tapi aku nggak suka denger kamu berani gitu sama mamamu. Inget ya dia yang brojolin kamu, kasih kamu asi, nyekolahin kamu sam—"
"Diem deh Qill." Qilla merengut dan kembali memakan makanannya. Tiba-tiba ponsel Qilla kembali berbunyi menandakan pesan masuk.
From : Dewa Jomblo!
Siapa Angga? Kemarin Adit, sekarang Angga, besok siapa lagi?
Dengan cepat Qilla mengetikkan balasan untuk Dewa.
To : Dewa Jomblo!
Besok sama Joko.
Sent!
Qilla terkikik melihat pesan yang dikirimkan Dewa. Dia yakin jika pria itu sudah tidak fokus dengan rapatnya. Bukan rahasia lagi jika Dewa begitu over ke pada Qilla. Itu juga karena perintah ayahnya yang meminta Dewa untuk mengawasi kelakuan Qilla selama diluar rumah.
"Siapa?" tanya Angga penasaran melihat raut wajah Qilla yang berubah ceria.
"Bukan urusan lo!" Qilla menjulurkan lidahnya dan kembali memakan makanannya.
Ting!
Ponsel Qilla kembali berbunyi yang membuat Angga memutar matanya kesal.
From : Dewa Jomblo!
Udah di lobby 1, keluar sekarang sebelum aku seret keluar!
Tanpa Qilla sadari dia tertawa kencang membuat Angga menatapnya m bingung. Qilla merasa geli dengan tingkah Dewa. Dia yakin jika pria itu menghentikan rapatnya secara sepihak tadi setelah membaca pesan dari Qilla.
Otak pria itu pasti sudah terganggu dengan tingkah Qilla dan terbukti sekarang, dalam waktu 15 menit, pria itu sudah ada di lobby padahal dia tadi berkata untuk menunggu selama satu jam.
"Ngga kayanya gue harus pulang deh."
"Kok buru-buru?" tanya Angga tidak suka.
"Bukan buru-buru. Lo aja yang kelamaan ngajak jalan. Bilangnya cari buku eh malah nonton."
"Lagi males cari buku."
"Ya udah terserah, pokoknya aku pulang. Makasih traktirannya." Qilla meraih tasnya dan bersiap-siap untuk pulang.
"Gue anter ya?"
"Nggak usah, ayah udah nyuruh orang buat jemput. Mending lo habisin makanannya. Udah ya gue pulang dulu." Qilla berjalan menjauhi Angga dengan cepat. Dia tidak mau Angga berubah pikiran dan mengejarnya. Lebih baik dia pulang bersama Dewa atau mengajaknya bermain di timezone. Percayalah, jika jalan dengan Dewa, Qilla akan dengan senang hati melakukannya tanpa ada rasa bosan.
***