“Cuih! Saingannya kayak teri yang nggak berarti!” Ponsel Qilla berdering tepat setelah dia keluar dari mandi. Masih dengan handuk yang membalut rambut basahnya, Qilla mengambil ponsel dan melihat siapa yang menghubunginya malam-malam seperti ini. Angga? "Halo." "Buruan turun, aku udah di ruang tamu." "Lo gila!" Mata Qilla melotot mendengar ucapan Angga. Dengan cepat dia berlari keluar kamar dan turun ke ruang tamu, benar saja di sana sudah ada ayah dan ibunya yang sedang berbincang-bincang dengan Angga. "Lo ngapain di sini?!" tany Qilla tidak percaya. "Yang sopan dong Qill, Nak Angga kan cuma mau ngasih oleh-oleh. Katanya ibunya baru pulang dari Jogja,” ucap ibu Qilla sambil menunjuk 5 kotak bakpia yang dibawa Angga tadi. "Bukannya tadi siang lo berantem sama nyokap lo ya?

