Sesuai pesanan tamuku, ku kenakan pakaian yang tadi diberikan oleh Om Pras kepadaku, gaun panjang merah dengan punggung terbuka hanya bergantung pada ikatan di leherku, model gaun itu mempunyai belahan kaki hingga jauh di atas paha, dengan potongan model pakaian yang ketat hingga tampak menonjol kan aset ku yang ada di d**a, ku semprotkan minyak wangi di leher dan d**a ku, ku kenakan make up tipis penghias wajahku, dan siap ngga siap, kini aku sudah siap untuk menerima tamu kedua.
Agak deg deg-an dan penasaran aku menunggu, seperti apakah tamuku ini?, seperti apakah orang yang akan menikmati kehangatan tubuhku kali ini?, seperti apakah permainan nya? apakah dia sesabar Om Wi tadi? Berjuta pertanyaan bergelayut di pikiranku, aku tidak berani berharap terlalu banyak akan tamuku, aku Cuma akan berusaha sedapat mungkin memuaskan tamu dan sedapat mungkin juga mendapatkan kepuasan.
Pukul 4:10 sore bel di kamar hotelku berbunyi, aku berjalan untuk membukakan pintunya. Di depan pintu aku melihat seorang cina lagi, usianya aku taksir hampir mendekati 50 tahun, tubuhnya yang ceking tetapi mempunyai perut yang buncit dan berkacamata, entah minus berapa dia tapi yang aku tahu kalau kaca mata tersebut cukup tebal. Sungguh jauh dari kesan romantis dan menyenangkan.
"Mari silahkan masuk Om" Kataku kepada orang tersebut
"Kamu Dini ya?" Tanya nya kepadaku sambil tetap berdiri di depan pintu
"Iya Om" Jawabku
"Berarti saya tidak salah, Saya Rudi" kata Om Rudi sambil berjalan masuk kedalam kamar.
Setelah aku kembali menutup pintu kamar dan menguncinya, aku kemudian berjalan di belakang Om Rudi untuk ikut masuk kedalam kamar.
"Kamar ini kelihatannya sudah di pakai?" Tanya Om Rudi sambil melihat ke sekeliling.
"Iya Om, aku tidur disini dari semalam" Kataku berbohong kepada Om Rudi
"Apa sebaiknya kita pindah kamar saja?" Tanya Om Rudi kepadaku.
"Terserah Om Rudi saja" Jawabku santai.
"Iya, Kita pindah kamar saja dan biarkan kamar kamu ini di bersihkan dulu oleh room servis hotel" Kata Om Rudi
Om Rudi kemudian berjalan ke arah samping tempat tidur dimana disana ada sebuah meja kecil dan diatasnya ada sebuah telfon. Om Rudi terlihat menghubungi resepsionis dan meminta untuk di bukakan kamar yang lainnya.
"Bawa barang berharga mu, kita pindah kamar sebelah, disini biar dibersihkan dulu" Kata Om Rudi sambil berjalan ke arahku yang masih duduk di sofa.
"Tapi Om, saya malu kalau pakai pakaian begini dan keluar kamar" Kataku kepada Om Rudi
"Tidak usah malu, kamu terlihat sangat cantik dan seksi" Kata Om Rudi sambil tersenyum.
"Aku ngga biasa pakai pakaian seperti ini Om" Kataku jujur.
"Baiklah kalau begitu, aku akan membuka kamarnya dulu, kamu tunggu saja disini" Kata Om Rudi sambil berjalan keluar kamar.
Tidak lama kemudian Om Rudi sudah kembali masuk kedalam kamar.
"Ayo pindah" Kata Om Rudi kepadaku.
"Iya Om" Jawabku sambil berdiri dan membawa tas yang berisi barang berhargaku.
Om Rudi membukakan pintu di kamar yang bersebelahan dari kamar yang aku tempati, setelah aku masuk, kemudian Om Rudi segera masuk setelah sebelumnya menutup pintu kamar dan menguncinya. Aku berjalan ke arah sofa yang ada, letak ranjang dan sofa di kamar ini semuanya sama dengan kamar yang aku tempati sebelumnya.
Aku sudah semakin bisa menguasai diri, karena pembawaan ku memang supel maka kini tidak terlalu canggung bersama Om Rudi berdua di kamar. Setelah berbasa basi mengakrabkan suasana, dia menarik ku ke pangkuannya, tangannya langsung meraih asetku di d**a karena memang terlihat montok mengundang, Om Rudi meremas remasnya sambil menciumi leherku, kembali rasa risih menyelimuti batinku, aku duduk dipangkuan Om Rudi yang baru kukenal setengah jam yang lalu sambil menjamah dan menggerayangi sekujur tubuhku. Untuk menutupi rasa risih itu aku pura pura mendesis ke enak an, wajah Om Rudi sudah diusap usapkan ke asetku yang di d**a yang memang menonjol dengan gemas, tangannya mulai menggerayangi pahaku dari belahan paha gaun merahku.
Melihat Om Rudi langsung melakukan manuver, aku pun melakukan hal yang sama, “Lebih cepat lebih baik” pikirku, sambil mulai membuka kancing bajunya.
Om Rudi tidak tinggal diam dan dengan tangannya segera membuka resleting di punggungku. ketika baju Om Rudi sudah terbuka, dari tubuhnya terlihat tulangnya yang terbungkus kulit, dan perut buncitnya yang menonjol. Gaunku sudah merosot hingga ke lengan, asetku yang terbungkus bra biru berenda sudah tampak menantang, kembali Om Rudi membenamkan wajahnya di antara kedua asetku tersebut, sebenernya agak risih juga aku diperlakukan seperti itu, tangannya dengan lincah sudah sampai di s**********n dan mempermainkan apemku dari luar celana dalam, aku semakin risih, ku tutupi dengan ber pura pura mendesis, kubelai rambutnya yang sudah banyak memutih.
Dia mengluarkan asetku dari sarangnya, langsung saja Om Rudi mendaratkan bibirnya di ujung asetku yang masih memerah mungil, dikulumnya ujung aset tersebut dengan penuh nafsu sambil mempermainkan lidahnya. Ada sedikit kenikmatan menjalari tubuhku, tangan Om Rudi menyelinap di balik celana dalamku, mempermainkan apemku dengan penuh semangat, aku hanya memejamkan mata mencoba menikmati sesuatu yang sebenernya sangat tidak nikmat buatku.
aku tak mau melihat wajahnya yang Anehnya setelah melepaskan kaca mata tebalnya. Bra ku sudah terlepas dan di lemparkan begitu saja di samping sofa.
"Gila bagus amat, kencang lagi" kata Om Rudi ketika melihat sepasang aset di d**a yang sudah terlepas dari sarangnya.
Dengan penuh semangat, Om Rudi langsung kembali menjamah asetku tersebut dengan lidahnya, Om Rudi begitu menikmati ketika merasakan ujung aset ke ujung aset lainnya.
Jari tangan Om Rudi sudah menyusup di liang kenikmatanku, aku merasa geli dan risih dengan perlakuannya, ingin aku teriak marah tapi tak mungkin kulakukan, maka aku lampiaskan dengan desis ke pura pura an.
"Aku ingin merasakan apem mu yang masih segar" bisiknya sambil mencium telingaku.
Tanpa menunggu jawabanku, dia langsung memintaku duduk dan jongkok di antara kakiku, dia adalah orang dua dalam hidupku yang jongkok di selangkanganku dan dengan bebasnya melototi bagian bawah tubuhku yang selama ini aku jaga, aku jadi malu dan marah, apalagi setelah dia melepas celana dalamku, diciumnya celana dalam itu, lalu dia kembali melototi apemku yang masih memerah dengan sorot mata penuh nafsu, aku benar benar marah diperlakukan seperti itu, tapi aku tak bisa berbuat apa apa karena memang dia adalah orang yang sudah menyewaku, kutarik kepalanya ke dalam apemku dan kubenamkan di disana.
Lebih baik aku menerima permainan lidah dari pada dipelototi seperti itu, Om Rudi mengusap usapkan mukanya di apemku, dia dengan rakus menikmati apem ku tersebut dengan sangat ber nafsu. Aku memejamkan mata berusaha menikmati apa yang dilakukannya disana, ku konsentrasikan diri untuk menikmatinya daripada mengikuti emosi rasa risih ini sambil membayangkan adegan di film yang pernah kulihat, sepertinya aku berhasil, perlahan birahiku mulai naik, ku tekan kepalanya lebih dalam di dalam sana, ku paksakan aku mendesah menutupi kecanggungan birahi yang kurasakan aneh. Cukup lama Om Rudi bermain disana sambil tangannya memainkan ujung asetku, geli, marah, nikmat, semua bercampur menjadi satu emosi, kembali aku mendesah menutupi semua yang aku rasakan saat itu.
Om Rudi berdiri, kubuka celananya dan menariknya turun, kini tinggal celana kolor sekali lagi celana kolor dan bukan celana dalam pada umumnya, aku geli melihatnya, sungguh tipikal orang kuno, kutarik celana kolornya turun, tampaklah senjatanya yang kecil panjang sudah sangat menegang, ada yang aneh di senjata itu, ternyata dia tidak disunat, baru kali ini aku melihat p***s orang dewasa yang tidak disunat, sungguh kelihatan aneh dan lucu, kutahan senyumanku agar dia tidak tersinggung. Kupegang senjatanya dan terasa sangat aneh di tanganku, kumainkan senjata tersebut dengan tangan kananku, kulit senjatanya terasa mengganggu tanganku memainkannya, terasa licin, tidak ada gesekan antara tanganku dan senjatanya. Om Rudi menyodorkan di mulutku, dengan senyum halus aku menolaknya, ku usap usapkan senjata itu di pipiku tapi tak pernah menyentuh bibir, lalu ku usapkan ujung senjata itu ke ujung asetku yang di d**a, dan Om Rudi mulai mendesah.
Tubuh ceking buncit yang berdiri di depanku langsung berlutut di antara kakiku, menyingkap gaunku yang belum terlepas, lalu menyapukan kepala senjatanya di bibir apemku, sambil memandangku penuh nafsu seakan hendak menelanku hidup hidup, Om Rudi mendorong senjatanya agar segera masuk kedalam tubuhku.