Tugas Terlarang Dari Sang Suami (5)

1178 Kata
Dan saat tubuh mereka menyatu, bukan hanya raga, tapi kerinduan mereka yang bertaut, sehingga alam pun seolah menunduk diam. *** Malam itu bukan malam yang terburu- uru. Tidak ada nafas yang tergesa. Farhan dan Cika di atas ranjang. Malam itu adalah pertemuan dua jiwa yang sama-sama retak, namun saling menemukan cermin di dalam diri masing-masing. Pelukan mereka adalah pengakuan tanpa kata. Seperti rintik hujan yang akhirnya bertemu di tanah yang sama, tak saling tanya dari mana datangnya, cukup tahu mereka ditakdirkan jatuh di tempat yang sama. Farhan mendekap Cika dengan hati-hati, seolah takut jika pelukannya terlalu erat. Tapi Cika justru bersandar lebih dalam, seperti ingin bersembunyi di d**a Farhan, dari semua hal yang pernah membuatnya merasa tak utuh. “Mas...” bisiknya lirih di antara diam, “aku nggak pernah merasa seaman ini.” Farhan tak menjawab dengan kata. Ia mengusap pelan punggung Cika, menyusuri lekuk bahu yang gemetar bukan karena dingin, tapi karena ragu yang perlahan mencair. Sentuhan mereka seperti daun jatuh ke permukaan air: nyaris tanpa suara, tapi membentuk riak yang menjalar jauh ke dalam. Tidak ada yang perlu disegerakan. Tidak ada yang harus diselesaikan malam itu. Mereka hanya ingin berada dalam pelukan yang jujur, dan itu sudah cukup membuat waktu seakan berhenti. Saat jari Farhan menyusuri rambut Cika, mengurai helai demi helai, ia tak lagi berpikir soal benar atau salah. Ia hanya tahu: malam ini bukan miliknya, bukan milik Cika, bukan milik Toto, tapi milik cinta yang tak pernah tahu batas, tak pernah tahu bentuk, tapi tahu persis di mana ia harus menetap. Ketika akhirnya bibir mereka bersentuhan, bukan hanya letupan yang terjadi, tapi juga penyatuan yang tenang. Seperti dua sungai yang mengalir bersama, tanpa saling menenggelamkan. Tidak ada paksaan. Tidak ada d******i. Hanya keikhlasan yang mekar perlahan dalam dekapan. Farhan menyentuh Cika bukan sebagai laki-laki yang menaklukkan perempuan. Tapi sebagai jiwa yang sedang belajar mencintai dengan cara yang baru: lembut dan sadar bahwa kadang cinta yang paling tulus... adalah cinta yang tidak memiliki. Dan saat tubuh mereka menyatu, bukan hanya raga, tapi kerinduan mereka yang bertaut, sehingga alam pun seolah menunduk diam. Namun sebelum itu benar-benar terjadi, di dalam kamar yang sunyi dan temaram, di sela napas yang mulai berat namun tetap tertahan, Farhan menahan tubuh Cika dengan lembut. Ia menarik diri sedikit, lalu menunduk. Tangannya gemetar, dan wajahnya tampak gugup, seperti anak kecil yang berdiri di depan pintu pertama dalam hidupnya. “Cika...” suaranya nyaris tak terdengar, seakan keluar dari ruang paling sunyi dalam dirinya. “Aku harus jujur...” Cika menatapnya dengan mata lembut. Menunggu, penuh kesabaran. Farhan menarik napas. “Ini... pertama kalinya buat aku.” Cika tertegun. “Pertama kali... menyentuh perempuan?” Farhan mengangguk pelan. Matanya menunduk, seperti merasa bersalah atas kejujuran itu. “Selama ini... aku memang sering didekati perempuan. Banyak yang menawarkan diri. Tapi entah kenapa, aku selalu menjaga jarak. Aku nggak tahu kenapa. Mungkin karena aku takut kecewa. Mungkin karena aku menunggu sesuatu yang... jujur, yang menyentuh batin. Dan anehnya, semua itu aku temukan... justru pada kamu.” Cika menahan napas. Matanya mulai berkaca-kaca. “Jadi malam ini...,” lanjut Farhan dengan suara bergetar, “aku bukan laki-laki dewasa yang tahu segalanya. Aku bukan yang berpengalaman. Aku bukan sosok perkasa. Aku... hanya seseorang yang baru pertama kali merasakan ini semua. Rasa percaya. Rasa ingin melindungi. Dan rasa... cinta.” Ia menatap Cika. Tatapannya penuh harap dan sedikit takut. “Kalau kamu bersedia... bimbing aku. Bimbing aku melewati ini, bukan sebagai perempuan yang sudah tahu segalanya. Tapi sebagai perempuan yang berhati tulus.” Cika tak menjawab dengan kata. Ia hanya mendekap Farhan lebih erat, membenamkan wajah di bahu laki-laki itu yang kini tubuhnya mulai gemetar bukan karena takut, tapi karena cinta yang terlalu tulus untuk disembunyikan. Dan dengan tangan yang sabar, dengan bisikan yang pelan, Cika membimbingnya, bukan dengan teknik, bukan dengan logika... tapi dengan pelukan yang panjang, ciuman yang hangat, dan gerakan yang bernafsu. Farhan mengikuti irama yang tak pernah ia kenal, seperti anak kecil yang belajar menari dengan mata tertutup, hanya mengandalkan suara hati dan detak jantung Cika. Setiap sentuhan adalah pertanyaan, dan setiap bisikan adalah jawaban. Jari-jarinya menyusuri lekuk tubuh Cika dengan gemetar. Tidak terburu. Tidak ingin menguasai. Hanya ingin memahami. Dan Cika menerima dengan kelembutan seorang perempuan yang tidak lagi sekedar melepas gairah, melainkan keutuhan, menjadi tempat seorang laki-laki pertama kali belajar memberi cinta dengan hati yang telanjang. Farhan membenamkan wajahnya di leher Cika. Di sana, ia mencium wangi yang tidak bisa dijelaskan oleh bunga manapun. Bukan parfum. Tapi aroma hidup. Aroma rindu. Aroma seorang perempuan yang telah rela. Dan akhirnya... di tengah pelukan itu, ketika napas mereka menyatu, ketika tubuh mereka menjadi satu tarikan panjang tanpa jeda, ketika mata mereka saling terbuka dan hati mereka tak lagi menahan apapun... Farhan masuk ke dalam Cika dengan keheningan. Terdengar erangan Cika. Desah pelan, seperti hela angin pertama di pagi hari. Mereka berdua bergerak. Alam semesta seperti membentuk ulang dirinya. Ada getar yang tak bisa dijelaskan. Ada denting yang hanya bisa dirasakan oleh jiwa yang benar-benar hadir. Dan malam pun terus berjalan pelan, penuh pelukan, dan penuh keheningan yang tak menyembunyikan apa-apa. Mereka sebagai sepasang tubuh yang terikat oleh syahwat, dan dua jiwa yang terdampar dan menemukan tempat untuk istirahat. Ketika mereka akhirnya terlelap, saling bersandar dalam kantuk yang damai, malam masih belum berlalu. Tapi mereka tahu, hidup mereka sudah berubah. Namun sebelum benar-benar jatuh dalam tidur, dalam senyap yang hanya berisi napas tenang dan debar yang masih belum reda, Farhan membuka matanya. Ia memandangi wajah Cika dalam remang cahaya dari sela jendela. Wajah itu tampak damai, namun masih ada jejak letih yang tertinggal. Farhan menggeser wajahnya, mendekatkan bibir ke telinga Cika, lalu berbisik pelan: “Cika... bolehkah aku minta satu hal?” Cika membuka matanya, setengah kantuk, tapi senyumnya langsung hadir. “Apa, Mas?” Farhan menarik napas. Lalu, dengan suara yang dalam, seperti suara yang muncul dari dasar jiwanya sendiri, ia berkata: “Malam ini... jangan kemana-mana. Tetaplah di sini. Di sampingku. Aku tahu ini semua tak mudah, dan mungkin besok kita akan kembali ke realitas yang rumit. Tapi malam ini... izinkan aku merasakan bahwa kamu benar-benar ada di sini. Menemani. Mendampingi. Menenangkan.” Cika tak langsung menjawab. Ia menatap mata Farhan, lama. Ada embun di sana. Lalu ia mengangguk pelan, dan mengusap pipi lelaki itu dengan lembut. “Aku juga nggak ingin ke mana-mana malam ini. Aku ingin di sini. Di pelukmu. Di dadamu. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama... aku merasa pantas dicintai.” Farhan memejamkan mata. Ia menarik Cika lebih dekat ke dadanya, seperti ingin menjaganya dari apa pun yang ada di luar sana. Waktu, takdir, atau kenyataan. Cika mencium d**a Farhan, pelan. “Aku akan selalu ingat... bahwa untuk pertama kalinya, aku dicintai bukan karena kewajibanku sebagai istri. Tapi karena aku... mencintaimu.” Mereka pun terdiam dalam pelukan yang panjang. Tak ada lagi kata. Yang tersisa hanya dua detak jantung yang menyatu perlahan, mengikuti irama malam yang tak ingin cepat berlalu. Malam itu tak hanya menyatukan tubuh mereka. Tapi juga rasa yang selama ini tak pernah punya ruang untuk tumbuh. Dan dalam sunyi yang melindungi, mereka tertidur. Bersama.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN