Chapter 10

1805 Kata

“Cuih! Saingannya kayak teri yang nggak berarti!”   Ponsel Qilla berdering tepat setelah dia keluar dari mandi. Masih dengan handuk yang membalut rambut basahnya, Qilla mengambil ponsel dan melihat siapa yang menghubunginya malam-malam seperti ini.   Angga?   "Halo." "Buruan turun, aku udah di ruang tamu." "Lo gila!" Mata Qilla melotot mendengar ucapan Angga. Dengan cepat dia berlari keluar kamar dan turun ke ruang tamu, benar saja di sana sudah ada ayah dan ibunya yang sedang berbincang-bincang dengan Angga. "Lo ngapain di sini?!" tany Qilla tidak percaya. "Yang sopan dong Qill, Nak Angga kan cuma mau ngasih oleh-oleh. Katanya ibunya baru pulang dari Jogja,” ucap ibu Qilla sambil menunjuk 5 kotak bakpia yang dibawa Angga tadi. "Bukannya tadi siang lo berantem sama nyokap lo ya?

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN