Ingin Istri Tetangga (3)

1424 Kata
Tubuh Susan melengkung di dinding yang dingin. Tirta merangkul pinggangnya erat, gerakannya kuat, terpendam, tapi tak terbendung. Satu tangan menutup mulut Susan, agar suaranya tidak keluar. Tapi mata mereka terbuka, memantulkan gairah, cinta, dan sesuatu yang sebenarnya tak boleh ada. *** Mereka kembali ke rumah kost keesokan harinya. Dari Pangandaran, mobil meluncur menuju Jakarta. Sopir yang sama, penumpang yang sama, tawa yang sama, hanya posisi duduk yang berubah. Tirta kini duduk di jok depan, sebelah Darto yang fokus menyetir. Di jok tengah, Susan duduk di sebelah Ana. Dan di belakang, masih tetap Puka dan Didit masih tetap. Mereka mengobrol santai, terkadang tertawa, bercerita tentang berenang di pantai, warung seafood, resepsionis yang ramah, dan lain sebagainya. Susan dan Tirta seolah tak menyisakan apa-apa di kamar nomor 206. Rido menyambut Susan di depan pagar kost dengan wajah hangat. “Capek pastinya ya?” tanyanya. Susan mengangguk, tersenyum. “Lumayan. Tapi segar juga...” Ia mencium tangan suaminya. Pelan, sopan. Dan tak seorang pun akan menduga bahwa bibir yang sama, tadi malam telah mencium tubuh pria lain sampai ia menggigil dan mengerang di atas kasur. Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa, atau paling tidak, kelihatannya begitu. Susan kembali ke rutinitas sehari-hari sebagai ibu rumah tangga: memasak, mencuci, menyiapkan kebutuhan Rido. Ia menyapa para penghuni kost dengan senyum ramah seperti tak ada yang berubah. Tapi setiap kali Tirta lewat di depan pintu kamarnya, atau menuruni tangga ketika Susan sedang menyiram bunga di teras, mata mereka bertemu, dan waktu seolah berhenti sesaat. Mereka tidak bicara banyak. Mereka tidak menyentuh. Tapi ketegangan di antara mereka... semakin tumbuh. Bahkan terjadi ketegangan dengan penghuni kost lain. Hal itu bermula ketika suatu malam, di lantai dua kost, area tempat menjemur pakaian. Saat itu suasana begitu sunyi. Hanya lampu temaram yang menyala kekuningan, memantulkan bayangan samar dari tali-tali jemuran yang kosong. Susan duduk di bangku kayu usang di pojok ruang jemur, mengenakan daster berbunga dengan kancing bagian atas yang tak ia kaitkan lagi. Rambutnya digelung seadanya, sebagian tergerai ke bahu. Tirta duduk di sebelahnya, hanya beberapa jengkal. Tubuh mereka hampir bersentuhan. Obrolan mereka sebenarnya ringan, hanya tentang cuaca, tentang pekerjaan Tirta yang belum jelas minggu ini, tentang betapa keras kepalanya Didit saat main game di ruang tamu. Tapi semua itu hanya lapisan tipis. Di bawahnya, deras arus kerinduan tak lagi bisa disangkal. Susan tertawa kecil, tapi napasnya terdengar lebih berat dari biasa. Ia menatap Tirta sebentar, lalu menunduk, menunggu. Tirta menoleh. Mata mereka bertemu. Hening menggantung beberapa detik. Lalu... Tangannya bergerak pelan. Jemarinya menyibak kerah daster Susan, lalu menyelusup ke balik kain yang terbuka. d**a Susan hangat di balik bra tipis. Ia mendesah pelan, hampir tak terdengar. Tapi tubuhnya merapat. Tangannya sendiri meraba paha Tirta, lalu naik perlahan. Ia tahu celana olahraga itu tak akan banyak menutupi. Dan benar, beberapa detik kemudian, tangannya sudah menggenggam hasrat yang menegang penuh. “Aku kangen,” bisik Susan di telinga Tirta. Tirta hanya membalas dengan ciuman cepat di lehernya, napasnya memburu. Namun saat tubuh mereka mulai tak lagi bisa menahan kendali... “Ehm...” Suara itu membuat mereka membeku. Langkah cepat terdengar menapak di lantai. Puka muncul dari arah tangga, masih mengenakan seragam jaket kurir yang kusut. Di tangannya, memegang handuk basah. Puka melihat pemandangan yang membuatnya terdiam di tempat. Tirta masih duduk, tangannya jelas berada di dalam daster Susan. Susan menunduk, tapi posisi tubuhnya terlalu terbuka untuk bisa disangkal. Dan tangan kanannya... masih berada di balik celana Tirta. Mata Puka membelalak. Mulutnya setengah terbuka. Tidak tahu harus bicara atau pergi. Susan bangkit refleks, menutup d**a dengan dasternya. Tirta langsung berdiri, wajahnya memucat, tapi matanya menantang. “Puka...” suara Susan tercekat. Namun Puka tidak menjawab. Ia hanya menggeleng pelan, sekali, dua kali, lalu berbalik dan turun tangga cepat-cepat, meninggalkan keheningan yang lebih memekakkan dari suara apa pun. Susan terduduk kembali, tubuhnya gemetar. Daster yang belum dikancingkan melorot sedikit, tapi ia tidak peduli. Tirta duduk di sampingnya, tangannya mengepal. “Kita ketahuan...” bisik Susan. “Dia nggak akan ngomong,” balas Tirta cepat. “Dia tahu risikonya.” Tapi di dalam hati mereka masing-masing, keduanya tahu: malam itu adalah titik belok. Rahasia mereka tak lagi aman. Dan waktu untuk bermain-main mulai menipis. Sejak itulah, Puka sering menatap Susan dengan pandangan yang aneh. Dan Didit yang biasanya cuek, tiba-tiba lebih sering nongkrong di dekat dapur, lebih banyak mengamati, lebih sedikit bicara. Matanya awas. Dan Susan tahu... intuisi laki-laki kadang lebih tajam dari yang mereka kira. Malam demi malam berlalu. Susan dan Tirta menjaga jarak. Tirta tak lagi mendekati. Tapi kadang, ketika jam menunjukkan pukul satu dini hari, Susan membuka gorden kamarnya pelan. Di sana, di balik kaca jendela kamarnya yang menghadap lorong atas... Tirta berdiri. Menatapnya. Ia tak mengetuk. Tak memanggil. Hanya berdiri. Dan Susan, dalam piyama tipis dan napas yang sudah mulai bergetar, hanya bisa menatap balik. Mereka tidak bicara. Tidak bertemu fisik. Tapi tubuh mereka sudah saling hafal, saling rindu, saling menjerit dalam sunyi. Dan siang itu, saat semua penghuni kost sedang bekerja, hanya Tirta dan Susan yang tetap berada di sana. Susan mencuci pakaian di kamar mandi belakang. Jemarinya membilas kain dengan gerakan teratur, tapi pikirannya melayang. Tirta sedang memperbaiki rak sepatu di depan kamarnya. Ia bisa mendengar bunyi palu dan suara lelaki itu bersenandung pelan. Lalu... hening. Langkah kaki mendekat dari arah lorong. Tirta muncul di ambang pintu kamar mandi. Tidak masuk. Tidak bicara. Hanya berdiri. Susan tidak menoleh. Tangannya terus membilas, pura-pura tak terganggu. Tapi napasnya mulai berubah. Tirta bersuara pelan, “Si Puka tidak ngadu ke suamimu?” Susan diam lama. Kemudian berkata lirih, tanpa menoleh, “Sepertinya tidak… Mas Rido gak berubah sama sekali….” “Bagus. Berarti dia tidak berani…” Susan hanya tersenyum kecil, lalu berbisik, “Tapi tetap saja… kita harus hati-hati.” Dalam senyum itu, ada pengakuan diam-diam: bahwa keinginan itu belum mati, bahkan semakin hidup. Lalu Susan berdiri di depan bak air, lututnya sedikit tertekuk, lengannya sibuk membilas kain dengan gerakan teratur. Ia mengenakan daster tipis bermotif bunga yang sudah agak pudar, menggantung lepas di tubuhnya yang berkeringat lembut. Daster itu basah di bagian bawah, menempel di pahanya, memperlihatkan lekuk merindukan sentuhan dari lelaki yang dicintainya. Kamar mandi itu kecil, berdinding setengah bata, setengah triplek, dan langit-langitnya hanya dinaungi seng yang mulai berkarat. Tapi siang ini, tempat itu menjadi ruang lain, semacam panggung rahasia yang hanya milik mereka berdua. Tirta nafasnya tetap tenang, tapi matanya... terbakar. “Aku sudah tidak tahan…” suaranya pelan, serak, seperti tak benar-benar butuh jawaban. Susan masih menunduk, meneteskan sabun cuci ke tangan. “Bagaimana kalau tiba-tiba ada yang datang?” Tirta tidak menjawab. Ia malah mendekat. Satu langkah, lalu dua. Lalu tangan kanannya terulur, menyentuh perlahan pinggang Susan dari belakang. Susan membeku. Tapi ia tidak menolak. Nafasnya mulai pendek. “Susan, kita nggak bisa terus begini,” bisiknya, tapi tubuhnya justru merapat. “Lalu kenapa kamu kesini?” bisik Susan, nadanya nyaris seperti desahan. Tirta tidak menjawab. Ia meraih gagang pintu, menutupnya perlahan, lalu memutar kunci. Klik. Dunia luar lenyap dalam satu bunyi kecil. Susan berbalik, dan tubuh mereka langsung saling menempel. Tak ada waktu untuk berpura-pura. Tak ada jeda untuk kata-kata. Tirta mencium bibir Susan seolah akan kehilangannya siang itu juga, keras, panas, haus. Susan membalas, tangannya mencengkeram leher Tirta, tubuhnya menekan ke tembok lembab kamar mandi. Suara air di bak terus menetes, menjadi irama latar dari tubuh-tubuh yang kini menyatu tanpa ragu. Tirta mengangkat daster Susan ke atas, menyingkap bagian paling rahasia tubuh wanita yang sudah lebih dari seminggu ia rindukan. Susan menanggalkan kain yang menjadi penutup mahkota utamanya, cepat, gemetar. Mereka memang tidak sempat membuka seluruh pakaian. Hanya bagian-bagian yang perlu. Tapi itu sudah cukup untuk memuluskan jalan bagi keduanya untuk saling mengobati rasa rindu. Desahan pertama keluar dengan embut. Lalu semakin panjang. Tubuh Susan melengkung di dinding yang dingin. Tirta merangkul pinggangnya erat, gerakannya kuat, terpendam, tapi tak terbendung. Satu tangan menutup mulut Susan, agar suaranya tidak keluar. Tapi mata mereka terbuka, memantulkan gairah, cinta, dan sesuatu yang sebenarnya tak boleh ada. Kamar mandi sempit itu tak lagi sekadar ruang untuk mencuci atau ruang untuk mandi. Ia berubah menjadi saksi gelap dari dua manusia yang terbakar oleh sesuatu yang lebih dalam dari sekadar nafsu: kebutuhan untuk dimiliki dan dimengerti. Beberapa menit berlalu. Tubuh mereka gemetar dalam pelukan terakhir, napas keduanya berkejaran. Saat semuanya reda, Tirta hanya mencium pelipis Susan pelan. Susan menutup matanya, bersandar di dinding. “Kita harus tetap tenang, jangan bersikap yang mencurigakan.” bisiknya. Tirta mengangguk, pelan. Lalu ia membuka pintu, dan keluar diam-diam meninggalkan bau sabun, air cucian, dan jejak sebuah ruangan tempat mencuci yang tak akan pernah bisa mereka cuci bersih.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN