Tanpa bicara, bibir mereka bertemu. Lembut, pelan, lalu memburu. Tirta menarik pinggang Susan, tubuh mereka melekat erat, dan tangan Susan menyusup ke balik kaus Tirta, meraba d**a kerasnya.
***
Malam mulai turun perlahan di langit kost-kostan sederhana milik Bu Ani. Daun-daun pepohonan trembesi di halaman depan bergerak malas diterpa angin lembut.
Di dalam kamar nomor 5, Tirta duduk bersandar di ranjang tipis, tubuhnya hanya berbalut celana pendek olahraga.
Lampu kamar redup, dan kipas angin menderu pelan. Tapi bukan panas yang membuat tubuhnya berkeringat malam itu.
Suara dari kamar sebelah, kamar nomor 4, mengusik pikirannya. Desahan halus, rintihan tertahan, dan detak ranjang yang ritmis terdengar begitu jelas di malam yang sunyi. Itu suara Susan. Tidak salah lagi.
Tirta menutup matanya sejenak. Nafasnya mulai berat. Ia bisa membayangkan dengan jelas tubuh putih mulus Susan, bagaimana payudaranya berguncang pelan, bibir merah basahnya terkatup setengah, dan kaki jenjangnya melingkar di pinggang suaminya, Rido.
Ia mendengar nama Rido dipanggil oleh Susan dengan nada lirih dalam nafas cepat yang terputus. Tapi justru nama itulah yang membuat imajinasinya jadi gelap.
Tirta menggenggam selimut, menekannya ke pahanya yang mulai menegang. Ia ingin membenci Rido, tapi justru merasa lebih terikat dengan suara Susan. Malam itu, ia tidak bisa tidur.
**
Siangnya, dapur kost sepi. Hanya bunyi air keran dan dentingan piring yang disusun Susan ke rak. Rambutnya diikat ke atas, memperlihatkan leher jenjang dan tengkuk mulus yang berkeringat pelan. Tirta datang diam-diam, berdiri di belakangnya.
"Suaramu semalam..." Tirta bicara pelan, hampir seperti berbisik. "Membuatku sulit tidur."
Susan berhenti. Tangannya masih memegang piring, tapi tubuhnya menegang. Ia tidak menoleh. Bibirnya tersenyum kecil.
“Maaf kalau mengganggu...” katanya, tenang. “Tapi... mungkin itu tandanya kamu harus segera menikah, Tirta. Supaya bisa tidur nyenyak dengan istrimu sendiri.”
Tirta maju selangkah. Napasnya hangat di belakang telinga Susan.
"Aku cuma ingin menikah sama kamu, San."
Susan menutup matanya. Ada sesuatu yang menggetar dari suaranya. Bukan gombal murahan, bukan nafsu semata, tapi obsesi yang dalam. Ia berbalik, dan wajah mereka hanya terpisah sejengkal.
Tanpa bicara, bibir mereka bertemu. Lembut, pelan, lalu memburu. Tirta menarik pinggang Susan, tubuh mereka melekat erat, dan tangan Susan menyusup ke balik kaus Tirta, meraba d**a kerasnya.
Ciuman mereka menjadi kelaparan yang ditahan terlalu lama. Susan membuka kancing blusnya satu per satu. Pucuk payudaranya sudah mengeras, matanya penuh bara.
Namun saat Tirta membuka resleting celananya, mendadak suara knalpot motor masuk ke pelataran kost.
Mereka panik. Susan buru-buru menarik kembali bajunya, wajahnya memerah karena terganggu. Tirta langsung kabur ke kamarnya, tanpa menoleh lagi.
Malamnya, suara itu kembali terdengar oleh Tirta.
**
Keesokan harinya, ruang tamu kost dipenuhi para penghuni. Rido duduk di pojok, tenang seperti biasa.
Susan duduk di sampingnya, tersenyum sopan sambil menyesap teh. Tirta datang terakhir, dan hanya bertukar pandang singkat dengan Susan.
Didit dan Puka ribut soal pakaian yang akan mereka kenakan ke pernikahan Santa di Banjarsari. Ana, pemilik kost, datang membawa kabar.
“Kalian boleh pinjam mobilku buat ke pernikahan Santa, asal ada yang mau nyetir.”
“Aku aja, Bu!” seru Darto semangat.
Ana tersenyum. “Dan buat yang mau sekalian ikut aku ke Pangandaran, suamiku udah nyiapin hotel. Kalian tinggal bawa badan aja. Anggap aja liburan bareng.”
Semua bersorak setuju. Kecuali Rido.
“Aku cuma bisa ikut sampai Banjarsari,” katanya pelan. “Ada deadline kantor yang nggak bisa kutinggal.”
Susan menunduk pura-pura kecewa. “Sayang banget...” gumamnya.
Tapi di dalam hatinya, ia merayakan diam-diam. Sebuah liburan, jauh dari suami, bersama Tirta. Ia bahkan tidak perlu mencari-cari alasan. Rido sendiri yang memberi izin.
“Ya sudah,” ujar Ana. “Susan sekamar sama aku aja nanti.”
Susan tersenyum. “Iya, Bu...”
Rido tampak merasa lega.
Mata Susan mencari Tirta di antara rapat kecil itu. Dan mata Tirta sudah lebih dulu menatapnya. Diam, dalam, dan penuh janji.
**
Pagi hari, aroma daun pandan dan plastik dari besek oleh-oleh memenuhi kabin mobil.
Darto duduk di kursi pengemudi, mengenakan batik cokelat yang masih menyisakan bekas lipatan sablon toko, seperti baru dibeli semalam.
Rambutnya masih lembap, ditata asal seperti baru dikeringkan setengah jam lalu. Tapi senyum tak lepas dari wajahnya.
Matanya bersinar penuh semangat. Santa, sahabatnya yang sering main futsal bareng, akan menikah hari ini.
“Yang penting rapi, bukan mahal,” kata Darto enteng sambil menyalakan mesin mobil.
Di sampingnya, Ana tampak duduk dengan elegan dalam balutan kerudung mint dan gamis hijau pastel.
Wajahnya bersih, pucat kemerahan tanpa riasan berlebih, hanya sedikit lip balm yang membuat bibirnya terlihat segar.
Di pangkuannya, dua besek rotan tersusun rapi, berisi oleh-oleh dari Jakarta untuk keluarga Santa, lemper daun pisang, kue basah, dan beberapa botol kecil sambal terasi buatan sendiri.
Tangannya menggenggam ponsel, sesekali membuka Google Maps dengan telunjuk yang berhias cincin kawin emas tipis.
Matanya fokus, tapi sesekali menoleh ke arah Darto yang sedang asik menyetir sambil menyenandungkan lagu dari radio.
"To... jangan ngebut ya," katanya pelan, dengan nada tenang tapi tegas. "Aku... lagi isi dua bulan."
Darto sontak menoleh, dan secara refleks kakinya mengurangi tekanan pada pedal gas. Mobil melambat sedikit.
"Astaga, Bu Ana... serius?" suaranya agak meninggi karena kaget, tapi juga senang.
Ana mengangguk, senyumnya kecil tapi dalam. "Belum banyak yang tahu. Aku masih belum terlalu percaya diri bilang-bilang... Tapi ya, ini hadiah kecil dari Tuhan. Di umur segini."
Darto terdiam sejenak, lalu tertawa kecil, tidak percaya. "Wah... selamat ya, Bu. Semoga sehat terus, ibunya... juga bayinya."
Ana mengangguk lagi, lalu membenarkan posisi duduknya. Matanya kini menatap jalanan di depan, tapi pikirannya entah ke mana.
Ada harapan baru dalam napasnya, tapi juga bayang-bayang ketakutan.
Kehamilan di usia 35, meski tidak mustahil, tetap mengandung risiko. Dan diam-diam, tubuhnya memang sering lelah belakangan ini.
Ia melirik kaca spion. Terlihat bayangan Susan yang tertawa kecil di jok tengah, diselingi wajah serius Tirta dan Rido yang sibuk sendiri dengan ponselnya. Ana menghela napas pelan.
Dunia di dalam mobil itu terasa penuh cerita, ada yang menyimpan cinta diam-diam, ada yang mengandung kehidupan baru.
Dan ada juga yang sedang tumbuh menuju arah yang mungkin berbahaya.
Di jok tengah, Susan duduk di antara dua lelaki: suaminya, Rido, dan Tirta. Kebaya biru langit yang dipakainya membalut tubuhnya dengan pas, mengikuti lekuk payudaranya yang naik-turun saat bernapas.
Kain batiknya serasi, duduk manis di pahanya yang saling rapat. Rambut disanggul rapi, dengan sisa aroma melati yang samar. Ia duduk anggun, tapi matanya tak henti mencuri pandang ke kanan, ke arah Tirta.
Rido di sisi kirinya tampak tenang seperti biasa. Mengenakan peci hitam dan kemeja batik biru tua, ia melipat tangan di pangkuan dan tersenyum pada obrolan ringan dari belakang.
Sesekali ia menoleh pada istrinya, menanyakan apakah AC-nya cukup dingin, atau ingin air mineral.
Tirta duduk diam di sisi kanan Susan. Batik merah marun membingkai tubuh atletisnya, dan ia terlihat lebih rapi dari biasanya.
Tapi matanya tak pernah jauh dari Susan. Kadang menatap jemari lentiknya yang menggenggam clutch kecil. Kadang pada kerah kebaya yang menyisakan garis halus lehernya.
Dan sesekali, saat Rido menoleh ke arah lain, pandangan mereka bertemu, sebentar saja, tapi cukup untuk membuat jantung Susan berdetak sedikit lebih cepat.
Di jok belakang, Didit dan Puka ribut tak henti-henti.
“Dit, itu batik Darto kek punya bapakku, deh. Lengan kepanjangan, kerah kegedean,” goda Puka sambil tertawa.
Didit menimpali, “Tapi semangatnya juara, bro. Liat tuh, kayak mau ngelamar aja, bukan kondangan!”
Darto tertawa dari depan. “Yang penting ikut nyumbang kebahagiaan, bro. Kalian bawa amplop, kan?”
“Tentu dong. Isinya... doa!” sahut Didit.
Mobil meledak oleh tawa. Tapi di tengah riuh itu, hanya Susan dan Tirta yang diam. Senyum Susan mengembang pelan, menanggapi candaan, tapi kakinya bergerak pelan di bawah kain batiknya.
Sedikit saja, menyentuh lutut Tirta di bawah jok.
Tirta menegang. Tapi ia tak bergeser. Tak menjauh.
Justru diam.
Rido sedang sibuk mengecek Google Maps di ponsel Ana, tak menyadari bagaimana jari jemari istrinya kini bergerak pelan di atas pahanya sendiri, seperti mengusap kain.
Tak ada yang mencurigakan. Tapi Tirta tahu. Dan tubuhnya mulai merespons, meski ia berusaha tetap diam, tetap sopan.
Sampai akhirnya Susan menoleh sedikit ke kanan, berpura-pura menyapa Ana di depan.
“Kata Bu Ana, sebentar lagi nyampe...”
Suara lembutnya menusuk ke dalam d**a Tirta. Tapi bukan kata-katanya. Bukan wajahnya. Melainkan aroma tubuhnya, aroma bunga dan kulit dan sabun lembut yang masih tertinggal dari sejak ia naik ke mobil.
Dan Tirta tahu satu hal.
Ia sedang jatuh. Tapi bukan cinta. Bukan sepenuhnya nafsu. Sesuatu yang lebih gelap, lebih dalam. Ketertarikan yang mengaburkan batas, yang menyiksa diam-diam.
Ia melirik Rido. Lelaki yang begitu tenang. Begitu percaya. Sialnya... terlalu percaya.