Al melangkah lebar-lebar dengan cepat menuju ruang kerja nya yang tertutup. Di buka nya pintu dengan kasar lalu dibanting hingga menghasilkan bunyi benturan pintu yang memekakan telinga. Napas nya berhembus cepat, detak jantung nya berpacu tak kalah cepat. Saat ini Al merasa dikuasai amarah yang menggelegak, emosi tak tertahankan hingga ia memukulkan kepalan tangan nya pada meja kayu jati berlapis kaca yang menjadi meja kerja nya. Kaca pelapis meja kayu jati itu hancur. Membentuk retakan episentrum besar di tengah meja dengan sulur-sulur nya yang mengakar. Tangan nya gemetar menahan emosi, darah mulai menetes dari kulit nya. Ternyata benturan dengan kaca tadi menggores kulit nya tanpa ia sadari. Bagi Al ini hanya luka kecil tak seberapa. “Ernesto. Lelaki tua tengik. Kurang aj

