POV Zara Annisa Tau rasanya berdiri di bawah cahaya matahari tepat jam dua belas siang? Seperti itulah panasnya tubuhku saat ini. Aku sengaja menyembunyikan lingerie di balik piyama. Berharap Davin tidak menyuruhku membuka piyama ini, tetapi malahan dengan tangannya sendiri membuka tali hingga membuat piyama yang kukenakan melorot ke bawah. “Gelap. Gak kelihatan,” keluhnya. Taukah, betapa aku ingin menyumpal mulutnya agar tidak memprotes? Aku saja ingin lari, lalu bersembunyi di balik selimut karena mengenakan lingerie ini. Dia dengan santainya bilang ‘gak kelihatan.’ “Jangan banyak protes, Davin,” kecamku. Dia terdengar berdecak. “Ini sudah terang, kalau perlu di matikan saja lampunya sekalian.” “Eh, jangan dong!” Davin beranjak menjauh. Terlihat dari pencahayaan yang temaram, dia

