Tugas Terlarang Dari Sang Suami (2)

1388 Kata
Di balik daun pintu, Cika berdiri dalam balutan handuk putih tipis yang hanya menutup sebagian tubuhnya. Rambutnya masih basah, menjuntai di bahu seperti aliran hujan yang baru turun. Kulitnya berembun, dan aroma sabun dari tubuhnya menyeruak lembut. *** Keesokan paginya, udara pagi yang segar masuk melalui jendela kamar apartemen yang terbuka setengah. Farhan bangun lebih pagi seperti biasa. Ia membuat kopi dan sarapan sederhana: roti panggang dan telur ceplok. Aroma kopi perlahan menguar ke seluruh rumah. Tak lama kemudian, Toto keluar dari dalam kamar dengan pakaian rapi dan tas kerja di tangan. Wajahnya tenang, tapi terlihat sedikit lelah. “Saya harus berangkat pagi ini, Mas,” ucap Toto saat duduk di meja makan. “Mau langsung ke Tasikmalaya.” Farhan mengangguk. “Saya antar ke pool Primajasa kalau mau, Pak.” “Terima kasih, tapi sopir kantor sudah menunggu di bawah. Saya nggak enak merepotkan,” jawab Toto sambil menyesap kopi. Dari dalam kamar, terdengar suara pintu dibuka. Cika muncul dengan pakaian santai: kaus panjang dan celana training tipis. Rambutnya diikat seadanya, wajahnya tanpa make-up, tapi tetap tampak segar dan manis. “Udah siap, Mas?” tanya Cika pada suaminya. Toto berdiri. “Iya. Cika, kamu nggak apa-apa di sini, kan?” Cika mengangguk. “Insyaallah, baik-baik aja. Mas Farhan orangnya bisa dipercaya.” Toto tersenyum pada Farhan. “Saya titip istri saya, Mas. Kalau ada apa-apa, tolong bantu ya.” Farhan hanya tersenyum dan mengangguk sopan, meski dalam hati merasa agak canggung dengan kalimat itu. Setelah Toto pergi, rumah kembali sunyi. Cika membantu membereskan sarapan, bahkan tanpa diminta. Ia tampak nyaman sekali, seolah rumah itu miliknya sendiri. “Mas, serius nggak keberatan aku tinggal beberapa hari di sini?” tanyanya saat mereka duduk di ruang tamu. “Nggak sama sekali,” jawab Farhan. “Selama kamu nyaman, silakan.” Cika memandangi Farhan sejenak. “Aku senang kamu masih seperti dulu. Ramah, tenang, dan nggak berubah.” Farhan tertawa kecil, berusaha meredakan suasana. “Saya ya begini-begini aja.” Mereka berbincang ringan, tentang pekerjaan, kehidupan, dan nostalgia masa kerja dulu. Cika tampak begitu terbuka, bahkan kadang terlalu terbuka. Beberapa kali ia bercerita tentang kehidupannya bersama Toto. Tentang bagaimana suaminya sangat baik, tapi mereka jarang sekali punya waktu bersama. Bahkan secara intim, katanya, hubungan mereka makin jarang. Farhan hanya mendengarkan. Ia tahu batasnya, tapi kata-kata Cika perlahan membuka ruang yang tak semestinya. Sore itu, saat hujan turun ringan, Cika duduk di balkon apartemen bersama Farhan. Ia menatap langit mendung dengan pandangan kosong. “Mas,” ucapnya tiba-tiba, pelan. “Boleh aku jujur?” Farhan menoleh, sedikit kaget. “Tentu.” Cika menunduk, suaranya makin lirih. “Kami... aku dan Mas Toto... sedang berada di titik rumit. Rumah tangga kami... belum dikaruniai anak, dan... Mas Toto sudah lama merasa bersalah.” Farhan terdiam, tidak ingin menyela. “Dia bilang... dia ingin bicara denganmu, beberapa hari ke depan. Tentang sesuatu yang sangat penting.” Farhan menatapnya. “Tentang apa?” Cika menggeleng pelan. “Tunggu saja. Mas Toto ingin kamu mendengarnya langsung dari dia. Tapi aku... aku mohon satu hal...” “Apa?” “Jangan langsung menolak atau menghakimi jika Mas Farhan tidak berkenan,” katanya, matanya bergetar. “Dengar dulu niatnya. Niat kami.” Farhan mengangguk pelan, meski dalam hati mulai muncul kegelisahan. Ia merasa akan dilibatkan dalam sesuatu yang tak biasa. Dan firasatnya... mengatakan bahwa ini bukan perkara sederhana. ** Hari kedua setelah kepergian Toto terasa begitu hening di apartemen mungil itu. Farhan sempat berpikir Cika akan merasa bosan, namun ternyata wanita itu tampak betah-betah saja. Ia bahkan mulai membantu merapikan dapur, menyapu, dan sesekali menyiram tanaman Farhan yang mulai kering di balkon. “Mas Farhan ini terlalu cuek sama tanaman. Kasihan nih daun-daunnya udah lemas semua,” celetuk Cika sambil tersenyum kecil di pagi hari. Farhan tertawa kecil dari balik pintu. “Saya memang nggak terlalu telaten. Biasanya cuma nyiram pas ingat.” Cika memakai daster longgar dan ikat rambut seadanya. Penampilannya santai, tapi justru terasa sangat domestik, dan entah kenapa, justru di situlah daya tariknya muncul lebih kuat. Farhan berusaha menjaga sikap, tapi kehadiran wanita muda dan cantik seperti Cika dalam jarak sedekat itu membuat pikirannya tak bisa tenang sepenuhnya. Sehari itu, mereka banyak menghabiskan waktu di rumah. Farhan sedang cuti kerja, jadi ia tidak punya kewajiban ke kantor. Cika kadang duduk di ruang tamu membaca buku, kadang mengobrol dengannya di dapur sambil memasak atau membuat kopi. “Dulu di Kalimantan, Mas Farhan pernah bilang suka dengan suasana apartemen yang sepi, kan?” tanya Cika siang itu saat mereka makan siang bersama. “Iya. Saya suka ketenangan.” “Sekarang aku baru benar-benar ngerti maksudnya. Rasanya damai, ya. Nggak ada suara motor, nggak ada keributan. Tapi... kalau sendiri terus, nggak kesepian?” Farhan terdiam sejenak sebelum menjawab, “Kadang kesepian. Tapi saya lebih baik sendiri daripada bersama orang yang salah.” Cika menunduk pelan, lalu berkata pelan, “Aku juga dulu mikirnya gitu.” Obrolan mereka makin hari makin terbuka. Namun justru keterbukaan itu yang membuat batas mulai kabur. Sore itu menjelang magrib. Cahaya jingga menyelinap dari sela jendela, memantul lembut di lantai ubin yang dingin. Apartemen mungil itu sepi, hanya suara detak jam dinding yang sesekali terdengar menegaskan waktu yang berjalan lambat. Farhan bangkit dari duduknya, meraih handuk kecil dan berjalan santai menuju kamar mandi. Ia terbiasa sendiri. Hidup sendiri, mandi sendiri, membuka pintu tanpa banyak berpikir. Dan seperti kebiasaan lamanya, ia langsung memutar gagang pintu kamar mandi dan mendorongnya. Namun langkahnya terhenti, lebih tepatnya terhantam oleh pemandangan tak terduga. Di balik daun pintu, Cika berdiri dalam balutan handuk putih tipis yang hanya menutup sebagian tubuhnya. Rambutnya masih basah, menjuntai di bahu seperti aliran hujan yang baru turun. Kulitnya berembun, dan aroma sabun dari tubuhnya menyeruak lembut. Matanya membelalak. “Mas!” Farhan seperti tersambar petir di langit senja. “Maaf! Maaf banget!” katanya cepat, wajahnya memerah hebat. Ia langsung menutup pintu, bahkan terlalu cepat hingga tangannya sedikit terantuk. “Aku kira kosong...” gumamnya pada pintu yang kini kembali tertutup rapat. Dari dalam terdengar suara tawa kecil, lembut dan sedikit tergelak, seperti musik yang memalukan namun menggoda. “Nggak apa-apa, Mas... aku juga lupa ngunci pintunya.” Farhan terpaku. Ia berdiri sejenak di depan pintu, tak tahu harus melangkah ke mana. Lalu ia memutar tubuhnya, berjalan pelan kembali ke ruang tamu, sambil menunduk dan menepuk dahinya sendiri berkali-kali. “Astaga... kenapa jadi begini...” Tapi yang membuatnya gelisah bukan hanya insiden barusan. Bukan hanya kulit basah yang nyaris disentuh pandangannya. Bukan hanya kontur tubuh Cika yang terbingkai oleh kain tipis yang membungkusnya sekenanya. Yang membuatnya gemetar adalah senyum di mata Cika saat keduanya saling terkejut. Senyum yang bukan marah. Bukan malu. Tapi entah, ada sesuatu di sana. Seolah waktu sengaja mempertemukan mereka dalam celah kesalahan kecil yang terlalu sempurna. Di ruang tamu, Farhan duduk perlahan. Napasnya masih belum kembali tenang. Ia menatap jari-jarinya yang sedikit gemetar, lalu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ini hanya kecelakaan. Tak ada maksud. Tapi... kenapa hati ini bergetar begitu keras? Bayangan tubuh Cika muncul kembali di matanya. Setetes air masih menggantung di ujung rambutnya. Lehernya yang jenjang. Bahunya yang terbuka. Dan suara tawanya yang lembut itu... seperti bisikan mesra yang menyusup ke celah-celah sunyi di dalam d**a. Farhan memejamkan mata, mencoba menenangkan diri. Tapi bayangan itu sudah telanjur menempel. Dan semakin ia mencoba mengusirnya, semakin dalam ia terperosok ke dalam dilema batin yang tak lagi bisa ia abaikan. Beberapa menit kemudian, Cika keluar dari kamar mandi dengan rambut yang digelung dan baju santai. Ia tampak santai seolah kejadian tadi tak pernah terjadi. “Maaf ya, Mas. Aku tadi buru-buru, lupa kunci pintunya.” Farhan mengangguk canggung. “Nggak apa-apa. Aku yang harusnya hati-hati.” Mereka duduk di ruang tamu lagi, dan suasana hening untuk beberapa saat. Sampai akhirnya Cika bicara. “Mas Farhan... kamu orang baik. Aku tahu kamu pasti merasa ini mulai... aneh. Tapi percayalah, aku dan Mas Toto memang sengaja memilihmu karena kami percaya.” Farhan menoleh. “Maksud kamu?” Cika tersenyum samar. “Besok Mas Toto akan kembali sebentar ke sini. Dia mau bicara langsung. Tolong... dengarkan baik-baik.” Farhan hanya mengangguk pelan, meski dadanya mulai terasa berat. Ia tahu, apapun yang akan dibicarakan Toto nanti, pasti akan mengubah arah hidupnya. Dan malam itu, saat ia memandangi langit dari jendela kamar, Farhan bertanya pada dirinya sendiri: Apakah aku siap menghadapi apa pun itu?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN