Ingin Istri Tetangga (5)

1276 Kata
Kalimat itu seperti cambuk. Tapi Susan tidak membalas. Tidak membantah. Tidak membela. Ia hanya menunduk lebih dalam, air matanya mulai menetes menekusuri kedua pipinya. *** Setelah Tirta pergi, ruangan terasa seperti kehilangan sesuatu yang bahkan tak pantas untuk diratapi. Hening menggantung di antara dinding-dinding apartemen, dan hanya suara kipas langit-langit yang berputar lambat, menyapu udara dengan suara monoton seperti napas orang yang kelelahan. Dari sudut ruangan, tangisan kecil Wastu terdengar, rengekan tak jelas yang sejenak mengisi kekosongan, sebelum kembali terdiam dalam dekapan hangat ibunya. Susan duduk di sofa, kaku, seolah tubuhnya kehilangan fungsi. Tatapannya kosong, tapi matanya terus saja melirik ke arah pintu yang beberapa menit lalu ditutup oleh sosok yang kini entah ke mana. Jemarinya saling menggenggam, mencengkram satu sama lain, seperti berusaha menahan sesuatu dari dalam yang ingin pecah keluar, entah itu tangis, jeritan, atau hanya rasa malu. Yunita duduk tak jauh, masih mengayun tubuh perlahan sambil menepuk punggung Wastu. Bayi itu menyusu tenang, lalu tertidur kembali. Akhirnya, suara Yunita memecah keheningan, namun suaranya pelan. “Kamu masih berharap dia balik?” Susan tidak menjawab. Hanya menunduk. Bahunya turun naik pelan. Matanya mulai menghangat. Yunita menatapnya lama, tak dengan kemarahan, tapi dengan iba yang dalam, seolah sedang menatap seseorang yang terperosok begitu jauh dan kini kehilangan arah. “Tirta nggak akan balik, Sus. Santa udah bilang, dan... aku percaya itu.” Nada suaranya lembut tapi pasti. “Dia bukan tipe yang bertahan. Apalagi saat diminta tanggung jawab.” Susan menarik napas dalam-dalam. Suara napasnya terdengar seperti orang yang tenggelam lalu muncul ke permukaan sebentar, hanya untuk kembali ditarik ke dasar. “Aku... aku nggak tahu lagi harus berharap ke siapa…” bisiknya. “Semua jalan rasanya mentok.” Yunita berdiri pelan, mendekat. Ia menunduk, lalu dengan sangat hati-hati meletakkan Wastu ke dalam boks bayi. Bayi itu bergerak sebentar, tapi tetap terlelap. Yunita kemudian duduk di sebelah Susan. Lalu, dengan suara lirih tapi penuh ketegasan, ia bicara lagi. “Kalau kamu masih percaya ada sedikit saja kebaikan dalam dirimu… kamu akan tahu satu hal, Susan…” Ia menoleh padanya, mata mereka bertemu. “Janin di tubuhmu ini… nggak bersalah.” Kata-kata itu seperti membuka sumbatan di d**a Susan. Bibirnya bergetar. Tapi ia tetap menahan tangis. Yunita melanjutkan, suaranya mulai mengeras, tapi masih lembut. “Mungkin kamu mengandungnya karena sebuah kesalahan. Tapi bukan berarti anak itu juga salah. Jangan perlakukan dia seperti dosa yang harus dibuang. Jangan jadikan dia pelampiasan dari rasa takutmu.” Susan mulai menangis pelan, tapi tak memalingkan wajahnya. Ia menyeka air matanya cepat, seperti takut menunjukkan bahwa ia masih manusia. Matanya melirik ke jam dinding. Sudah pukul 22.45. Dan saat itulah, suara Santa terdengar dari balik meja makan. Tenang. Tapi nadanya penuh kepastian. “Kamu masih lihat jam… karena kamu masih berharap Tirta datang.” Susan menoleh cepat. Seolah tertangkap basah. Santa tak menatapnya. Ia hanya duduk di kursinya, tangannya menggenggam secangkir teh yang sudah dingin. “Tapi dari semua hal yang dia tunjukkan malam ini… kamu juga tahu dia nggak akan balik.” Kini Santa menoleh, tatapannya lurus, tanpa kemarahan, tapi juga tanpa simpati yang manja. “Tirta bukan laki-laki yang bertanggung jawab. Dia mau lari. Dan lebih parah lagi, dia ingin membunuh anaknya sendiri.” Kalimat itu seperti cambuk. Tapi Susan tidak membalas. Tidak membantah. Tidak membela. Ia hanya menunduk lebih dalam, air matanya mulai menetes menekusuri kedua pipinya. Ia tahu Santa benar. Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama… ia tidak lagi punya siapa pun untuk disalahkan. Hanya dirinya sendiri. Dan ketika jarum jam bergerak ke angka 11 tepat, pintu diketuk. Mereka semua terdiam. Yunita menoleh cepat ke Susan. Susan membalas dengan tatapan penuh tanya. Santa berdiri pelan. Ia mendekati pintu dengan langkah tenang, lalu membukanya. “Assalamualaikum…” Suara itu membuat tubuh Susan seperti membatu. “Rido?” bisiknya. Rido berdiri di ambang pintu, mengenakan jaket kerja, masih lengkap dengan tas kecil menyilang di bahu. Wajahnya bingung, jelas tidak tahu kenapa ia diminta Santa datang ke apartemennya melalui pesan WA. Susan berdiri dengan napas tercekat. Santa mempersilakan masuk. “Masuk dulu, Rid. Duduk. Tenangin diri dulu.” Rido masuk pelan, duduk di sisi sofa. Matanya bergantian memandangi Susan, Yunita, lalu Santa. “Sebenarnya… kenapa saya dipanggil?” Santa menatap Susan. “Sudah waktunya kamu cerita.” Susan menelan ludah. Ia duduk di hadapan Rido. Suaranya gemetar. “Mas... aku... aku mau ngomong sesuatu. Tapi aku nggak tahu gimana cara mulainya.” Rido tetap tenang. “Pelan-pelan aja, Sus.” Susan menarik napas dalam-dalam. “Aku salah. Aku mengkhianatimu.” Rido menatapnya. Wajahnya tetap tenang, hanya alisnya yang bergerak pelan. Susan melanjutkan, air matanya mulai jatuh. “Aku menjalin hubungan dengan orang lain. Tirta. Dan... aku hamil.” Yunita memejamkan mata, menunduk. Santa tak banyak bergerak. Hanya memandang Rido yang mulai termenung. Susan meraih tangan Rido. “Aku nggak mungkin minta dimaafkan, karena kesalahanku sangat fatal. Tapi aku hanya ingin kamu tahu… bahwa aku nyesel. Aku bener-bener menyesal. Aku mau memperbaiki semuanya. Aku mau... membesarkan anak ini.” Beberapa detik hening. Lalu, pelan, Rido mengangkat tangannya, menyentuh pipi Susan, menghapus air mata yang tak berhenti mengalir. “Kalau kamu sungguh menyesal dan berniat untuk hidup lebih baik… dan tak akan mengulanginya…” Susan mengangguk cepat, gemetar. “…aku maafkan.” Tangis Susan pecah. Ia menunduk, tubuhnya bergetar hebat. Lalu Rido menambahkan, suaranya tenang, lembut, tapi tegas: “Janin yang kamu kandung… bukan salah dia. Biarkan dia hidup. Dan… aku akan anggap dia anakku sendiri.” Yunita menutup mulutnya, menahan haru. Santa tersenyum kecil. Suasana di dalam apartemen berubah: dari malam yang dingin menjadi ruangan hangat yang penuh pengampunan. Beberapa menit kemudian, Susan dan Rido pamit. “Terima kasih, Santa… Yunita… aku nggak akan lupa kebaikan kalian,” kata Susan sambil memeluk Yunita. Kemudian, Rido dan Susan berpamitan. Rido menggenggam jemari Susan. Santa mengantar mereka sampai ke pintu lift. Ketika pintu lift terbuka, tiga orang kangsung keluar: seorang pria dengan ransel, dan dua orang asing. Susan dan Rido masuk. Rido tetap menggenggam tangan istrinya erat, dan Susan menunduk. Santa hanya sempat mengangguk singkat pada mereka sebelum pintu lift tertutup, karena pria yang baru keluar lift menyapa Santa dengan ramah. Ia adalah Farhan. Tetangga unit apartemen. “Pak Santa. Apa kabar?” sapa Farhan sambil mengulurkan tangannya, mengajak bersalaman. Santa tersenyum, sambil menerima uluran tangan Farhan. “Bang Farhan, kabar baik. Wah, habis jalan-jalan, ya?” “Enggak, habis jemput temen di lobi. Udah bertahun-tahun nggak ketemu.” Farhan menoleh kepada dua orang di belakangnya. Yang pertama, pria paruh baya dengan perawakan sedang, rapi, dan wibawa yang terkesan santai, segera mengulurkan tangan ke arah Santa. Wajahnya bersih, dagunya bercambang tipis, dan matanya menyimpan ketenangan seperti seseorang yang terbiasa mengendalikan suasana. “Saya Toto,” katanya sambil tersenyum ramah. Suaranya berat tapi hangat. Santa menyambut jabatan tangannya dengan sopan, sedikit membungkuk. Tapi sebelum sempat bertanya lebih lanjut, perhatian Santa teralih. Perempuan muda di samping Toto melangkah setengah langkah ke depan. Gaun merah marun selutut yang ia kenakan membentuk tubuhnya yang semampai dan jenjang dengan cara yang tidak mencolok, tapi terlalu sempurna untuk diabaikan. Bahunya terbuka, kulitnya putih bersih, kontras dengan warna bajunya, seolah dipilih dengan sadar untuk menegaskan garis-garis siluetnya yang anggun. Rambutnya hitam pekat, panjang tergerai, dengan satu sisi tersampir lembut ke bahu. Bibirnya tipis dan merah alami. Tapi yang paling sulit untuk dihindari, dan Santa menyadari ini tanpa bisa mencegah dirinya sendiri, adalah mata perempuan itu. Tatapan yang tajam, lurus, seolah menembus, namun tetap tersenyum. Mata yang tidak perlu bergerak banyak untuk membuat orang merasa dilihat... bukan hanya secara fisik, tapi juga secara batin. “Saya Cika,” katanya pelan, suara beningnya menyerupai aliran air di batu licin. “Senang bertemu, Pak Santa.” Santa menjabat tangan Cika.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN