Yunita menghela napas panjang. Ada rasa haru, tapi juga kagum. Di tengah keterbatasannya, Santa tetap mencari cara untuk bertahan, untuk menghidupi adik-adiknya, dan sekarang, untuk tetap memberi nafkah padanya.
***
Pernikahan Santa dan Yunita berjalan seperti yang disepakati. Tidak ada yang istimewa dalam pandangan orang luar. Di mata tetangga sekitar, mereka seperti pasangan biasa, suami istri yang hidup dalam ritme sederhana: suami bekerja di Jakarta, istri tinggal di desa, menanti dan menyambut kepulangan dengan senyum lelah tapi bahagia.
Tapi di balik semua itu, hanya mereka berdua yang tahu, bahwa hubungan ini dimulai dari musibah. Dan cinta, jika memang itu sedang tumbuh, tumbuh dalam diam.
Setiap dua minggu sekali, Santa pulang ke Banjarsari. Ia selalu datang dengan koper kecil, kadang bungkusan plastik berisi makanan ringan oleh-oleh dari Jakarta.
Malam-malam mereka di rumah itu selalu sama: Di dalam kamar, mereka berbagi tempat tidur, tapi tak pernah saling menyentuh. Kadang Santa datang saat Yunita sudah tidur. Ia akan menarik selimut pelan, membaringkan diri di ujung ranjang, membiarkan jarak tubuh mereka tetap ada.
Kadang, mereka saling bertukar cerita ringan sebelum tidur, tentang adik Santa yang mulai belajar bimbel, tentang sawah yang dikelola Yunita, atau tentang bayi mereka yang mulai menendang di perut.
Tapi tak sekalipun Santa menyentuhnya. Yunita tahu itu bukan karena ia tidak menarik bagi Santa. Ia tahu. Ada sorot mata yang tak bisa menyembunyikan ketertarikan. Ada napas yang tertahan sesaat ketika ia melewati Santa dengan daster tipis. Tapi lelaki itu... selalu tahu batas.
Dan setiap kali hendak kembali ke Jakarta, pagi-pagi Santa akan mengambil dompetnya. Dari sela-sela lipatan baju, ia mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan yang sudah ia simpan rapi dalam amplop.
“Maaf ya, cuma segini...”
Entah lima ratus ribu, enam ratus ribu. Jumlah yang mungkin tak banyak bagi sebagian orang. Tapi bagi Santa, itu bagian dari perjuangan. Ia bekerja keras, membagi hasil keringatnya untuk ibunya, adik-adiknya, dan juga Yunita, istrinya, meski tanpa hak untuk menyentuh tubuhnya.
Yunita selalu menggeleng.
“A, saya nggak nuntut apa-apa. Saya yang minta bantuanmu. Saya yang... menyebabkan semua ini terjadi.”
Santa akan menggeleng perlahan. Suaranya selalu lembut, tapi nadanya tidak bisa dibantah. Ada tekad dalam tiap katanya, seperti sumpah sunyi yang ia pegang sendiri.
“Tapi kamu istriku, Neng. Nafkah itu bukan karena kamu meminta. Tapi karena kewajibanku. Saya tetap harus menunaikannya.”
Yunita hanya bisa menatap. Diam-diam. Di dalam dirinya, rasa bersalah dan rasa hangat saling bergantian. Ia pernah mengira pernikahan ini adalah pelarian. Tapi setiap kali Santa bicara, ia merasa seperti sedang ditopang oleh seseorang yang benar-benar mau bertanggung jawab.
Dan setiap kali Santa beranjak menuju terminal, memanggul ransel lusuhnya, dan punggungnya mulai mengecil dari kejauhan, Yunita berdiri di teras rumah, menatap dalam diam.
Entah sejak kapan, tapi kini ada bagian di hatinya yang selalu terasa hangat setiap kali melihat punggung itu.
Ada sesuatu yang tumbuh, pelan-pelan. Sesuatu yang bukan sekadar rasa terima kasih. Bukan juga sekadar rasa bersalah karena telah menyeretnya ke dalam kisah ini.
Ia bingung harus menamainya apa. Tapi yang ia tahu, saat Santa menghilang di tikungan jalan, hatinya ikut terasa kosong.
Dan mungkin… hanya mungkin… itu adalah cinta yang sedang belajar menemukan bentuknya.
**
Perut Yunita semakin membesar. Usia kandungannya telah memasuki bulan kelima. Namun, kepada semua orang, ia dan Santa sepakat mengatakan bahwa usia kandungan baru tiga bulan, sesuai usia pernikahan mereka. Sebuah kebohongan kecil demi menjaga martabat, yang hanya mereka berdua pula yang tahu.
Hari itu, seperti biasa, adalah jadwal Santa pulang ke Banjarsari. Biasanya, sejak pagi, hati Yunita sudah hangat membayangkan sosok pria itu turun dari ojek, membawa ransel kecil dan senyum lelah. Tapi siang itu berbeda.
Pesan singkat masuk ke ponsel Yunita.
"Neng, maaf. Aku nggak bisa pulang hari ini. Ada urusan penting. Nanti aku kabari lagi."
Yunita menatap layar ponselnya lama. Tidak biasanya Santa membatalkan janji mendadak, tanpa penjelasan lebih. Ada rasa kecewa, tapi juga bingung, karena diam-diam ia sudah terbiasa dengan kehadiran Santa tiap dua pekan.
Bukan karena kebiasaan atau tuntutan peran sebagai suami, tapi karena ia merindukannya. Meski tak pernah tidur bersama, Yunita tahu, Santa telah menjadi bagian dari rumahnya. Bagian dari hatinya.
Entah kenapa, Yunita tiba-tiba teringat Susan, tetangga kost Santa di Jakarta. Ia membuka percakapan lama mereka, lalu iseng mengirim pesan.
"Hai, Susan. Apa kabar? "
Susan membalas cepat. Hangat seperti biasa.
"Hai, Mbak Yun! Kabar baik... Mbak apa kabar? Eh, Mas Santa kok nggak ke Banjar? Biasanya dua minggu sekali, kan? Aku lihat barusan dia ke kamar mandi kost."
Deg.
Jantung Yunita berdegup kencang. Matanya menatap layar ponsel tanpa berkedip. Ia langsung membuka pesan Santa lagi, dan mengirim pertanyaan:
"A, keperluannya jauh ya?"
"Iya."
"Jadi Aa lagi nggak di kost, dong?"
"Iya…"
Jawaban Santa pendek-pendek. Tanpa penjelasan, tanpa usaha menenangkan. Dari kekhawatiran, perasaan Yunita berubah menjadi cemburu.
Ia tak bisa duduk tenang. Sekejap kemudian, ia berkemas. Membawa tas kecil dan jaket tipis. Tanpa memberitahu Santa, tanpa membalas pesan Santa, Yunita naik bus menuju Jakarta.
Sesampainya di Jakarta malam itu, hujan gerimis turun tipis. Lampu-lampu jalan memantulkan cahaya sayu di aspal. Dengan langkah sedikit terbebani, Yunita berdiri di depan bangunan tempat Santa ngekost.
Yunita melihat motor Santa terparkir di tempat biasanya.
Dadanya sesak. Ia berjalan cepat menuju pintu kamar kost, tak peduli lagi pada rasa malu. Ia mendorong pintu kamar kost Santa, tidak terkunci.
Dan di dalam, Santa terbaring lemah di atas kasur tipis, wajahnya pucat, tubuhnya menggigil dibalut selimut lusuh. Ia membuka matanya dan terlihat kaget.
“Neng... kamu kenapa ke sini?” bisiknya lemah.
Yunita tercekat. Semua kecemburuan dan prasangka buruknya runtuh seketika. Ia melangkah cepat, duduk di sisi kasur dan meraba dahi Santa.
“A koq panas... Astaga, kamu demam tinggi!”
Santa hanya tersenyum, lemah. Matanya menatap Yunita. Dan sekejap saja Yunita paham situasi. Yunita bangkit tanpa banyak bicara. Ia mengambil kain, mengisi baskom kecil dengan air dari kamar mandi, dan mulai mengompres kening Santa.
Lalu Yunita keluar, menuju warung, mencari obat demam, dan dengan susah payah, ia mencari tukang bubur di tengah hujan. Beberapa kali ia bertanya, hingga akhirnya bertemu penjual bubur yang mangkal di ujung gang.
Setelah kembali ke kamar kost, Yunita menyuapi Santa dengan hati-hati.
“Pelan-pelan, A... Biar perutmu nggak kaget,” ucapnya sambil meniup sendok berisi bubur panas.
Santa menatap Yunita dengan mata berkaca. Tidak karena sakit, tapi karena terharu. Perempuan ini... perempuan yang awalnya hanya ingin meminta tolong menyelamatkan harga diri dan aibnya, kini merawatnya seperti istri yang benar-benar mencintai.
Setelah menyuapi dan memberikan obat, Yunita duduk di lantai dekat kasur. Ia menyelimuti Santa dengan pelan, lalu mengelus lengannya dengan lembut.
“Saya minta maaf…” bisik Yunita lirih.
Santa memejamkan mata. “Maaf untuk apa, Neng?”
“Untuk curiga... Untuk datang tanpa bilang… Saya pikir kamu…”
Santa membuka matanya perlahan. Meski lemah, senyumnya tetap tulus.
“Saya nggak marah. Justru saya minta maaf sudah bohong. Saya tidak mau membuat kamu khawatir… Tapi… saya senang kamu datang…”
Yunita terdiam. Ditatapnya wajah Santa yang pucat, tapi damai. Ia merasa bersalah, tapi juga hangat. Seolah tak ada lagi tembok yang memisahkan hati mereka.
Malam itu, Yunita tidak tidur di lantai. Ia duduk bersandar di dinding, menunggu Santa terlelap, sesekali mengusap kening dan mengganti kain kompres.
Dan dalam hati, tanpa suara, Yunita akhirnya mengaku, ia mulai mencintai suaminya… sungguh-sungguh.
Santa tertidur dengan pulas. Nafasnya teratur, peluh di dahinya mulai mengering. Wajahnya tenang, tidak lagi tampak gelisah seperti tadi sore. Mungkin efek obat demam yang tadi diminum.
Yunita duduk di dekatnya, memperhatikan setiap lekuk wajah pria yang sekarang sah menjadi suaminya. Ia tidak menyangka, sosok sederhana ini mampu memberi rasa aman yang bahkan tidak pernah ia temukan dalam cinta-cinta yang dulu.
Diam-diam Yunita tersenyum. Ia menunduk, mengelus lengan Santa yang kurus dan terbakar kerja keras. Maafkan aku yang terlalu curiga... batinnya lirih.
Tak ingin mengganggu tidurnya, Yunita pun bangkit perlahan, mencoba membereskan sekeliling kamar. Matanya tertumbuk pada deretan dus besar yang ditumpuk di pojok ruangan. Dus-dus itu tampak berat, tapi rapi tersusun.
Salah satu dus dalam keadaan sedikit terbuka. Yunita mendekat, rasa ingin tahunya tumbuh. Perlahan, ia menyibak tutup dus itu.
Isinya... mainan anak-anak.
Dalam satu set yang dibungkus plastik dan di-hekter, terdapat benda-benda kecil dan sederhana: buku gambar, spidol warna-warni, slime kecil dalam kemasan bening, stiker-stiker karakter kartun, dan puzzle mini dari kardus tipis. Semua tampak sederhana, seperti mainan yang biasa dijual di pasar malam atau kios pinggir sekolah.
Di setiap paket tertempel label kecil bertuliskan: “Semua Item Rp 2.000,-”
Yunita terdiam. Tangannya memegang satu set itu lama. Pikirannya mulai menyusun potongan-potongan kehidupan Santa. Ia tahu Santa bekerja keras, tapi ia tak pernah tahu sekeras ini. Menjual mainan murah seperti ini… mungkin berkeliling pasar atau menitip di warung.
Yunita menghela napas panjang. Ada rasa haru, tapi juga kagum. Di tengah keterbatasannya, Santa tetap mencari cara untuk bertahan, untuk menghidupi adik-adiknya, dan sekarang, untuk tetap memberi nafkah padanya.
Ia perlahan menutup kembali dus itu. Meletakkan set mainan ke tempat semula dengan hati-hati, seolah benda itu begitu berharga.
Yunita kembali ke sisi Santa. Ia mengambil satu bantal tipis, membentangkannya di atas karpet, lalu merebahkan diri pelan-pelan. Ia menatap langit-langit kamar, memikirkan banyak hal, tentang masa depan, tentang bayi dalam perutnya, dan tentang lelaki sederhana yang kini tertidur di hadapannya.
“Terima kasih, A...” bisiknya pelan, “...karena kamu bersedia menjadi tembok pelindungku, bahkan sebelum aku memintanya.”
Lalu matanya perlahan terpejam. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, Yunita merasa... tenang.