Tugas Terlarang Dari Sang Suami (3)

1174 Kata
Tubuhnya terlentang lelah di atas ranjang kecil yang berselimutkan senyap. Selimut tipis telah terjatuh ke lantai, seakan tak sanggup menutupi apa pun malam itu. *** Keesokan harinya, apartemen Farhan kembali sepi. Toto belum juga kembali seperti yang dijanjikan. Farhan berusaha menjalani hari seperti biasa, namun sejak kejadian kemarin di depan kamar mandi, pikirannya sulit fokus. Cika bersikap seperti tak terjadi apa-apa. Ia masih bersikap ramah dan santai. Namun justru sikap itulah yang perlahan membuat Farhan gelisah. Ia mulai merasa rumahnya bukan lagi tempat aman seperti dulu. Bukan karena Cika berbahaya, melainkan karena pikirannya sendiri yang mulai berbahaya. Siang itu, Farhan sedang membaca buku di ruang tamu ketika terdengar suara pintu kamar terbuka. Ia menoleh tanpa banyak berpikir, dan matanya langsung membeku. Cika berdiri di ambang pintu kamar dengan mengenakan daster tipis berwarna terang. Daster itu cukup panjang, tapi potongannya longgar dan bahannya menerawang dalam cahaya. Ia sedang mengikat rambutnya ke atas, sehingga lekuk leher dan bahu mulusnya terlihat jelas. “Mas Farhan...” katanya sambil tersenyum. “Aku boleh pinjam setrika nggak? Mau rapiin baju.” Farhan buru-buru memalingkan wajah. “Oh... iya. Di pojok lemari atas dapur, ada. Tapi... hati-hati, ya. Kabelnya kadang suka panas.” Cika mengangguk sambil berlalu. Farhan menutup bukunya, menarik napas dalam-dalam. Ini nggak boleh keterusan, pikirnya. Dia istri orang. Tapi momen-momen seperti itu terus saja muncul. Sore hari, saat hujan, Cika keluar dari kamar dan berkata pelan, “Mas... boleh aku duduk di ruang tamu? Agak takut kalau sendirian di kamar.” Farhan hanya mengangguk. Cika duduk di sofa, membungkus tubuhnya dengan selimut tipis. Suasana penuh hasrat, cahaya lampi ruangan apartemen terasa samar. Angin malam berhembus lewat jendela apartemen yang sengaja tak sepenuhnya tertutup. “Aku nggak pernah nyaman begini sebelumnya,” gumam Cika tiba-tiba. Farhan menoleh. “Maksud kamu?” “Dengan seseorang... yang nggak macem-macem, nggak menggoda, tapi justru membuat aku ngerasa lebih... terlindungi.” Farhan terdiam. Hatinya mulai terhimpit, antara rasa hormat dan godaan. Malam harinya, kesunyian merambat pelan dari sudut-sudut apartemen. Farhan berjalan pelan menuju ke pintu kamar mandi. Lampu remang di ruang tamu masih menyala setengah malu, memantulkan bayangan samar di dinding kusam. Langkahnya nyaris tak bersuara, seolah enggan mengganggu hening yang sudah rapuh. Ketika melewati kamar tamu, matanya, tanpa niat, tanpa rencana, tertarik pada celah pintu yang terbuka beberapa senti. Sebuah bisikan halus seperti memanggilnya dari balik ruang itu. Ia menoleh sekilas, dan pada saat itu, waktu seperti berhenti berdetak. Cika terbaring di sana, dalam tidur yang tampak damai, namun entah mengapa terasa menyimpan kerinduan yang dalam. Daster panjang yang dikenakannya tersingkap pelan sampai batas pahanya, seolah ingin bercerita tentang kelengahan yang tak disengaja. Tubuhnya terlentang lelah di atas ranjang kecil yang berselimutkan senyap. Selimut tipis telah terjatuh ke lantai, seakan tak sanggup menutupi apa pun malam itu. Wajah Cika terlihat begitu lembut dalam cahaya temaram. Ada garis kesepian yang samar di sudut bibirnya yang tak bergerak, dan di kelopak matanya yang tertutup itu, Farhan seperti melihat bayang-bayang rasa yang tak pernah selesai diceritakan. Dan di dadanya sendiri, ada desir aneh yang tumbuh. Bukan sekadar godaan, bukan sekadar hasrat, tapi sebuah konflik batin yang meremas pelan sisi terdalam nuraninya. Ia merasa bersalah karena melihat, tapi lebih bersalah karena tak bisa berpaling cepat. Kenapa kau harus seindah ini dalam kelengahanmu, Cika? batinnya berbisik lirih. Kenapa kau harus hadir dalam hidupku saat batas antara benar dan salah begitu tipis, nyaris tak kasat mata? Farhan menarik napas dalam-dalam, lalu menutup matanya sejenak sebelum melangkah cepat ke kamar mandi. Retelah itu, Farhan segera bergegas menuju kamarnya. Di balik pintu yang akhirnya ia kunci malam itu, pikirannya tak lagi sunyi. Dan hatinya... entah mulai bergerak ke arah yang tak bisa ia kendalikan sepenuhnya. ** Hari-hari berikutnya berjalan perlahan, seperti langkah orang yang kehilangan arah di tengah kabut. Waktu seolah enggan bergerak, atau mungkin memang hanya hati mereka yang tertinggal di tempat yang tak disebutkan namanya. Apartemen mungil itu tetap tenang dari luar, tak ada yang berubah. Tapi di dalamnya, suasana telah bergeser. Ada semacam keheningan baru yang tak nyaman, seolah udara pun mulai menyesakkan d**a. Farhan mencoba menjaga dirinya. Ia mengalihkan perhatian ke buku, ke televisi, dapur, bahkan ke tanaman yang mulai rajin ia sirami. Tapi tiap kali matanya menangkap Cika, dengan caranya yang sederhana, santun, namun tak sengaja memikat, batinnya kembali porak-poranda. Dan anehnya, inilah yang paling mengusik hati Farhan: selama ini, ia bukan lelaki yang asing bagi perhatian perempuan. Ia tahu dirinya cukup menarik. Ada banyak wanita cantik yang pernah mencoba mendekat dengan cara yang manis, bahkan terang-terangan. Tapi entah kenapa, hatinya selalu hening. Datar. Tak bergetar. Namun sekarang, dengan Cika... semuanya berubah. Cika bukan wanita bebas. Ia bukan milik siapa pun, selain milik suaminya. Tapi kenapa justru dia... yang membuat dadaku berdetak seperti ini? Getaran itu bukan sekadar hasrat. Bukan hanya tubuh yang merespon keindahan visual. Ada sesuatu yang jauh lebih dalam. Sebuah resonansi emosional yang tak bisa dijelaskan dengan logika biasa. Setiap kali mendengar suara lembut Cika, atau melihat sorot matanya yang lelah tapi tegar, ada bagian dalam diri Farhan yang seperti ikut roboh. ** Suatu malam, hujan turun kembali. Farhan sedang membaca di ruang tamu saat langkah pelan terdengar dari arah kamar tamu. Ia tak langsung menoleh. Tapi ketika mendengar pintu terbuka, ia tahu... malam itu akan berbeda. Cika berdiri di ambang pintu dengan baju tidur yang tak mewah, namun begitu jujur: tipis, polos, tanpa sandiwara. Rambutnya tergerai, sebagian masih basah. Wajahnya tanpa bedak, hanya kulit yang lelah namun tulus. “Mas...” suaranya lirih, nyaris seperti bisikan angin. “Aku... nggak bisa tidur.” Farhan meletakkan bukunya perlahan. “Kenapa?” Cika menghela napas, lalu duduk di sisi kursi yang lain. Jarak mereka masih aman. Tapi batin mereka... sudah lama tak punya jarak. “Kadang aku bertanya,” bisik Cika, “dalam hidup ini... apakah kita benar-benar punya pilihan? Atau hanya berpura-pura memilih, padahal semua sudah ditentukan luka dan harapan yang kita pendam?” Farhan menatap wanita itu lama, seperti membaca lembar demi lembar dari sebuah novel hidup yang rumit dan belum selesai ditulis. “Aku nggak tahu jawabannya, Cika,” ujarnya pelan. “Yang aku tahu... kita hanya bisa bertahan, sebisa mungkin menjaga agar tidak menyakiti orang lain... termasuk diri sendiri.” Cika menoleh, mata beningnya menatap ke dalam mata Farhan. “Kalau hatiku terluka diam-diam, dan aku tetap tersenyum... apakah itu artinya aku kuat, atau justru aku sedang hancur?” Pertanyaan itu menggantung lama di udara, tak ada jawaban yang pasti. Hanya ada dua jiwa yang saling mencari tempat untuk berpijak, di tengah ladang sunyi yang mulai retak. Dan malam itu, sebelum kembali ke kamarnya, Cika sempat menoleh ke arah Farhan. Senyum kecil terselip di bibirnya, lemah, seperti daun yang melambai sebelum gugur. Farhan memandangi pintu yang menutup perlahan, lalu menunduk dalam. Di dadanya, ada satu kalimat yang tak sanggup ia ucapkan: Jika aku jatuh cinta padamu, Cika... apakah itu salah, ataukah hanya manusiawi? Ia kembali ke kamarnya dengan langkah berat. Hatinya bukan lagi rumah yang tenang. Ia telah menjadi samudra yang menyembunyikan badai. Dan malam itu, untuk pertama kalinya sejak lama... Farhan takut akan perasaan dalam hatinya sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN