Rahasia di Koper Suamiku Bab 31 "Kenapa dimatiin?" Kulempar pandangan sinis pada lelaki yang melangkah di sampingku ini. "Kan aku udah bilang nggak penting." Hih! Bukannya ngejawab, malah ngeles. Bikin makin kesel aja. Ingin sekali kalimat itu kulontarkan padanya. Tapi, lagi dan lagi hanya mampu kurutukan dalam hati. Tak tahan, akhirnya langkah ini sengaja kuhentikan. Lalu, tanganku lekas merebut ponsel Rehan yang masih ia genggam. Wajah Rehan jelas berubah. Entah apa itu, kesal atau apa aku tak peduli. Bagiku, menikah itu harus tahu secara keseluruhan. Termasuk soal siapa yang nggak diangkat teleponnya begini. Dengan cekatan, jari jempol ini segera menekan daftar panggilan yang tadi ditolak Rehan. Nomor tersebut dinamai Kue, ini yang membuat keningku reflek berkerut. Setahuku Kue

