"Nay?" Naya sadar dari lamunan dan langsung mendadak gelagapan. Mulutnya ini jika tidak di rem sedikit maka akan keterusan seperti sekarang. Tidak, dia tidak boleh memberitahu hal ini kepadanya, terlalu berbahaya dan privasi untuknya. "Eh nggak, aku lagi nggak sadar sama omongan aku. Jadi, aku boleh balik sekarang?" Naya menatap empat lelaki di depannya bergantian, pandangan tajam yang diberikan keempatnya membuat Naya kikuk namun Naya harus menunjukan jika dirinya benar-benar tidak sadar akan ucapannya. "Pinter banget ngibul ini bocah. Nggak usah malu Nay!" kata Kiki sambil berdecak kesal karena melihat tingkah laku Naya yang pura-pura lupa. "Nggak apa, nggak usah dipaksa. Mungkin Naya belum mau cerita, nggak usah dipaksa," kata Rafael kepada teman-temannya pengertian. Lelaki yang ma

