Santa tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap balik mata Yunita, lalu perlahan, Yunita mendekat, mencium bibir Santa. Lembut.
***
Tengah malam sunyi di kamar kost sederhana itu. Lampu temaram dari bohlam 15 watt. Di luar, suara sepeda motor atau mobil masih terdengar bersahutan.
Santa terbangun perlahan, keringat dingin membasahi leher dan punggungnya. Ia menghela napas panjang, badannya terasa lebih ringan, demamnya mulai mereda. Ia menatap sekeliling, lalu matanya tertuju pada sosok perempuan yang tertidur di karpet.
Yunita. Perempuan yang dulu ia anggap hanya "teman dari teman", kini terlelap di lantai beralas karpet dengan perut yang mulai membuncit, mengenakan daster sederhana. Wajahnya damai, meski ia tahu betapa sulit perjalanan batin perempuan itu.
Perlahan Santa bangkit, melangkah mendekat. Ia berniat mengangkat tubuh Yunita ke atas kasur, agar tidurnya lebih layak. Tapi ketika hendak menyentuhnya, mata Yunita terbuka pelan.
“Aa…?” bisik Yunita setengah sadar.
“Neng, saya hanya mau mindahin kamu ke kasur… bukan mau macam-macam,” ucap Santa cepat, hampir gugup.
Yunita tersenyum lemah. “Aa sudah sembuh?”
“Alhamdulillah… badan saya jauh lebih enakan, berkat kamu, Neng.”
“Ya sudah, Aa tidur saja. Biar saya tetap di sini,” kata Yunita menahan kantuk.
Santa menggeleng pelan. “Jangan, Neng … kamu sedang hamil. Lantai dingin, nanti kamu sakit. Kasihan bayimu…”
Yunita menatap Santa dalam-dalam, hatinya terasa hangat, ada air mata yang mengambang. Pelan ia mengangguk. “Baiklah… tapi saya minta… Aa juga tidur di kasur…”
Santa tersenyum kecil. “Kalau Neng yang menginginkan saya… ya, saya tidur di kasur juga.”
Yunita mendekat sedikit, lalu berbisik lembut, “Saya mau diangkat sama Aa… kuat enggak?”
Santa mengangguk dan tanpa ragu ia mengangkat tubuh Yunita. Dalam gendongannya, Yunita menyandarkan kepala di d**a Santa. Suara detak jantung pria itu terdengar tenang dan kuat. Ia merasa aman. Santa meletakkan Yunita dengan hati-hati di atas kasur. Ia pun berbaring di sebelahnya, perlahan.
Mereka tidur sekasur sebagai suami istri. Tidak ada siapa-siapa, tidak ada basa-basi. Hanya ada mereka dan waktu yang diam-diam mempertemukan dua hati yang lelah.
Yunita memiringkan tubuh, menatap Santa.
“Kenapa Aa sebaik ini ke saya?”
Santa tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap balik mata Yunita, lalu perlahan, Yunita mendekat, mencium bibir Santa. Lembut.
Santa membalas ciuman itu dengan hati yang bergetar. Lalu tangan Yunita meraih Santa, memeluknya. Nafas mereka mulai tak beraturan, tubuh bersentuhan, dan untuk pertama kalinya mereka tidak lagi merasa seperti orang asing.
Tapi saat Yunita tangan mulai membuka resleting celana Santa dengan tangan gemetar, Santa tiba-tiba menahan tangannya dengan lembut.
“Yun… maaf, aku ingin bicara dulu sebelum kamu salah paham…”
Yunita menatap Santa heran. “Kenapa? Aa nggak suka saya?”
Santa menggeleng pelan, lalu menarik napas dalam. “Justru karena saya sangat menginginkanmu, Neng…”
Santa menunduk, wajahnya memerah. Lalu ia berkata lirih, “Saya harus jujur. Waktu di rumahmu, Neng… waktu kamu habis mandi dan berjalan ke kamarmu dengan handuk… saya lihat… dan saya… saya tergoda.”
Yunita menahan napas, matanya membelalak kecil, namun tidak marah.
“Saya ingin memeluk kamu dari belakang, waktu itu,” lanjut Santa, suaranya gemetar. “Tapi saya ingat janji saya. Saya janji tidak akan menyentuhmu. Tapi malam itu… saya gagal menahan rasa saya sendiri. Saya ke kamar mandi, dan saya… saya menenangkan diri… dengan cara sendiri. Maaf kalau ini membuatmu kecewa…”
Yunita menatap Santa, lalu tersenyum tipis. Ada kilau bening di matanya. “Aa… saya justru merasa dihormati. Kamu tahu batas, bahkan saat tidak ada yang melihat. Itu membuat saya percaya… bahwa kamu laki-laki yang tulus.”
Yunita mendekatkan wajahnya lagi. “Aa… kalau sekarang kamu menginginkan saya, lakukan saja…”
Santa memejamkan mata. Ia menggeleng pelan. “Neng, bolehkah saya minta satu hal sebelum kita melangkah lebih jauh?”
“Apa itu?”
Santa menatapnya. “Mari kita berwudhu dulu…”
Yunita menatapnya dalam. “Wudhu?”
Santa mengangguk. “Bukan karena kamu kotor. Bukan karena saya sok suci. Tapi saya ingin malam ini… bukan cuma jadi malam nafsu. Saya ingin ini jadi malam cinta yang diridhai…”
Yunita tak berkata-kata. Tapi matanya telah menjawab semuanya. Ia bangkit, menggandeng tangan Santa, dan bersama mereka menuju kamar mandi kecil di belakang.
Mereka berwudhu dalam hening, hanya suara air yang terdengar, dan hati yang bergetar.
Setelah berwudhu, saat Santa sedang mengeringkan wajahnya dengan handuk kecil, Yunita tampak ragu dan celingukan. Ia berdiri canggung di dekat pintu.
“Kamu kenapa, Neng?” tanya Santa pelan.
Yunita tersenyum canggung. “Saya… saya lupa, tidak membawa mukena. Masa saya harus pinjam ke Susan jam segini…”
Santa tersenyum hangat. Ia tak berkata apa-apa, hanya menggandeng tangan Yunita pelan menuju kamar.
Sesampainya di kamar, Santa membuka lemari kayunya yang sudah sedikit usang, lalu dari bagian dalam yang paling rapi, ia mengeluarkan sebuah plastik bening bersegel.
“Saya sudah membelikannya untukmu,” kata Santa, suaranya pelan tapi penuh harap. “Saya nggak tahu kapan kamu akan datang, tapi… saya yakin suatu hari istri saya akan datang ke kamar ini. Dan saya ingin mukena pertama istri saya di tempat ini bukan mukena pinjaman.”
Yunita mematung. Tangannya gemetar saat menerima bingkisan itu. Ia membuka pelan plastik beningnya.
Mukena berwarna putih tulus terlipat rapi, masih harum seperti kain baru. Kainnya halus, dingin di tangan, dan ringan seperti kapas. Ada renda-renda kecil menghiasi bagian pinggir kerudung dan bawahannya, sederhana tapi indah.
Yunita mengangkat mukena itu, membentangkannya perlahan. Matanya berkaca-kaca. Lalu ia mendekatkan mukena itu ke wajah, mengecupnya dengan penuh cinta dan rasa syukur yang dalam.
“Terima kasih, Aa…” bisiknya. “Saya tidak pernah dibelikan sesuatu yang sesederhana ini… tapi belum pernah ada yang membuat saya merasa begitu dihargai…”
Santa menunduk, matanya ikut berkaca. Ia tidak ingin menangis, tapi dadanya begitu sesak oleh rasa yang tidak bisa dijelaskan.
Yunita mengenakan mukena itu perlahan. Saat kain lembut menyentuh kulit wajahnya, ia merasakan sesuatu mengalir dalam dirinya, bukan sekadar udara malam, tapi doa-doa dari masa lalunya yang dulu pernah putus di tengah jalan, kini seperti dikabulkan dalam wujud seorang laki-laki bernama Santa.
Dengan mukena yang membalut tubuhnya, Yunita berdiri di belakang Santa. Mereka shalat Isya berjamaah. Santa menjadi imam, suaranya lirih tapi khusyuk.
Yunita berdiri di belakangnya, mengikuti gerakan, dan dalam sujud terakhir, ia menangis. Tangis syukur, tangis kesedihan, tangis harapan yang tumbuh dalam hangatnya cinta.
Usai shalat, Santa memegang tangan Yunita dengan lembut.
“Yun, saya ingin bicara, tapi saya harap kamu jangan salah paham. Jangan anggap saya pria sok suci…”
“Katakan saja, Aa…”
Santa menarik napas. “Yun, saya bukan pria sempurna. Saya punya banyak dosa juga. Tapi saya pernah dengar… sebenarnya saya hanya boleh menikahi kamu setelah kamu melahirkan. Itu ajaran agama kita. Waktu itu saya mengatakan siap, karena memang keadaan yang darurat. Tapi saya juga sudah berkonsultasi dengan seorang ustaz, dan… saya rasa, kita harus meluruskan niat. Kita menikah lagi, nanti… setelah anakmu lahir. Dan barulah saya boleh menyentuhmu.”
Yunita menitikkan air mata. Ia memeluk Santa. Kali ini bukan pelukan hasrat, tapi pelukan cinta yang tulus, dalam, dan meneduhkan.
“Terima kasih, Aa…” bisiknya. “Karena Aa, saya tidak lagi merasa hina…” ucap Yunita sambil terus menangis pelan di d**a Santa.
“Aa… kenapa kamu sebaik ini? Padahal dulu saya mencurigaimu. Saya pikir kamu hanya ikut-ikutan Toni… saya pikir kamu juga akan mempermainkan saya…”
Santa mengusap punggung Yunita dengan lembut.
“Kalau kamu tahu, betapa saya ingin sekali mengatakan sejak awal: saya mencintaimu, Yun. Tapi saya tahu, cinta bukan sekadar kata. Cinta harus dibuktikan dengan sikap. Saya mungkin tidak sempurna… tapi saya ingin kamu percaya, saya akan menjaga kamu dan anak yang sedang dalam kandunganmu sebaik mungkin.”
Yunita terisak, tapi hatinya terasa damai. Malam itu, mereka kembali ke kasur. Sekasur, tapi tidak bersetubuh. Mereka tidur berdua, berdekapan seperti dua jiwa yang saling menyembuhkan luka masing-masing.
Dan di luar sana, bulan bersinar penuh. Menerangi malam dengan cahaya lembut. Seolah menjadi saksi, bahwa dari hubungan yang dibangun bukan karena cinta, kini tumbuh benih kasih yang lebih tulus dari sekadar hasrat.