Ia mencoba memungut kembali prinsip-prinsip yang selama ini ia jaga dengan susah payah. Tentang kehormatan, tentang batas, tentang harga diri seorang laki-laki. Tapi semua itu seperti dedaunan kering yang mudah beterbangan ditiup angin yang bertiup kencang dengan satu nama: Cika.
***
Dua hari setelah hujan pada malam itu, Toto akhirnya kembali. Lelaki paruh baya itu masuk ke ruangan apartemen dengan langkah lelah, namun senyum tetap setia menghiasi wajahnya.
Seperti biasa, ia menyapa Farhan hangat, memeluk Cika lembut, lalu duduk sejenak di kursi sofa ruang tamu.
Farhan memandangnya dari balik buku yang tak lagi dibaca. Dalam diam, ia merenungi sesuatu yang belum bisa ia beri nama. Ada kegelisahan yang menggantung dalam sikapnya
Setelah makan malam sederhana, Toto meminta bicara empat mata di balkon.
Malam cukup dingin. Angin berhembus pelan membawa aroma bunga kenanga dari sudut halaman.
Tapi bukan angin yang menggigilkan tubuh Farhan, melainkan firasat akan kata-kata yang akan keluar dari mulut laki-laki yang ia hormati itu.
“Mas Farhan...” suara Toto tenang, namun dalam, seperti seseorang yang telah lama menahan beban. “Aku sudah anggap kamu seperti adik. Bahkan lebih. Aku percaya kamu orang yang lurus, jujur, dan punya hati.”
Farhan menoleh, menatap wajah Toto yang dilingkupi cahaya temaram dari ruang tamu. Ia hanya mengangguk, menunggu.
“Cika... kamu lihat sendiri, dia wanita baik. Setia, lembut. Tapi kami sudah lama menunggu keajaiban. Sudah bertahun-tahun kami mencoba, tapi... nihil.”
Farhan mulai merasakan ada sesuatu yang bergerak tak tenang di dalam dadanya.
Toto melanjutkan, suara lebih pelan. “Kami sudah berobat, ke mana-mana. Dokter bilang... masalahnya ada padaku. Aku sudah mencoba ikhlas. Tapi... Cika masih ingin menjadi ibu. Dan aku ingin memberinya itu, meski... bukan dari aku.”
Hening sejenak. Hening yang bukan sekadar keheningan malam, tapi kekosongan yang dalam, seperti jurang yang belum pernah dijelajahi.
“Aku... maksudku aku dan istriku... ingin kamu membantu kami,” ucap Toto akhirnya. “Aku tahu ini berat. Tapi kami butuh kamu. Kami ingin kamu menghamili Cika. Bukan secara diam-diam. Tapi dengan restu. Dengan hati yang bersih.”
Seketika dunia seperti berhenti berputar.
Farhan menunduk. Napasnya tercekat. Dalam hatinya, seperti ada badai yang baru saja meledak.
Ia mencintai Cika. Itu kenyataan. Tapi ia juga tahu: cinta ini tak seharusnya tumbuh.
Ia mencoba memungut kembali prinsip-prinsip yang selama ini ia jaga dengan susah payah. Tentang kehormatan, tentang batas, tentang harga diri seorang laki-laki.
Tapi semua itu seperti dedaunan kering yang mudah beterbangan ditiup angin yang bertiup kencang dengan satu nama: Cika.
Selama ini, ia tak pernah tergoda oleh perempuan mana pun, meski mereka datang menghampiri. Ia dihormati karena keteguhannya, disegani karena prinsipnya.
Tapi Cika... ia tak pernah mengejar. Ia tak pernah dengan sengaja menggoda. Namun kehadirannya seperti mata air di padang sunyi, mengalir lembut, menyusup ke dalam hati tanpa suara, tapi membuat raga haus akan kedekatan.
Farhan menatap dirinya sendiri dalam hati. Apakah ini yang disebut ujian paling berat? Bukan saat digoda dosa terang-terangan, tapi ketika sesuatu dibalut dengan permohonan?
Dari arah pintu, Cika muncul. Langkahnya pelan. Wajahnya tenang, tapi matanya menyimpan gemuruh.
Ia mendekat, duduk di samping Toto, dan menggenggam tangan suaminya, tapi ia berbicara kepada Farhan.
“Mas Farhan...” katanya dengan suara nyaris seperti doa. “Kami nggak ingin membuatmu merasa terpaksa. Tapi kalau kamu bersedia... berilah aku kesempatan untuk menjadi ibu. Sekali saja.”
Farhan menunduk dalam. Hatinya bukan lagi hati. Ia telah menjadi medan perang. Antara cinta dan akal. Antara naluri dan keyakinan. Antara menjadi lelaki... atau tetap menjadi manusia.
Ia berdiri perlahan. Tak menjawab. Ia tak sanggup.
Langkahnya meninggalkan balkon seperti seseorang yang baru saja ditikam oleh harapan yang terlalu terlalu berat untuk dipikul.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Farhan menitikan air mata. Bukan karena lemah. Tapi justru karena ia sedang berusaha sekuat tenaga... untuk tidak menjadi lemah.
Hari-hari setelah malam itu berjalan seperti kabut: tak jelas, tak terang, tak juga gelap sepenuhnya.
Farhan menjauh, bukan secara fisik, karena apartemen kecil itu tetap menyatukan langkah mereka. Tapi hatinya mulai membangun dinding-dinding tak kasatmata.
Ia bicara seperlunya. Menatap dengan enggan. Tertawa pun tak lagi benar-benar lahir dari d**a. Ia menjadi bayang-bayang dari dirinya sendiri.
Namun dalam sunyi malam, dalam sepi kamar, dan detik-detik menjelang tidur... ia justru menjadi versi dirinya yang paling jujur.
Ia berdialog dengan hati, seperti mengadukan nasib kepada langit yang tak menjawab.
“Aku bukan malaikat. Aku hanya laki-laki biasa yang mulai mencintai istri orang, dan sekarang diminta untuk menyentuhnya atas permohonan suaminya. Betapa getir.”
Hampir tiap malam, ia bangun. Duduk di tepi ranjang. Menatap ke dinding, seolah ada jawab tertulis di sana. Tapi yang datang justru suara hatinya sendiri. Suara lirih, lemah, namun tak bisa dibungkam.
“Kalau aku menolak, apa aku telah gagal sebagai sahabat? Jika aku menerima, apakah aku masih bisa memandang cermin dengan mata jujur?”
Sampai pada malam ketiga, setelah Toto dan Cika kembali berbicara padanya, kali ini lebih lembut, lebih dalam, Farhan akhirnya menjawab.
Itu terjadi di ruang tamu, dalam cahaya lampu kuning redup, saat hujan rintik kembali datang, seperti gema dari malam-malam sebelumnya.
Farhan duduk berhadapan dengan mereka. Nafasnya berat. Kata-katanya tak mudah keluar, karena tiap suku kata seperti belati: bisa menyelamatkan, bisa juga melukai.
“Aku... bukan orang berjiwa besar,” katanya akhirnya. “Aku nggak punya jiwa sekuat kalian. Tapi aku menghargai keberanian Mas Toto. Dan aku hormat pada ketulusan Mbak Cika.”
Ia menatap ke arah jendela.
“Aku tidak bisa menerima... jika hubungan itu sekadar permintaan biologis. Karena... bagi aku, menyentuh seorang perempuan bukan hanya tentang tubuh. Itu soal jiwa. Soal keikhlasan. Soal tanggung jawab batin yang panjang.”
Cika menunduk. Toto diam.
“Aku nggak bisa... hanya ‘membantu’. Tapi jika memang dibolehkan, dan diterima... sebagai suami kedua, secara batin, secara lahir... aku siap. Karena kalau aku harus melangkah sejauh itu, maka aku ingin melakukannya dengan utuh. Tidak setengah hati. Bukan karena nafsu birahi semata,”
Hening. Hening yang lama, hening yang berat.
Lalu Toto mengangguk, perlahan. Seolah lega, seolah pasrah, seolah menyerahkan takdir kepada tangan yang lebih luas.
“Begitulah yang kami harapkan juga, Mas,” katanya dengan suara hampir patah. “Kamu tidak sekadar membantu. Kamu... akan jadi bagian dari kami.”
Cika tak berkata apa pun. Tapi di matanya, ada semburat air yang belum jatuh. Ia menatap Farhan lama, lalu mengangguk, pelan, penuh kebahagiaan, dan entah kenapa... penuh kepedihan juga.
Dan malam itu, di rumah kecil dengan dua kamar dan banyak rahasia itu, satu keputusan telah lahir.
Tidak mudah. Tidak ringan. Tapi nyata.
Bukan karena nafsu. Tapi karena cinta yang diam-diam tumbuh dari kesedihan. Dan Farhan tahu, sejak malam itu, ia bukan lagi lelaki yang sama.
Ia telah mengikatkan diri, bukan hanya pada perempuan yang ia cintai diam-diam... tapi juga pada kejujuran yang akan menguji jiwanya seumur hidup.
Hari itu berjalan perlahan, seolah waktu sendiri tak ingin tergesa menyaksikan perubahan besar dalam hidup tiga jiwa yang saling terhubung dalam simpul yang tak lazim.
Tak ada pesta. Tak ada akad yang resmi. Yang ada hanya restu dari seorang suami yang telah menyerahkan seluruh egonya demi cinta yang lebih luas dari kepemilikan.
Malam tiba seperti biasa. Hening. Lembut. Dan anehnya, penuh ketenangan yang tak bisa dijelaskan.
Apartemen mungil itu tetap seperti rumah pada umumnya, tapi udara di dalamnya mengandung sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang sakral, namun rapuh. Seperti benang tipis antara surga dan ujian.
Farhan duduk sendirian di ruang tamu. Lampu sengaja dibiarkan temaram. Di depannya, secangkir teh yang sudah dingin. Ia tak butuh minuman malam itu. Ia butuh kejelasan dalam hatinya.
Dan kejelasan itu belum juga datang, meski ia telah menyiapkan segalanya, batin, niat, dan keberanian.
Langkah kaki mendekat. Pelan. Ringan. Tapi setiap jejaknya terdengar begitu jelas di dalam d**a Farhan.
Cika berdiri di sana, dalam balutan daster putih bersih. Wajahnya polos. Tak ada rias. Tapi kecantikannya justru datang dari kedalaman matanya yang jernih.
Mata seorang perempuan yang telah memilih untuk mencintai dengan cara yang paling sunyi.
“Mas Farhan...” suaranya lembut. Ragu, namun tak bisa disangkal.
Farhan menoleh. Tatapan mereka bertemu dalam diam yang panjang. Lalu Cika berkata lagi, kali ini lebih lirih:
“Mas Toto... sudah tidur. Malam ini... aku ingin bersamamu.”
Farhan berdiri. Tangannya sempat bergetar, tapi ia sembunyikan di balik saku.
Ia menatap Cika bukan sebagai perempuan yang diinginkan tubuhnya, tapi sebagai perempuan yang sedang mempercayakan jiwanya. Dan itu lebih berat dari sekadar keinginan.
“Kalau kamu ragu... kita tidak harus melakukannya malam ini,” bisik Cika. “Aku tidak akan kecewa.”
Farhan menggeleng. “Bukan ragu. Aku hanya... takut.”
“Takut apa?”
“Takut aku terlalu mencintaimu... hingga lupa bahwa cinta ini bukan milikku seorang.”
Cika mendekat. Ia meraih tangan Farhan, menggenggamnya pelan. “Kita tidak sedang mencuri, Mas. Kita sedang membagi. Dengan izin. Dengan cinta yang cukup besar untuk tidak saling menyakiti.”
Lalu, perlahan, ia menuntun Farhan ke kamar yang selama ini jadi ruang kosong.
Di dalam kamar itu, malam menunggu dengan sabar. Dinding bersaksi dalam diam.
Dan tubuh bersatu bukan karena nafsu, tapi karena perjanjian dua hati yang sebenarnya sama-sama hancur.