Ingin Istri Tetangga (2)

1238 Kata
Malam itu, ranjang kamar hotel menjadi altar yang mengantar mereka pada bentuk paling liar dari hasrat manusia. Desahan tertahan. Ciuman di leher. Jemari yang menggenggam pinggang. Kaki Susan yang melingkar ke pinggang Tirta. *** Mobil tiba di depan sebuah rumah di Kampung Pasir Endah, Banjarsari, tempat pernikahan Santa dan Yunita yang berlangsung dengan sederhana. Jauh dari gemerlap pesta atau dentuman musik organ tunggal seperti yang biasa terdengar di pernikahan-pernikahan desa. Tak ada panggung pelaminan berhias emas, tak ada hiasan plastik menyilaukan, tak ada MC berteriak-teriak lewat mikrofon. Namun justru dalam kesederhanaan itu, pernikahan mereka terasa begitu agung dan khusyuk. Di halaman rumah orangtua Yunita, hanya beberapa rangkaian bunga melati dan kenanga menghiasi sudut-sudut kecil, menggantung malu-malu di pagar bambu dan tiang penyangga tenda seadanya. Tikar-tikar pandan dibentangkan di atas tanah yang bersih, teduh di bawah naungan pohon mangga besar yang sudah puluhan tahun berdiri. Langit cerah, biru tanpa cela. Angin berembus lembut dari sawah di kejauhan, membawa aroma tanah, bunga, dan ketenangan. Seolah alam sendiri ikut menjadi saksi dari sebuah janji suci yang diucapkan dengan penuh kesadaran dan ketulusan. Yunita, dalam balutan kebaya putih sederhana, berdiri di samping Santa dengan wajah tenang. Meski ia seorang janda, wajahnya terlihat muda, bersih, dan cantik alami. Ia tak memakai riasan tebal, hanya bedak tipis dan gincu merah muda. Tapi justru itulah yang membuat pesonanya menyentuh, seperti keindahan yang tidak mencoba memikat, namun justru tak bisa dihindari. Beberapa kali, mata Tirta mencuri pandang ke arahnya, kagum. Tapi hanya sesaat, karena setiap kali ia mengalihkan pandangan ke arah kiri, matanya justru bertemu dengan pandangan Susan. Dan dalam tatapan-tatapan itu, cepat, singkat, tapi membakar, terselip rindu yang tak bisa mereka ucapkan. Rido, berdiri di antara para tamu pria, tak menyadari apa pun. Ia tersenyum, menyalami Santa dengan tulus, dan mengucapkan doa-doa baik seperti pria dewasa yang tahu persis bahwa hidup tak melulu tentang gairah, tapi tentang perjuangan membangun dan mempertahankan rumah tangga. Namun di antara tikar pandan, bunga kenanga, dan janji-janji suci itu, ada sesuatu yang diam-diam tumbuh. Hasrat yang ditahan terlalu lama. Pandangan yang dibiarkan menggantung. Nafas yang menunda ucapan. Dan waktu... masih panjang. Setelah acara makan siang sederhana di tikar pandan, rombongan kost berpamitan kepada Santa dan Yunita. Santa menyalami satu per satu, matanya masih sembab tapi senyumnya penuh lega. “Doain kami ya... semoga langgeng.” “Insya Allah,” jawab Rido sambil menepuk pundaknya. “Langgeng dan bahagia, Santa.” Yunita membungkuk sopan kepada para tamu, dan saat bersalaman dengan Susan, keduanya saling bertukar senyum yang samar namun dalam. Ada pengertian yang tak perlu dijelaskan di antara mereka, sama-sama perempuan. Rido, setelah berpamitan, langsung beranjak menuju jalan utama. Ia mau naik bis Budiman ke Jakarta, mengejar pekerjaan yang sudah menunggunya. Dengan tenang, ia mencium kening Susan sebelum naik ke bis. “Kamu hati-hati di jalan, ya,” ucapnya. Susan mengangguk, matanya lembut. “Iya. Kamu juga.” Tapi ketika bis itu perlahan menjauh dan hanya menyisakan kepulan debu merah di jalanan desa, ada sesuatu yang mengendur di dalam d**a Susan. Napasnya terasa lebih lapang. Ia tak perlu lagi berpura-pura sopan. Tak perlu lagi menahan tatapan. Dan begitu ia masuk kembali ke mobil, hanya ada Tirta di jok tengah bersamanya. Tak ada lagi penghalang. Ana dan Darto tetap di kursi depan. Didit dan Puka kembali di jok belakang, masih ribut dengan sisa camilan dari prasmanan. Tapi di barisan tengah, udara mulai berubah. Tak ada suara antara Susan dan Tirta, tapi tubuh mereka saling mendekat, seolah magnet mulai menarik dengan kekuatan yang tak terbendung. Lengan Susan menyentuh Tirta tanpa sengaja, atau pura-pura tidak sengaja. Dan Tirta tidak bergeser. Jalanan menuju Pangandaran meliuk melewati bukit dan ladang. Langit sore mulai berubah warna jingga, lalu emas pucat. Mobil melaju perlahan mengikuti kontur alam. Dan hati Susan, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, terasa ringan. ** Mereka tiba di Pangandaran menjelang petang. Hotel yang dipesan Rudi tampak menghadap langsung ke pantai, dengan balkon-balkon kecil menghadap laut. Angin pantai menyambut mereka saat turun dari mobil. Ana langsung menuju resepsionis. “Ada tiga kamar. Aku sama Susan,” kata Ana sambil menyerahkan kartu identitas. “Tirta sama Darto. Didit sama Puka.” Tirta dan Susan hanya saling pandang sejenak. Ada kekecewaan kecil di mata mereka, tapi juga tanda tanya. Segalanya masih mungkin. Setelah masuk kamar dan meletakkan barang, mereka keluar menuju pantai untuk menikmati senja. Para lelaki segera berganti baju dan berenang. Didit berteriak-teriak seperti anak kecil, Puka melompat ke ombak kecil, dan Darto justru berenang menjauh dari pantai. Tirta hanya berdiri sebentar di tepi air, lalu perlahan berjalan masuk, membiarkan air laut menyentuh perutnya. Ia melirik ke arah warung bambu di tepian pantai, tempat Susan duduk bersama Ana, menikmati air kelapa muda. Susan mengenakan kaftan tipis, rambutnya tergerai ditiup angin. Ia menatap laut, tapi sesekali menoleh ke arah Tirta. Pandangan mereka saling mencari, saling mencuri, saling menyimpan sesuatu yang belum diucapkan. ** Malamnya, mereka makan malam di warung seafood kecil. Obrolan ringan, tawa, dan gurauan mengalir seperti biasa. Tapi di kamar, suasana berbeda. Lalu, mereka kembali ke hotel. Tirta duduk di balkon bersama Darto, memegang botol teh manis dan ponsel yang terus dicek tiap lima menit. Di depan mereka, ombak menghitam di bawah langit tak berbintang. “Cantik juga si Yunita tadi, ya,” ujar Darto sambil mengunyah keripik kulit ikan. “Bayangin Santa malam ini... gila sih.” Tirta hanya tersenyum tipis. Pikirannya tak pada Yunita. Tapi pada kamar nomor 206, beberapa pintu dari tempatnya duduk sekarang. Lalu ponselnya bergetar. Pesan masuk dari Susan: Bu Ana sudah pindah ke kamar Pak Rudi. Tirta tak perlu berpikir. Ia berdiri, menyelipkan ponsel ke saku. “Mau beli rokok dulu ke depan,” katanya singkat ke Darto. “Oke, sekalian minta tolong beliin camilan ya,” balas Darto tanpa menoleh. Lorong hotel sepi. Tirta berjalan cepat, tapi tetap tenang. Jantungnya berdetak kencang ketika sampai di depan kamar Susan. Pintu terbuka sebelum ia sempat mengetuk. Susan berdiri di sana, dalam balutan satin tipis warna anggur tua. Pundaknya terbuka. Kulitnya berkilau dalam cahaya lampu kuning kamar. Ia tak bicara, hanya menarik Tirta masuk dan menutup pintu dengan satu gerakan. Kunci diputar. Bunyi klik kecil. Dunia luar hilang. “Bu Ana beneran nggak balik lagi kesini?” tanya Tirta, suaranya serak. “Dia tidur sama suaminya,” jawab Susan. “Gak mungkin pindah lagi kemari….” Dan seketika, tak ada lagi yang tersisa di antara mereka selain tubuh dan desir yang tertahan terlalu lama. Tirta mencium Susan dengan dalam. Tak lagi lembut. Tak lagi menunggu. Susan menyambutnya penuh, menanggalkan kain satin yang tinggal menempel seperti kelopak bunga yang gugur. Bra renda hitam hanya bertahan beberapa detik sebelum Tirta melepasnya dengan satu tarikan, lalu membaringkan Susan di ranjang. Malam itu, ranjang kamar hotel menjadi altar yang mengantar mereka pada bentuk paling liar dari hasrat manusia. Desahan tertahan. Ciuman di leher. Jemari yang menggenggam pinggang. Kaki Susan yang melingkar ke pinggang Tirta. Susan tidak lagi menahan diri. Tidak lagi pura-pura kuat. Malam ini, ia ingin dimiliki, bukan oleh suaminya, tapi oleh pria yang diam-diam sudah menghuni setiap mimpinya. Susan menarik kaus Tirta, melepaskannya hingga tubuh kekar itu terbuka penuh. Napas mereka saling mengejar. Tirta menelusuri setiap jengkal kulit Susan dengan bibirnya, dari leher, d**a, perut, hingga bagian terdalam yang sudah basah tanpa disentuh. “Susan...” bisik Tirta di antara ciuman. Susan hanya membalas dengan desahan panjang. “Jangan berhenti...” Dan malam pun berjalan, dengan denting ranjang, bisikan nama, dan seluruh rahasia yang tak pernah boleh keluar dari kamar 206 itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN