“Tak semua orang punya keberanian untuk berkata jujur seperti ini. Dan tak semua laki-laki mau menanggung beban yang bukan akibat dari dirinya…”
***
Hari-hari di apartemen menjadi lembaran baru yang tenang dan hangat bagi Santa dan Yunita.
Meski awalnya kikuk, Santa perlahan mulai terbiasa dengan ritme hidup yang jauh berbeda dibandingkan kos-kosan lamanya.
Tidak ada keributan tetangga yang ngobrol di depan kamar kost. Yang ada hanyalah dentingan pelan lift, sapaan ramah satpam, dan aroma wangi dari dapur kecil tempat Yunita biasa memasak nasi hangat dan sayur bening kesukaan Santa.
Setiap pagi mereka saling membantu: Santa menyiapkan teh, Yunita mengaduk menanak nasi.
Mereka tertawa saat Santa kebingungan menyalakan pemanas air atau saat ia pertama kali mencoba menyetel televisi dengan remote yang rumit.
Tapi tak satu pun dari kekikukan itu membuat Yunita jengah. Sebaliknya, ia merasa bahagia. Santa adalah pria yang belajar, dan setiap detiknya, Yunita melihat cinta itu tumbuh di mata suaminya.
Santa rajin mengantar Yunita ke dokter kandungan. Tangannya selalu menggenggam tangan istrinya di ruang tunggu, bahkan saat wajah Yunita pucat karena mual dan punggungnya pegal karena kandungan makin berat. Santa ada. Selalu ada.
Hingga akhirnya, hari itu tiba.
Tangis pertama bayi laki-laki mereka memecah ruang bersalin. Santa menunduk haru, mengucap syukur berkali-kali.
Di tangannya, ia menggendong buah hati mereka, kecil, merah, mungil. Mereka memberi nama: Wastu Santayun. Nama yang mengikat dua jiwa dan satu kehidupan baru yang mereka pelihara bersama.
Dua minggu setelah kelahiran, Santa menempuh perjalanan ke Banjarsari.
Dia menjemput ayah Yunita, Pak Darta, dengan hati yang berdebar. Ia tahu waktunya telah tiba. Tidak bisa selamanya mereka sembunyi dalam kenyamanan. Ada kesalahan fatal yang harus diobati dengan keberanian, bukan kebohongan.
**
Di ruang tamu apartemen yang hangat dan sederhana, senja menelusup lewat kaca jendela balkon, menyisakan bayang-bayang lembut di dinding.
Wastu Santayun, bayi mungil yang baru dua minggu dilahirkan, tertidur pulas, dengan napas teratur dan wajah yang damai.
Yunita bersimpuh di lantai, tubuhnya sedikit gemetar, kedua tangan menggenggam lutut ayahnya yang duduk di kursi roda.
Santa duduk di sampingnya, menggenggam tangan istrinya dengan erat, tak berkata apa-apa, hanya memberikan kekuatan lewat genggaman.
“Ayah...” suara Yunita parau, nyaris berbisik. “Maafkan saya... Saya menyesal... tapi saya harus jujur mengatakannya. Sebenarnya, saya hamil duluan sebelum menikah. Toni… dia yang melakukannya… dan dia pergi meninggalkan saya, tak bertanggung jawab…”
Kepala Yunita menunduk makin dalam. Bahunya berguncang pelan. Tangisnya terpendam, tetapi tetap pecah. “Tapi A Santa yang datang. A Santa… yang menyelamatkan saya. Menyelamatkan bayi ini, menyelamatkan harga diri keluarga kita…”
Darta diam.
Pandangan lelaki tua itu menatap ke depan, tak langsung bicara. Lalu ia mengangkat wajahnya, memandang lekat-lekat wajah Santa.
Lalu matanya beralih… ke cucunya. Bayi mungil yang tidur tenang, dengan selimut biru muda dan boneka kecil di sisinya.
Sunyi.
Yang terdengar hanya detik jam dan helaan napas berat. Santa menggenggam tangan Yunita lebih erat. Yunita mengusap matanya, berusaha tegar.
Darta akhirnya bersuara. Suaranya serak. Lirih.
“Tak semua orang punya keberanian untuk berkata jujur seperti ini. Dan tak semua laki-laki mau menanggung beban yang bukan akibat dari dirinya…”
Santa masih menunduk. Tapi matanya berkaca-kaca.
“...Tapi kalau kalian berniat membangun hidup di atas kejujuran dan tanggung jawab… dan siap berada di rel yang benar…” suara Darta bergetar.
“Saya ikhlas.”
“Saya maafkan.”
Yunita langsung menangis, memeluk ayahnya erat-erat. Tangis yang selama ini ia tahan, akhirnya pecah dalam pelukan seorang ayah yang membesarkannya dengan penuh kasih sayang.
“Maafkan anakmu ini, Yah… Maaf… Maaf…”
Darta mengelus kepala putrinya. “Kamu tetap anak Ayah, Nak. Semua orang pernah salah. Yang penting, kamu mau berubah. Mau jujur. Mau bertanggung jawab. Itu sudah lebih dari cukup.”
Santa berdiri. Menunduk di depan Darta.
“Terima kasih, Pak. Saya… akan menjaga anak bapak, dan cucu bapak… seumur hidup saya.”
**
Beberapa hari kemudian, menjelang malam, Ustadz Saeful datang ke apartemen, ditemani oleh dua santri muda. Mereka mengenakan sarung dan peci hitam.
Suasana hening, hanya terdengar suara dzikir lembut dari speaker kecil di pojok ruangan. Di tengah ruangan, duduklah Santa dan Yunita. Di sisi mereka, Darta duduk sebagai wali nikah.
Lampu ruang tamu diredupkan. Tidak ada hiasan pesta. Tapi di atas meja, ada setangkai bunga melati dalam vas kecil, harum dan sederhana.
Ijab kabul pun dimulai.
“Saudara Santa, saya nikahkan anda dengan Yunita binti Darta dengan mahar seperangkat alat salat dan cincin emas 5 gram, dibayar tunai.”
“Saya terima nikahnya Yunita binti Darta…” suara Santa mantap, tegas, tanpa ragu. “... dengan mahar tersebut, dibayar tunai.”
Beberapa detik… hening. Lalu dua santri mengangguk dan berkata bersama, “Sah.”
Air mata mengalir di pipi Yunita.
Santa menghela napas lega, lalu mencium kening istrinya. Kali ini, bukan sebagai lelaki yang menyelamatkan, tapi sebagai suami yang telah disahkan di hadapan langit dan bumi.
Ustadz Saeful lalu berdiri, menyampaikan petuahnya.
“A Santa, Neng Yunita, secara administrasi negara, kalian memang sudah sah sejak lama. Tapi hari ini, kita teguhkan niat kalian di hadapan Allah. Mulai detik ini, hubungan kalian adalah ibadah. Kalian halal seutuhnya.”
Suara Ustadz menjadi berat tapi hangat.
“Jangan bangun rumah tangga hanya karena ingin menghapus jejak kesalahan. Bangunlah karena ingin menciptakan cinta. Rumah tangga itu bukan soal nafsu, tapi tentang sabar, ikhlas, dan saling menghargai, saling menghormati. Kalau kalian pernah melewati ujian berat, insya Allah, kalian akan bisa bahagia bersama-sama.”
Yunita memandang Santa. Santa membalas tatapannya. Mata mereka sama-sama basah.
Kini, mereka hanya ingin membangun rumah tangga dengan saling mencintai dan dengan cara yang benar.
**
Malam itu, setelah bayi mereka tertidur dan suasana hening, Santa dan Yunita kembali berada dalam pelukan. Cahaya lampu remang menyinari wajah mereka.
Yunita mulai mencumbu Santa dengan lembut, matanya teduh tapi penuh rindu yang telah lama tertahan. Tangan Yunita menyentuh milik Santa yang sudah sejak tadi menegang.
“Sayang…” bisik Yunita. “Dokter memang bilang harus tunggu enam minggu, tapi… kalau kamu mau, saya bisa memuaskanmu dengan cara lain.”
Tangannya mulai menyentuh, dan wajahnya mendekat, ingin mengulum. Tapi Santa menahan dengan lembut.
“Neng… saya sangat menginginkanmu. Sangat. Tapi… saya belum pernah melakukannya. Sama sekali. Saya ingin, untuk yang pertama kali, saat saya melakukannya bersama kamu… itu akan menjadi momen yang utuh, suci, dan penuh cinta. Bukan sekadar pelampiasan.”
Yunita menatapnya dalam diam. Lalu memeluk Santa sangat erat.
“Kalau begitu… Aa akan menunggu saya siap? Mungkin… sebulan lagi…”
Santa mengangguk. Ia memeluk istrinya. Di pelukan hangat malam itu, mereka bukan hanya suami dan istri. Mereka adalah dua hati yang telah melewati badai, dan kini belajar mencintai dengan cara yang paling sabar.
**
Suatu senja. Santa membenahi selimut yang menyelimuti tubuh kecil Wastu, lalu duduk bersisian dengan Yunita di tepi ranjang.
Mereka menikmati senja yang mengendap di balik kaca balkon, sembari berbagi cerita-cerita kecil yang menghangatkan hati. Hari itu berjalan damai, hingga suara ketukan pintu memecah keheningan.
Tok… tok… tok…
Santa menoleh ke arah pintu, lalu berjalan membukanya dengan langkah santai.
Saat daun pintu terbuka, ia terdiam sejenak. Di ambang pintu berdiri Susan, tetangga lamanya, dengan perut yang terlihat jelas membuncit, jelas tengah hamil besar.
Di sebelahnya berdiri seorang pria muda dengan raut wajah canggung, Tirta, mantan tetangga kost mereka.
Susan dan Tirta sama-sama menunduk, seperti menyimpan beban yang berat di d**a.
Yunita ikut berdiri dari tempat tidur, berjalan mendekat dengan tatapan bingung. Matanya sempat menatap perut Susan, lalu bergeser ke Tirta. Santa pun bertanya dalam hati: Mengapa Susan datang bersama Tirta? Dan… ke mana Rido, suaminya?
Mereka semua saling berpandangan, dalam hening yang tegang dan penuh tanda tanya.
Ada sesuatu yang hendak diungkapkan, sesuatu yang mungkin akan membuka lembaran baru, atau… kesalahan baru.