Aku begitu takut dengan ancaman Iwan sehingga saat itu dengan sangat terpaksa aku kembali mengambil tabunganku untuk memberikan kembali uang kepada Iwan. Beberapa hari kemudian aku mendengar kabar bahwa rumah yang aku beli dari uangku pribadi untuk aku tempati bersama Iwan saat masih menjadi suami istri telah di jual oleh Iwan dan uangnya entah dihabiskannya untuk apa.
Saat itu dengan kemarahan ku yang memuncak aku mencari Iwan dan meminta pertanggung jawabannya yang telah menjual rumah itu namun niatku untuk meminta pertanggung jawaban Iwan terhalang oleh keluarga besarnya yang selalu melindungi nya. Dalam kemarahanku saat itu, aku sempat membanting hp yang Iwan miliki hingga hancur dan saat itu dengan segala daya dan upaya yang dimiliki oleh keluarga Iwan, mereka melaporkan ku ke polisi sehingga aku sempat di tahan. Saat di dalam tahanan tersebut Iwan kembali datang kepadaku dan meminta sejumlah uang agar keluarga nya mencabut laporannya dan aku bisa terbebas dari jeratan hukum. Semua uangku akhirnya aku berikan kepada Iwan dan benar saja sehari kemudian aku di bebaskan karena keluarga Iwan sudah mencabut laporannya.
Dengan kejadian itu aku kemudian berniat untuk kembali bekerja menjadi staf di perusahaan garmen dan mencoba untuk kembali menata hidupku namun beberapa hari kemudian petaka itu datang dalam hidupku. Sebuah video asusila menyebar dengan cepat di dalam dunia Maya sehingga langsung membalik duniaku menjadi dalam posisi terendahnya. Dari perusahaan aku kemudian di keluarkan dengan tidak hormat dan dalam sekejap menjadikan aku sebagai seorang janda pengangguran.
Selama ini Iwan selalu mengancam ku akan menyebarkan video m***m yang aku lakukan dengannya saat aku masih menjadi istrinya sehingga aku tidak pernah bisa melawannya dan selalu saja memberikan uang yang selalu diminta oleh Iwan jika menemuiku. Bodohnya aku saat itu, aku mau saja di rekam oleh Iwan saat aku melakukan kegiatan suami istri dengannya, saat itu memang aku sudah sah menjadi istrinya sehingga aku merasa bahwa hal itu tidak akan menjadi masalah namun ternyata lain ceritanya, video itu menyebar setelah aku tidak lagi bersama dengan Iwan mantan suamiku tersebut.
Setelah kejadian itu, dengan sisa tabungan yang ada dan pesangon yang aku dapatkan dari perusahaan garmen, aku kost sebuah rumah mewah yang ada di tengah kota, saat itu meskipun aku tidak punya banyak uang dan harga sewa kos yang cukup mahal, aku tetap memilih kos di rumah tersebut karena aku pikir dengan lingkungan yang baik maka kehidupanku akan membaik juga, dan yang pasti dengan lingkungan tempat tinggalku saat itu Iwan tidak akan pernah lagi dapat menemukanku meskipun Kita masih ada di kota yang sama.
Dua bulan aku di kos elite tersebut tanpa punya pekerjaan, keseharian ku hanya aku habiskan untuk menulis novel di dalam kamar kos dan sesekali keluar kamar hanya sekedar untuk membeli makan di sekitar kos. Disitulah aku mengenal Om Pras yang ternyata adalah pemilik tempat kos tersebut. Aku juga baru sadar bahwa tempat kos elite tersebut ternyata penghuninya sebagian besar adalah wanita malam dan bahkan Om Pras sendiri yang berperan sebagai papi untuk mencarikan tamu untuk para penghuni kos yang memang bekerja sebagai wanita penghibur.
Belum sempat aku dapat menyelesaikan novel pertama ku, dengan kegigihan Om Pras yang selalu merayuku untuk dapat bergabung didalam manajemennya akhirnya aku menjadi tergiur juga dan akhirnya disinilah aku, di kamar hotel mewah tempatku pertama kali menerima tamu hidung belang yang akan menikmati tubuhku dari Om Pras.
Aku sama sekali tidak punya cita cita untuk menjadi seorang wanita penghibur seperti ini, namun karena aku juga butuh uang untuk hidup, akhirnya aku mau menerimanya toh aku pikir ini akan aku lakukan sesekali saja disaat aku tidak punya uang sambil menunggu dapat pekerjaan lain yang lebih terhormat. Namun kembali lagi, karena video yang sudah menyebar luas sehingga membuatku cukup minder karena takut ada seseorang yang sudah melihat video itu dan mengenaliku.
Bukan tanpa alasan Om Pras sebulan terakhir selalu merayu ku agar aku mau bergabung di dalam management nya. Dengan Postur tubuhku yang 167 cm, berat 50 dan ukuran aset 36B, ditambah kulit tubuhku yang putih mulus, mata agak sipit layaknya seperti gadis chinese kebanyakan dan wajah cantik yang katanya mirip Cornelia “Sarah” Agatha saat muda pasti banyak laki laki hidung belang yang akan tertarik untuk dapat menikmati tubuh ku dan tentu saja akan mendatangkan uang juga buat Om Pras sebagai mucikari nya.
Suara dering telefon mengagetkanku dari lamunan. Aku segera mengambil hp yang ada di atas meja untuk segera menerima panggilan telefon tersebut namun bersamaan dengan aku menggeser layar hp untuk menerima panggilan, panggilan tersebut berakhir sehingga aku tidak sempat berbicara dengan Om Pras dalam sambungan telefon.
“Simpan uang itu, jangan dihambur hamburkan” kata Om Pras sambil berjalan masuk kedalam kamar dan mungkin melihat tangan kiriku yang masih memegang uang.
Aku segera saja menyimpan uang dolar yang sebelumnya di berikan oleh Om Raz kedalam tas yang ada di sofa.
“Jam empat nanti akan ada tamu lagi, bersiaplah” kata Om Pras sambil meletakkan dua bungkusan yang dibawanya di atas meja.
"Dia minta kamu pakai baju ini" Kata Om Pras sambil menunjuk ke salah satu kantong yang sudah di letakkan nya di atas meja.
"Tamu lagi Om? Tidak. Aku tidak mau lagi hari ini" Kataku menolak Om Pras
"Kan seperti perjanjian kita, kalau kamu sudah siap kerja, aku akan mencarikan kamu tamu, kalau kamu siap kerja ya kerja, jangan sudah ada tamu begini kamu baru menolaknya" Kata Om Pras kepadaku.
"Tapi aku sudah dapat satu tamu Om, dan itu sudah cukup untuk hari ini" Kataku tegas.
"Tidak bisa begitu, apa nanti kata pelanggan ku kalau aku sudah menawarkan kamu dan kamu menolaknya?" Kata Om Pras
"Aku masih capek Om, itu aku juga masih perih" Kataku jujur
"Tamunya kan masih nanti jam empat, sekarang masih ada waktu 2 jam lagi untuk kamu istirahat dan memulihkan yang perih" kata Om Pras sambil tersenyum.
"Dua jam mana cukup Om" Kataku protes.
"Kamu buka saja semua pakaianmu, dengan kena AC akan mempercepat itu kamu sembuh. Aku yakin dalam satu jam kedepan juga sudah tidak perih lagi dan sudah bisa diajak kerja sama lagi" Kata Om Pras
"Tapi ini tamu terakhir hari ini ya" Kataku
"Aku tidak mau ada tamu lagi hari ini" Sambungku
"Iya, kalau kamu menang ngga mau lagi aku tidak akan memaksanya" Kata Om Pras
"Sekarang buka semua pakaianmu biar cepat sembuh" Sambung Om Pras
"Sekarang? Ngga" Jawabku
"Aku kan juga harus melihat tubuh polosmu agar aku bisa menawarkan tubuhmu kepada para pelanggan" Kata Om Pras
"Nanti Om mau nyoba juga lagi" Kataku sambil tertawa.
"Ini juga untuk melatih mental mu juga agar tidak malu membuka pakaian di depan orang asing" Kata Om Pras mantap.
"Sini aku bantu" Kata Om Pras sambil berjalan mendekatiku.
"Aku bisa sendiri" Kataku kepada Om Pras
"Ya sudah, buka saja" Kata Om Pras.
Aku sedikit membenarkan apa yang dikatakan Om Pras bahwa hal itu hitung hitung sebagai latihan buatku agar nanti tidak merasa malu lagi ketika berhadapan dengan tamu yang sudah membayar untuk menikmati tubuhku. Pada Om Raz tadi aku sempat merasa sangat malu ketika dia menatap seluruh tubuh ku yang tidak menggunakan pakaian sama sekali.
"Jangan dekat dekat, duduk saja disana" Kataku kepada Om Pras sambil menunjuk ke salah satu sofa yang ada.
Setelah Om Pras duduk, aku kemudian berdiri dan mencoba dengan santai membuka pakaianku.
"Pelan pelan bukanya, laki laki akan semakin penasaran kalau melihat perempuan secantik kamu membuka pakaian pelan pelan" Kata Om Pras memberi penjelasan kepadaku
Aku secara perlahan membuka pakaianku mulai dari atas sampai ke bawah, ketika aku mulai membuka celana dalamku, aku melirik kepada Om Pras yang matanya melototi tubuh telanjang ku dan seakan akan mau langsung melompat untuk menerkam ku.