Santa belum bicara. Tapi tatapannya sudah berubah. Bukan karena terkejut. Tapi karena mulai merasa dikhianati, bahkan oleh seseorang yang dulu ia anggap saudara sendiri.
***
Hari-hari berjalan biasa saja, tak ada yang secara langsung berubah di tempat kost, Tapi Susan merasa semua mata mengawasinya.
Puka tak lagi seperti sebelumnya yang sering bercanda. Ia menyapa seperti biasa, tapi tanpa senyum. Dan itu lebih menyakitkan daripada makian.
Susan menghindari naik ke lantai dua sore hari. Tirta pun tak lagi banyak melintas depan kamarnya. Mereka tahu batas sudah dilanggar terlalu jauh.
Namun justru saat segala sesuatu mulai mereda, satu gejala kecil muncul, Susan merasa mual setiap pagi.
Awalnya Susan mengira masuk angin. Tapi ketika bau minyak kayu putih pun membuatnya ingin muntah, ia mulai curiga.
Payudaranya nyeri. Perutnya terasa aneh. Ia diam selama dua hari, menolak percaya. Tapi ketika jadwal menstruasinya terlambat seminggu, Susan tak lagi bisa menyangkal.
Siang hari, saat Rido sedang bekerja, Susan mengenakan jaket dan pergi ke apotek kecil di ujung gang. Ia membeli dua test pack. Dengan tangan gemetar, ia kembali ke rumah dan masuk kamar mandi.
Beberapa menit kemudian, dua garis merah muncul. Jelas. Tegas. Tak bisa disangkal.
Susan terduduk di kloset. Ia mengingat satu sore, setahun lalu, ketika ia dan Rido duduk di ruang tunggu dokter kandungan. Hasilnya waktu itu tak bisa dibantah: Rido yang mandul.
Dan kini, garis merah itu... tak bisa berasal dari siapa pun selain Tirta.
Sore harinya, Susan mengirim pesan singkat kepada Tirta: “Bisa sekarang ketemu di warung Bu Marni?”
Tirta membalas cepat: “Oke. Ada apa?”
“Penting.”
**
Mereka duduk di pojok warung, tirai bambu setengah tertutup. Hanya ada satu pelanggan lain yang duduk jauh di depan, sibuk dengan mie rebusnya.
Susan mengenakan blus lengan panjang dan kerudung tipis, menyamar sebagai siapa saja yang bukan dirinya sendiri.
Tirta duduk gelisah di hadapannya. “Kamu kenapa?”
Susan menatapnya dalam. Lalu mengeluarkan test pack dari tas kecilnya. Ia meletakkannya pelan di atas meja.
Tirta menatap dua garis merah itu sejenak. Lalu wajahnya mengeras. "Itu... kamu yakin?"
Susan mengangguk. “Aku tahu ini anak kamu.”
“Lalu, Rido...?”
Susan langsung menukas, suara pelan tapi tajam, “Kami pernah ke dokter. Dia mandul.”
Tirta terdiam. Jemarinya mengepal di bawah meja.
Susan mencoba membaca wajahnya. Mungkin ada harapan kecil, bahwa Tirta akan berkata "kita hadapi sama-sama", atau "aku akan bertanggung jawab". Tapi yang keluar dari mulut Tirta...
“Sus... kamu tahu ini bahaya, kan?”
Susan tidak menjawab.
“Kita nggak bisa terus begini. Kamu adalah istri Rido. Aku... aku bukan siapa-siapa. Ini... kalau sampai ketahuan... semua hancur. Termasuk kamu.”
“Tapi ini anak kita, Tirta...” bisik Susan.
Tirta mendongak. Matanya menyimpan sesuatu yang lebih dingin dari kemarahan: takut.
“Kalau kamu bisa... Sus, tolong... gugurkan saja.”
Kata-kata itu seperti tamparan telanjang.
Susan menatapnya lama. Napasnya tak teratur. “Kamu serius?”
Tirta menunduk, menghindari tatapannya. “Maaf. Tapi... aku belum siap.”
Susan ingin marah. Ingin menumpahkan semua sakitnya di hadapan lelaki beberapa waktu lalu masih merengkuhnya penuh gairah. Tapi yang keluar hanya air mata. Tanpa suara.
Ia mengusapnya cepat. Lalu berdiri.
“Aku nggak butuh kamu siap. Aku cuma pengen kamu berani.” Ucapannya datar. Pelan. Tapi menusuk.
Susan meninggalkan warung tanpa menoleh. Dan Tirta tetap duduk di sana, terpaku, dengan test pack masih tergeletak di meja, seperti bukti kejahatan yang tak bisa dibantah, bukan karena apa yang mereka lakukan, tapi karena apa yang mereka abaikan.
**
Malam turun pelan-pelan di langit Jakarta. Udara lengket, lampu-lampu kost menyala redup, lorong lengang. Jam di dinding menunjukkan pukul 18.35 ketika ponsel Susan bergetar. Pesan WA dari suaminya.
Rido: “Sayang, aku harus lembur malam ini. Tadi ada rapat dadakan. Mungkin pulang lewat tengah malam.”
Pesan yang datang tanpa basa-basi. Rido memang begitu, tidak pernah curiga, tidak pernah bertanya lebih dari yang perlu. Percaya. Terlalu percaya.
Susan menatap layar ponsel itu lama. Lalu jari-jarinya mulai mengetik di jendela chat lain.
Susan: “Tirta, kamu bisa anterin aku sekarang? Aku mau ke apartemennya Santa. Aku mau ngobrol sama dia.”
Tirta (balas cepat): “Sekarang? Sendirian?”
Susan: “Kita aja berdua. Kamu bisa, kan?”
Detik berikutnya, ponsel Susan kembali bergetar.
Tirta: “Oke. Aku jemput kamu jam 8 di depan Indomaret, ya.”
Susan berdiri pelan, membuka lemari. Ia memilih pakaian dengan tenang, tapi tubuhnya sedikit gemetar. Ia tahu betul: ini bukan sekadar ingin bicara.
**
Jam 8 lewat lima menit, motor Tirta berhenti di depan Indomaret. Susan sudah berdiri di bawah tiang lampu, mengenakan blouse hitam lengan panjang dan celana jeans ketat. Rambutnya terikat rapi, wajahnya polos tanpa lipstik.
Tirta menatapnya sebentar. Tak banyak bicara. Hanya mengulurkan helm. Susan memakainya tanpa suara.
Mereka melaju di atas motor, membelah malam. Jalanan mulai sepi. Lampu-lampu kota seperti berkedip pelan, menyaksikan dua manusia yang tahu apa yang mereka lakukan salah, tapi tetap memilih jalan yang sama.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, mereka tiba di sebuah apartemen sederhana di daerah Jakarta Timur. Tirta memarkir motor di basement.
Mereka melangkah menuju lift. Mereka masuk. Lift berdering pelan. Lalu terbuka. Lalu keluar di lantai 7. Perlahan mereka menuju pintu unit apartemen Santa dan Yunita.
Malam itu, apartemen Santa hangat oleh cahaya lampu dan aroma teh manis. Di dalamnya, suara bayi kecil mengisi ruang dengan napas pelan dan sesekali rengekan halus.
Santa dan Yunita menerima Susan dan Tirta dengan ramah, meski tak menduga ada tamu malam-malam. Susan duduk di sofa, menatap Wastu yang tertidur dalam dekapan Yunita. Sementara Tirta terlihat gelisah, matanya tak pernah bisa diam di satu titik.
Beberapa menit setelah percakapan ringan tentang kelahiran Wastu, tentang Bu Ana, tentang Darto, suasana mulai berubah.Aakhirnya memudar dalam hening yang menggantung.
Di tengah-tengah ruang tamu apartemen yang temaram, hanya suara detik jam dinding yang terus berdetak, mengingatkan bahwa waktu tak akan pernah benar-benar memberi tempat untuk penundaan.
Tirta duduk gelisah di ujung sofa. Kakinya saling bersilang lalu dibuka lagi, jemarinya terus mengusap lutut celananya yang sudah mulai kusam.
Ia sesekali mencuri pandang ke Susan, tapi Susan menatap lurus ke depan, tak bicara. Diamnya seperti memberi izin… atau seperti menyerah.
Santa sedang menuangkan teh ke cangkir ketiga saat Tirta akhirnya bersuara.
Pelan. Ragu. Tapi cukup jelas untuk memutus udara.
“San… ada yang mau gue omongin. Tapi tolong, jangan langsung marah. Gue… gue ngomong karena gue percaya sama lo.”
Santa menoleh pelan. Tatapannya bersih, tanpa prasangka. Tapi ada ketegangan yang tak bisa ia sembunyikan.
“Ngomong aja, Tir.”
Tirta menarik napas panjang. Ia bicara seperti orang yang berjalan di atas es tipis.
“Gue… nggak pernah cerita ini ke siapa pun. Bahkan ke temen di kostan. Tapi lo beda. Lo dulu satu kost sama kita. Lo temen satu lingkaran. Dan sekarang, lo satu-satunya orang yang gue pikir... mungkin bisa dengerin tanpa langsung ngehakimin.”
Santa mengangguk sekali. Tak menjanjikan apa pun. Hanya mendengarkan.
Tirta menunduk. Matanya kosong menatap karpet. Ia seperti sedang merangkai kalimat di kepalanya.
“Gue dan Susan... kita udah beberapa bulan ini... ada hubungan.”
Kalimat itu jatuh seperti batu di tengah danau yang tenang.
Yunita yang sedang menggoyang-goyangkan Wastu perlahan menghentikan geraknya. Ia mendongak perlahan ke arah Susan. Santa mematung.
“Hubungan yang nggak seharusnya,” lanjut Tirta, suaranya pecah. “Di luar akal sehat gue sendiri.”
Susan menunduk, tak berkata sepatah kata pun. Tapi tangan di pangkuannya mengepal.
Yunita bersuara pelan, lebih ke bisikan, “Itu... benar?”
Susan masih menunduk. Tapi matanya memerah. Jawabannya bukan lewat kata. Tapi lewat diam.
Tirta seperti kehilangan arah setelah itu. Tapi ia lanjut.
“Dan sekarang… dia hamil.”
Sunyi.
Wajah Santa tetap tak berubah. Tapi bola matanya mulai bergeser pelan. Dari wajah Tirta ke Susan. Lalu ke Wastu yang masih terlelap di pelukan Yunita.
Tirta buru-buru menambahkan.
“Gue tahu ini salah. Salah banget. Dan gue tahu Susan... mungkin berharap lebih. Tapi gue belum siap. Bener-bener belum siap. Gue datang ke sini bukan buat nuntut dibenerin, bukan buat curhat. Gue cuma…”
Ia berhenti sejenak. Suaranya melemah, mengabur jadi hampir bisikan.
“...datang ke sini karena gue butuh bantuan.”
Santa belum bicara. Tapi tatapannya sudah berubah. Bukan karena terkejut. Tapi karena mulai merasa dikhianati, bahkan oleh seseorang yang dulu ia anggap saudara sendiri.
“Gue butuh uang, San. Untuk... prosedur itu. Lo ngerti kan?” Tirta menggertakkan giginya. “Gugurin. Sebelum makin ribet. Sebelum semuanya makin rusak. Gue... gue pikir lo bisa bantu. Sekali ini aja.”
Santa berdiri pelan, menatap Tirta lama.
Wajahnya kosong. Tapi bukan hampa, melainkan terlalu marah untuk bisa ditampilkan.
Lalu ia hanya berkata:
“Tirta... saya nggak punya uang.”
Tirta menunduk. Tak kecewa. Tak protes.
Ia hanya menjawab datar:
“Nggak masalah.”
Yunita menoleh ke Santa, seperti minta penegasan. Tapi Santa berjalan menjauh, ke arah jendela, membelakangi semua orang. Ia berdiri diam, hanya memandangi kelap-kelip lampu kota.
Yunita kembali menatap Susan. Matanya berkaca-kaca. Tapi ia tetap tenang. “Apa kamu betul-betul ingin menggugurkan kandungan, Sus?”
Susan terdiam. Tapi tatapannya kali ini bukan ke bawah. Ia menatap Yunita, lalu Wastu. Tak menjawab. Tapi diamnya kali ini terasa berbeda.
Lalu, pelan-pelan, Tirta berdiri.
“Gue keluar sebentar. Mau beli rokok.”
Susan refleks berdiri juga. “Aku ikut.”
Tapi Tirta mengangkat tangan, menolak dengan isyarat kecil dan lembut. “Enggak. Nggak lama kok.”
Santa tetap membelakangi mereka. Tak bicara.
Tirta melangkah ke arah pintu. Tapi sebelum membukanya, Santa bersuara, pelan, tak menoleh:
“Tirta, kamu beneran mau balik lagi?”
Tirta terdiam sejenak. Lalu tersenyum kecil, tanpa meyakinkan siapa pun.
“Tentu.”
Lalu pintu tertutup. Dan suara langkah menjauh. Lift berdenting. Lalu sunyi.
Santa masih berdiri di depan jendela.
“Dia nggak akan balik lagi,” gumamnya, nyaris tanpa suara.
Yunita menarik napas dalam. Susan tetap berdiri di ruang tengah, memandangi pintu yang kini hanya memantulkan bayangannya sendiri.
Di sudut ruangan, Wastu tertidur. Damai. Tak tahu bahwa hanya beberapa meter dari dirinya, seorang wanita muda baru saja ditinggal pergi dengan sebuah kehidupan kecil yang kini sepenuhnya ada dalam tanggung jawabnya sendiri.