Tugas Terlarang Dari Sang Suami (1)

1080 Kata
Sentuhan sekilas yang seharusnya biasa saja, entah kenapa membekas lebih lama di kulitnya. Seolah telapak Cika meninggalkan sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. *** Farhan mempersilahkan Cika dan dan Toto masuk ke ruangan apartemennya. Ruang tamu kecil dengan perabotan sederhana. Cika duduk di sofa dengan santai, tatapannya menyapu seluruh ruangan seperti menyimpan kenangan lama, meski dulu mereka tak pernah benar-benar dekat. Farhan sebenarnya masih bingung atas kedatangan dua orang tamu tersebut. Ia baru pertama kalinya bertemu dengan Toto. Dan di lobi, Cika memperkenalkan Toto sebagai suaminya. Ia dan Cika pernah bekerja di kantor yang sama ketika di Kalimantan. Toto memulai pembicaraan, “Maaf kami datang tiba-tiba. Ada urusan kerja mendadak di kota ini. Cika bilang pernah kenal Mas Farhan saat masih kerja di Kalimantan.” Farhan mengangguk, tersenyum. “Iya, kami sempat satu kantor hampir setahun. Cika teman kerja saya, supel, cepat akrab.” Cika menoleh ke arah Farhan, matanya lembut. “Mas, ngomong-ngomong… Kami tadi sempat nyari hotel, tapi harganya mahal atau. Dan karena besok Mas Toto harus langsung berangkat ke Tasikmalaya, aku bakal sendirian. Kalau boleh… kami mau numpang menginap di sini beberapa malam?” Farhan terdiam sejenak. “Apartemen saya kecil, cuma ada dua kamar,” katanya pelan. “Tentu saja boleh. Ada satu kamar lagi kosong, bisa kalian pakai berdua. Tapi tidak akan senyaman di hotel…” Cika menatap suaminya, lalu mengangguk pelan. “Nggak apa-apa, Mas. Kami justru bersyukur banget Mas Farhan bersedia menginzinkan kami menginap di sini….” Toto menimpali, “Terima kasih banyak, Mas. Kami nggak akan lama, hanya beberapa hari saja. Tapi saya cuma semalam ini.” Farhan tersenyum. “Tenang saja, saya senang bisa bantu. Tamu jauh harus disambut dengan baik.” Cika tersenyum. Senyum yang sama seperti dulu, tapi entah mengapa, kini terasa berbeda. Lebih dalam. Lebih menggoda. Lebih membingungkan. Saat Farhan berdiri dan mempersilakan mereka melihat kamar di ujung lorong kecil apartemen itu, ia tahu bahwa malam ini bukan sekadar reuni. Ada sesuatu dalam pertemuan itu yang belum ia mengerti sepenuhnya. Farhan mempersilakan Cika dan Toto ke kamar tersebut. Meski kecil dan sederhana, kamar itu cukup bersih. Dindingnya berwarna krem pucat, dengan ranjang kayu jati dan satu lemari kecil. “Maaf ya kalau seadanya,” ujar Farhan sambil membuka gorden jendela. “Ini sudah lebih dari cukup, Mas,” sahut Toto sambil meletakkan tas ransel di sudut ruangan. “Daripada di kamar hotel. Di sini terasa lebih hangat. Lagipula, kalau nginep di hotel biayanya mahal. Mas Farhan sudah sangat berbaik hati kepada kami…” jawab Toto. Cika duduk di tepi ranjang, mengusap seprai tipis yang terasa bersih dan wangi. “Aku suka suasana kamar ini. Sederhana tapi nyaman. Kayak ada ketenangannya gitu, Mas.” Farhan tersenyum, lalu mempersilakan mereka beristirahat sejenak. Ia kembali ke dapur dan menyiapkan teh hangat. Saat ia kembali ke ruang tamu, Cika sudah duduk sendirian di sana. Toto tampaknya sedang mandi. “Masih suka bikin teh sendiri, ya?” tanya Cika sambil tertawa kecil. “Kebiasaan,” jawab Farhan sambil meletakkan cangkir di hadapannya. “Dulu waktu di Kalimantan, saya ingat kamu suka nitip beli kopi sachet kalau pas kita lembur.” Cika tertawa kecil. “Iya… Waktu itu aku masih baru kerja, masih lugu-lugunya. Tapi Mas Farhan baik banget, selalu bantu. Aku senang dulu pernah kenal Mas.” Farhan hanya tersenyum. Tatapan mata Cika terasa sedikit lebih dalam dari sekadar nostalgia. Tapi ia memilih tidak memikirkannya terlalu jauh. Beberapa saat kemudian, Toto keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan baju ganti. Ia bergabung di ruang tamu, lalu duduk dengan nyaman di sebelah istrinya. “Saya jadi ingin sedikit cerita, Mas,” ujar Toto sambil menyeruput teh buatan Farhan. “Saya dulu pernah dengar soal Mas Farhan dari Cika, katanya orangnya tenang, nggak banyak omong, tapi bisa diandalkan.” Farhan tertawa kecil. “Wah, hahaha… itu berlebihan.. saya biasa-biasa aja.” “Kami memang nggak punya banyak teman dekat, apalagi yang kami percaya. Apalagi di kota ini. Jadi begitu Cika bilang Mas Farhan tinggal di sini, saya langsung setuju untuk mampir…. Dan bahkan numpang nginep.” Farhan mengangguk sopan, menyembunyikan riak kecil di dadanya. Ia tak ingin menilai, apalagi curiga. Tapi tetap saja, ada bisik lirih dalam pikirannya: "Menginap di rumah mantan rekan kerja istri sendiri? Hanya karena hotel mahal? Atau... ada hal lain yang belum mereka katakan?" Namun ia menahan diri. Belum saatnya berpikir terlalu jauh. Ia menatap wajah Toto yang teduh, penuh keyakinan. Dan wajah Cika yang cantik, tapi tampak sedikit gugup ketika matanya tak sengaja bersirobok dengan mata Farhan. Malam turun perlahan, seperti tirai sutra yang menyentuh lantai. Mereka makan bersama, menu sederhana yang justru terasa hangat: nasi goreng buatan Cika yang sedikit pedas, dan telur dadar buatan Farhan yang terlalu asin tapi dimakan dengan tawa. Toto dan Cika berpamitan mau istirahat. Lalu mereka masuk ke kamar tamu. Farhan kembali ke kamar utama. Lampu kamar dipadamkan. Gelap menyelimuti, tapi justru dalam gelap itulah bayangan Cika terasa semakin terang. Wajahnya terlintas seperti siluet di balik tirai tipis. Senyumnya yang lembut. Tawanya yang renyah. Bahkan cara ia menunduk saat menyajikan piring... seolah terlalu mudah mengguncang sesuatu yang selama ini disimpan Farhan rapat-rapat: hasrat yang lama tertidur. Yang paling sulit dihapus adalah momen kecil tadi di meja makan. Ketika tangan mereka nyaris bersentuhan saat Cika menggeser gelas ke arahnya. Sentuhan sekilas yang seharusnya biasa saja, entah kenapa membekas lebih lama di kulitnya. Seolah telapak Cika meninggalkan sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Farhan memejamkan mata. Menarik napas dalam-dalam. Tapi udara malam ini terasa lebih hangat dari biasanya. Bahkan seprai kasurnya seakan menyimpan aroma samar dari tubuh yang tak pernah disentuh, tapi diam-diam diinginkan. Tubuhnya tegang. Tapi bukan karena nafsu semata. Ini lebih dari itu. Ada gejolak batin yang mulai mendesak. Antara etika dan rasa. Antara kesopanan dan keinginan. Antara logika dan getaran samar yang tak dapat diredam. Ia berbalik di ranjang. Punggungnya memanas. Hatinya berdetak cepat. Seolah tubuhnya sedang mengingat sesuatu yang belum pernah terjadi, tapi diinginkan sepenuh rasa. Dan di balik dinding tipis yang memisahkan dua kamar, ia bisa membayangkan: Cika sedang merebahkan tubuhnya. Rambutnya mungkin masih basah setelah mandi. Kulitnya hangat, dasternya tipis, dan... Farhan membuka matanya tiba-tiba. Ia memejamkannya lagi. Lebih keras. Mencoba menenangkan napas yang mulai tak teratur. Ia bukan lelaki lemah. Tapi malam ini, untuk pertama kalinya, ia merasa kalah oleh bayangan. Dan di luar jendela apartemen, angin hanya berbisik pelan. Seperti suara hati yang tak didengar oleh dunia. Ia tahu malam ini baru awal dari sesuatu yang belum bisa ia tebak. Dan hatinya mulai tak tenang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN