“Mengetuk kerasnya hati Ibu Mertua.” Qilla terdiam di dalam mobil dengan gugup begitu pikirannya kembali teringat tentang hari kemarin, hari di mana dia dengan bodohnya menyatakan perasaannya sendiri pada pria yang ada di sampingnya saat ini. Malam itu, Qilla tidak menyangka jika akan berani mengatakan itu. Rasa takut akan Dewa yang menemukan pujaan hatinya sendiri nanti membuatnya tidak tenang. Qilla tidak ingin itu terjadi, tapi ucapan spontannya itu seperti menjadi bumerang pada dirinya sendiri karena dia malah menjadi gugup jika berhadapan dengan Dewa. Pria itu tidak mengatakan apapun tentang hubungan mereka. Dewa hanya tersenyum dan Qilla pikir dia juga menerima permintaannya. Namun bukannya tenang, Qilla malah menjadi bingung dengan status hubungannya. Apa Dewa menerimanya? At

