Naya dari tadi terus mengigiti bibirnya sampai beberapa mengelupas dan mengeluarkan darah. Waktu sudah menunjukan pukul sembilan malam dan Naya berhasil tidak merasakan lapar selain hanya merasa bersalah di dalam hatinya. Dari tadi juga Dimas beberapa kali mengetuk pintunya hanya untuk menanyakan apakah Naya lapar atau tidak. Namun jawaban Naya adalah dia tidak lapar. Biasanya jika malam hari perutnya akan selalu berisik minta diisi, namun khusus hari ini Naya benar-benar tidak ingin makan. Naya menunggu panggilan yang dia rindukan, panggilan kesayangan dari abangnya yang memintai dia untuk segera makan, dan yang memarahinya jika dia tidak mau atau telat makan. Rasanya terlalu hampa, pasalnya Naya terlalu meletakan hidupnya pada Bakara. Kini tiba saatnya pegangan hidupnya tidak ada, Naya

