stri Hamil Yang Ditinggal di Kamar Kost (8)

1842 Kata
“Gak cuma berkenan. Saya malah minta Aa beliin kartunya sekalian. Pasangin, isi pulsa, isi paket data, dan… buka aja semua isi HP saya. Kalau ada yang mau Aa balas, balas aja. Saya mau kita terbuka dalam segala hal.” *** Pagi itu, Yunita bangun lebih dulu. Wajahnya cerah meski tubuhnya masih terasa berat karena kandungan yang makin membesar. Ia melihat Santa masih terlelap, wajahnya tenang. Yunita menatapnya lama, lalu mencium kening Santa dengan lembut. Setelah membersihkan diri, ia mengirim pesan pada Susan via WA, menanyakan tempat belanja sayur terdekat. Tak lama, Susan datang dengan senyum khasnya, dan dengan ringan mengantar Yunita ke pasar kecil di dekat gang belakang. “Masak buat A Santa ya?” tanya Susan, menggoda. Yunita tersenyum, “Iya, mumpung lagi di sini, mau masakin suami tercinta…” Susan mengajak Yunita ke tempat belanja sayuran. Setelah berbelanja, mereka kembali ke kost. Yunita memasak dengan senang. Di dapur kecil kost itu, ia bersenandung pelan, kadang tertawa ketika Santa menggodanya dari balik pintu, menawarkan bantuan yang justru malah merepotkan. “Udah duduk aja di situ, Aa. Jangan bikin minyaknya nyiprat ke baju kerja,” kata Yunita sambil menahan senyum. Setelah makanan siap, mereka makan bersama. Sambil menyendok nasi ke piring, Yunita menatap tumpukan dus di pojok kamar. “Dus-dus itu isinya kan mainananak… buat apa A? Sejak semalam saya penasaran…” Santa terkekeh. “Ya mainan tentu buat main-main….” “Iya, pasti buat main-main?” Yunita menaikkan alis. “Tapi buat mainan siapa?” Santa menatapnya dengan serius, tapi senyumnya tidak hilang. “Mainan anak kita nanti. Kan biar nggak perlu beli-beli lagi.” Yunita memutar mata, tidak percaya. “Aa bohong ya…” Santa tertawa lebih keras. “Iya, iya… sebenarnya itu saya bantuin temen. Jualan mainan anak-anak. Iseng-iseng. Dititipin ke warung-warung kecil, sistemnya konsinyasi. Dua minggu sekali saya ambil hasilnya, 60-40 sama yang punya warung, lalu isi ulang lagi.” Yunita menatap Santa penuh kagum. “Aa tuh selalu bikin saya makin jatuh cinta…” Setelah makan dan membereskan dapur kecil, Santa bersiap berangkat kerja. Sebelum melangkah ke luar, ia berdiri di depan Yunita. “Aa berangkat ya… Tapi ada satu hal yang penting…” katanya sambil mengangkat tangannya. Yunita menatapnya heran. Santa menundukkan tangannya. “Cium dong tangannya… Saya ini suamimu.” Yunita tertawa, lalu mencium tangan Santa dengan penuh cinta. “Selamat bekerja, suamiku…” Sepanjang hari, hampir tiap setengah jam sekali Santa mengirim pesan ke Yunita. Mulai dari “Saya kangen,” sampai “Baru aja selesai ngetik laporan, inget Neng.” Yunita hanya tertawa geli membacanya. Ia merasa seperti gadis SMA yang baru jatuh cinta, bukan seorang istri yang tengah hamil. Saat Santa pulang kerja, kamar sudah rapi dan wangi. Makanan terhidang di meja kecil. Mereka makan bersama lagi, dalam keheningan yang nyaman, hanya diselingi senyuman dan sesekali saling menyuapi. Selesai makan, Yunita duduk di sisi Santa. Suaranya tiba-tiba serius. “Aa… saya mau ngomong sesuatu.” Santa menoleh. “Apa, Neng?” “Aku pengen kita tinggal bareng selamanya. Tapi bukan di kost ini.” Santa tampak bingung. “Kenapa?” “Ruangan ini terlalu sempit, Aa. Dan… yang lebih penting, saya takut. Takut kalau tiba-tiba Toni datang…” Wajah Santa mengeras mendengar nama itu. Tapi sebelum Santa sempat berkata, Yunita melanjutkan. “Aa, saya udah urus semuanya. Saya panen kemarin, hasilnya lumayan. Dan… ada apartemen milik teman saya yang kosong. Temen saya lagi di luar negeri, dia tawarin buat dipakai. Yang penting bayar IPL aja. Semuanya sudah saya atur.” Santa terdiam lama. Ia tahu, hidup bersama Yunita adalah anugerah, tapi menjadi kepala rumah tangga dengan tanggung jawab besar tetap saja membuatnya gentar. “Kamu yakin?” tanyanya. Yunita menggenggam tangan Santa. “Saya nggak minta apa-apa dari Aa. Cuma minta kita bisa hidup seperti suami istri… tanpa takut diganggu siapa pun. Dan saya percaya, Aa pasti bisa jadi imam yang baik, di mana pun tempatnya.” Santa menatap istrinya lama. Lalu mengangguk perlahan. “Kalau begitu, kita pindah…” ** Beberapa hari kemudian, saat libur kerja, Santa memutuskan untuk menyelesaikan satu hal penting: berpamitan secara baik. Kost itu, meski sempit, sudah menyimpan banyak kenangan dalam hidupnya. Tempat pertama ia berteduh saat merantau ke Jakarta, tempat ia merenung sendiri sebelum akhirnya menikahi Yunita. Dan kini, waktunya berpindah ke tempat baru, bersama keluarga baru. Ia berjalan santai ke gang depan, menuju rumah Ana, ibu kost yang selama ini mengelola tempat itu dengan hangat dan sabar. Suami Bu Ana sedang ada pekerjaan di luar kota, sudah seminggu, begitu kabar yang Santa dengar beberapa hari sebelumnya. Tapi saat ia melangkah masuk ke halaman kecil rumah itu, hatinya langsung disergap rasa aneh. Pintu terbuka. Suara sandal gesek lantai terdengar dari dalam. Didit. Ya, Didit, tetangga kost Santa, lelaki muda yang biasa bercanda di sore hari, tampak duduk di ruang tamu rumah Bu Ana. Berdua dengan Ana. Ekspresinya gugup. Wajahnya tidak menyambut Santa dengan ceria seperti biasanya, malah terlihat cemas, seperti seseorang yang ketahuan berada di tempat yang seharusnya tidak ia datangi dalam keadaan seperti itu. “Eh, Santa… Masuk, Nak, dengar-dengar kamu mau pindah ya?” sapa Ana, terdengar ramah, tapi suara itu sedikit bergetar. Santa masuk, menunduk sopan. “Iya, Bu. Saya dan istri mau pindah ke tempat yang sedikit lebih luas. Bukan karena nggak betah di sini. Saya malah sangat nyaman... cuma kami perlu ruang tambahan untuk anggota baru keluarga…” Ia menoleh sebentar, lalu menambahkan pelan, “Yang masih dikandung istri saya…” “Wah, selamat ya, Nak…” kata Ana cepat, suaranya terkesan ingin segera mengganti topik. Tapi Santa tak buru-buru bicara. Matanya sempat melirik Didit, yang hanya mengangguk gugup dan kembali menunduk. Lalu mata Santa melihat ke rak foto kecil di sudut ruang. Foto keluarga Ana berdiri di sana, termasuk suaminya, Rudi. Ana bangkit, menutupi kegugupannya dengan menawarkan minum. Saat berjalan ke dapur, Santa tak sengaja melihat di sudut ruang, sebuah bantal kecil, botol vitamin kehamilan, dan… secarik kertas kontrol dokter kandungan. Ternyata Ana pun sedang mengandung. Jantung Santa berdegup pelan, tak ingin menyimpulkan terlalu jauh. Tapi kehadiran Didit di rumah Ana, di tengah absennya suami Ana, dan informasi kehamilan Susan yang sedang menyebar di antara penghuni kost membentuk satu benang yang tak nyaman di kepala Santa. Namun ia bukan orang yang mudah menuduh. Santa hanya tersenyum tipis. “Titip salam buat Pak Rudi ya, Bu. Terima kasih karena sudah mengizinkan saya ngekost di sini.” Lalu melanjutkan, “terima kasih, juga buat Ibuu. Saya nggak akan lupa semua kebaikan Ibu.” Ana tersenyum, tetapi pandangan matanya sekejap bertabrakan dengan mata Didit, dan dalam sekejap itu, Santa tahu ia tak salah menduga bahwa sesuatu sedang disembunyikan. Setelah berpamitan, Santa menyusuri lorong kamar kost satu per satu. Rido menepuk bahunya, Tirta menyodorkan genggaman tangan yang cepat dan tak banyak bicara. Susan menyusul paling akhir. Perutnya mulai membuncit. Ia berdiri berdampingan dengan Tirta. “Selamat ya, Santa…” ucapnya pelan. Santa membalas senyum. “Terima kasih, Mbak Susan. Jaga kesehatan, ya…” Susan mengangguk, pelan. Lalu menunduk. Semburat merah tipis muncul di pipinya. Santa pamit tanpa drama. Tapi di dalam hatinya, ia membawa satu perasaan yang sulit dijelaskan: seperti meninggalkan sebuah tempat, tapi tidak seluruh kisah bisa ditinggal. Ada sesuatu yang tertinggal. Sesuatu yang akan menyusul mereka… suatu hari nanti. ** Santa dan Yunita tiba di apartemen. Letaknya di Jakarta Timur. Bangunannya tidak mewah, tapi bersih dan terawat. Apartemen kelas menengah yang nyaman. Santa tertegun begitu membuka pintu. Ada ruang tengah mungil, satu dapur bersih, satu kamar tidur, kamar mandi dalam, dan balkon kecil tempat menjemur pakaian. Bagi Santa, ini seperti mimpi. “Ini… beneran kita boleh tinggal di sini?” tanyanya. Yunita tertawa pelan. “Iya, Aa. Anggap saja ini rumah kita sekarang.” Setelah beres-beres, Santa merebahkan diri di kasur. Baru saja ia hendak memejamkan mata, sebuah notifikasi WA masuk. Dari Rina, adiknya. Pesan itu membuat Santa bangun dan duduk tegak. “Aa… maaf, aku nggak bisa jaga rahasia. Teh Yunita ngirim uang 5 juta buat Ibu. Katanya jangan bilang Aa. Tapi Ibu nggak mau ada rahasia-rahasia. Jadi disuruh bilang juga…” Santa membaca pesan itu berulang kali. Lalu ia menoleh ke Yunita yang sedang melipat selimut di pojok kamar. Matanya menatap istrinya dengan campuran kagum, haru, dan… cinta yang semakin dalam. “Neng…” bisiknya. Yunita menoleh. Santa tak langsung bicara. Ia hanya berjalan mendekat, memeluk istrinya erat-erat, seolah tak ingin melepaskan. Yunita terdiam. “Aa tahu ya?” Santa hanya mengangguk. “Saya nggak ingin bikin Aa minder… kalau mantu ada rezeki, kan wajar-wajar saja berbagi sama ibu mertua…” Santa membalas pelan, “Saya… saya malu…” Yunita meneteskan air mata di d**a Santa. Tak ada kata yang lebih pas. Tak ada pelukan yang lebih dalam dari malam itu. Hening yang nyaman menyelimuti, sesekali terdengar suara kendaraan dari jalan besar di kejauhan. Tiba-tiba, ponsel Yunita yang tergeletak di meja bergetar. Notifikasi w******p muncul. Yunita sempat ragu membuka, tapi karena penasaran, ia melirik. Lalu wajahnya langsung berubah. Tak marah, tak panik, hanya lelah. Dengan suara tenang, ia berkata: “Aa, ini… kamu saja yang balas.” Santa menoleh. “Siapa?” “Dia,” jawab Yunita, menyerahkan ponsel tanpa menyebut nama. “Toni.” Santa menghela napas. Ia membaca isi pesannya: "Sayang, kamu apa kabar? Maafin aku ya… aku siap menikahimu." Santa menatap Yunita. “Kamu masih mau balas?” Yunita menggeleng. “Saya sudah selesai sama dia. Udah muak.” Santa terdiam sejenak, lalu berkata lembut, “Kalau kamu berkenan, boleh ngggak nomornya diganti saja? Biar benar-benar terputus semua…” Yunita tersenyum, seolah lega Santa yang lebih dulu mengusulkan itu. “Gak cuma berkenan. Saya malah minta Aa beliin kartunya sekalian. Pasangin, isi pulsa, isi paket data, dan… buka aja semua isi HP saya. Kalau ada yang mau Aa balas, balas aja. Saya mau kita terbuka dalam segala hal.” Santa tertegun. “Neng… kamu yakin? Gak perlu segitunya kali… kan ada privasi juga.” Tapi Yunita memegang tangan Santa, matanya tajam tapi lembut. “Aa koq ngomong privasi sama istri? Suami-istri itu gak ada privasi-privasian. Saya juga mau tahu password HP Aa. Kalau gak ngasih tahu, berarti Aa nyembunyiin cewek di sana… jelas?” Santa terkekeh. “Iya iya… tenang. Gak ada yang disembunyiin. Password HP Aa: WastuSantayun2025.” Yunita terdiam sesaat. “Hah? Nama siapa itu?” Santa tersenyum. Ia menggenggam tangan Yunita erat. “Nama anak kita nanti… kalau kamu berkenan. Wastu itu doa agar hidupnya lurus, benar. Dan Santayun… itu nama gabungan nama kita. Karena anak ini akan jadi bukti kita pernah saling percaya… dan bertahan.” Yunita menutup mulutnya dengan tangan. Matanya basah. “Aa… kamu…” Santa belum sempat menyelesaikan kalimat, Yunita sudah memeluknya. Erat. Lama. Seolah ingin meyakinkan diri bahwa laki-laki ini benar-benar nyata, bukan hanya pengganti, bukan pelarian, tapi rumah. Dalam pelukan itu, Santa membalas, pelan. “Neng, saya gak janji hidup kita bakal selalu mudah. Tapi saya janji, saya gak akan kabur dalam masalah apapun. Kita jalanin semua ini bareng-bareng.” Yunita mencium d**a Santa, mendengar detak jantungnya. “Itu yang paling saya mau, Aa. Bareng-bareng dalam senang dan susah….” Ucap Yunita dengan penuh keyakinan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN