Cika duduk di pangkuan Farhan, di sofa kecil yang sudah mulai usang di ruang tamu mungil itu. Daster panjangnya sedikit terbuka, memperlihatkan garis kulit yang pucat dan hangat. *** Hujan turun sejak siang. Farhan duduk di balkon, ditemani secangkir teh hangat dan buku yang tak lagi ia baca. Sejak beberapa minggu terakhir, hidupnya kembali datar. Sepi. Tapi bukan sepi yang sunyi. Melainkan sepi yang menunggu, tanpa tahu apa yang sedang dinanti. Sejak malam itu, malam ketika segalanya berubah, Cika tak lagi muncul. Hanya ada satu pesan pendek sepekan setelahnya: "Mas, aku pulang. Nanti kalau semuanya sudah lebih jelas... aku akan kembali." Dan hari itu, sore yang murung dan basah oleh gerimis, Farhan mendengar bel. Ia bangkit, dan jantungnya langsung berdetak lebih cepat menuju pin

