Malam yang Dinanti

1036 Kata
POV Davin Aku menunggu Zara yang sedang mandi sambil membalas pesan dari Avril. Sempat kuacuhkan belasan panggilan tak terjawab dan lima pesan masuk selama dalam perjalanan tadi. Aku malas berdebat dengan Zara, yang pastinya dia bakal bertanya diri si penelepon. Tak mungkin juga kukatakan bahwa Avril orangnya. "Davin." "Sudah berangkat?" "Vin, angkat teleponnya." "Davin!" "Plis, telepon balik!" Kesemuanya seperti menjelaskan tentang perasaannya, Avril sedang cemburu. Jelas saja, ia pasti akan segera mengetahui keberangkatanku ke puncak bersama Zara yang terkesan mendadak. Aku sengaja tak memberitahunya. Mungkin dia baru menyadari kepergianku setelah sampai di kantor. Biasanya, Avril akan selalu menungguku, seperti itulah kebiasaannya. Dia selalu menunggu di lobi, lalu kami akan pergi bersama-sama ke lantai atas. Kebetulan, ruang kerjaku bersebelahan dengan ruang kerja Avril. “Vin, gak mandi?” Entah sejak kapan Zara berdiri di depan jendela. Aku sampai tidak menyadari. Tadinya, aku menyuruh Zara mandi lebih dulu. Maksudku, biar aku bisa bebas membalas pesan-pesan Avril. Kasihan juga Avril jika terlalu lama menunggu balasan. “Iya,” balasku. Aku segera mengetik balasan pesan untuk Avril sebelum membersihkan badan. "Maaf, jangan hubungi dulu. Nanti aku jelaskan setelah aku kembali." * Zara tampak rapi dengan stelan gamisnya. Rambut dibiarkan tergerai, karena masih basah. Usai mengganti pakaian, aku mengajaknya ke luar kamar. “Keluar?” tanyanya. Kenapa dia heran? “Perutku sudah lapar. Kamu gak lapar?” “Oh, i-iya jelas lapar,” jawabnya tergagap. Diajak makan sampai gagap begitu. Aneh. Meja makan di vila ini rupanya langsung terhubung dengan dapur. Di atas meja sudah tersedia makanan sederhana. Telur ceplok, ayam goreng dan tumisan kangkung. Ada lalapan daun kemangi dan sambal di sisinya. Rasa lapar yang sudah tak tertahankan lagi, membuatku langsung bergerak mengulurkan piring pada Zara. Dia mengisi piringku dengan menu sesuai pilihanku. Dia juga melakukan hal yang sama, mengisi piringnya dengan memilih menu di atas meja. “Ke mana pembantu tadi?” tanyanya di tengah-tengah mengabiskan makanan. Zara juga sama sepertiku, rupanya dia lapar juga. “Pulang,” jawabku. “Kok pulang?” “Aku yang menyuruhnya.” “Kenapa begitu?” “Aku menyuruhnya datang menyediakan sarapan sekaligus makan siang dan sore untuk makan malam. Hanya untuk masak dan bersih-bersih saja.” Zara tak lagi bertanya. Mungkin sudah paham maksudku. Kami menghabiskan makanan dalam diam. Setelah itu, aku berpamitan untuk ke luar sebentar. Jaringan ponsel susah di dalam rumah. Aku perlu menghubungi Iis untuk menanyakan urusan kantor, juga harus menghubungi Avril. . Suasana rumah sepi saat aku masuk. Tak terdengar tanda-tanda kehidupan. Ke mana Zara? Aku mendorong pintu dengan perlahan dan mendapati Zara berdiri menghadap jendela. Dia menoleh setelah menyadari kedatanganku. “Dari mana? Lama amat,” tanyanya. “Cari sinyal,” jawabku. Aku bergerak mendekati koper yang teronggok di dekat lemari, lalu mengambil sesuatu dari dalam sana. “Aku belum sempat memindahkan pakaianmu ke lemari,” ucapnya. Aku gak tak membalas. Aku menyodorkannya sesuatu yang kuambil dari dalam koper pada Zara. “Apa ini?” tanyanya menelisik. “Pakai nanti malam,” jawabku. Zara terlihat sangat penasaran. Dia langsungnya membuka plastik putih pembungkusnya. Lingerie yang kemarin aku berikan padanya ikut dalam misi kali ini. Zara berdecak, dia pasti kesal. ia juga mengerling malas, menandakan betapa menyebalkan benda itu ada di tangannya. “Bukankah sudah menjadi kewajiban seorang istri untuk menyenangkan hati suami?” tuntutku. Zara membawa lingerie berwarna soft pink itu duduk di tepian ranjang. “Iya, aku pakai nanti malam,” jawabnya. “Bagus,” balasku. Zara terdengar berdecak lagi. Aku senang membuatnya kesal seperti itu. Ekspresi wajahnya semakin terlihat lucu. . Malam beranjak, aku masih menunggui Zara yang sudah sepuluh menit berada di dalam sana. Setelah salat isya tadi, dia berpamitan ke kamar mandi. Aku menunggunya, jelas dengan d**a yang berdebar-debar. Ini kali pertama aku melakukan hubungan suami-istri, jika memang nantinya terjadi. Satu tahun menikah, bohong jika aku berkata tidak membutuhkan nafkah batin itu. Tetapi tidak kepada Zara. Jelas aku menolaknya. Namun, akhir-akhir ini keinginan itu sangat kuat seiring dengan desakan oma yang meminta anak dari rahim Zara. “Davin, oma tidak akan memberikan harta sepeser pun untuk kamu jika kamu tidak mendapatkan anak dari Zara. Itu syarat mutlak.” Awalnya hanya menganggap pernikahan ini hanya sementara. Sebatas menyenangkan hati oma saja. Tetapi setelah mendengar langsung ultimatum oma seperti itu, aku menjadi berubah pikiran. Aku harus mendapatkan harta itu bagaimana pun caranya. Meski harus menjadikan Zara ibu dari anak-anakku nanti. Soal cinta atau tidak, itu urusan nanti. Siapa lagi yang akan meneruskan kelangsungan hidup perusahaan papa kalau bukan aku? Aku pewaris tunggal, tetapi warisan itu akan gugur jika aku tidak memenuhinya syarat sahnya. Oma bahkan sudah menunjuk beberapa pantai asuhan yang akan menerima pembagian harta jika aku ingkar dengan perjanjian itu. Sekarang yang menjadi pertanyaannya adalah siapa Zara sebenarnya? Mengapa dia sangat penting untuk oma? Setahuku, Zara hanya seorang yatim piatu yang di besarkan di sebuah panti asuhan. Lalu, setelah menginjak SMA, semua kebutuhannya menjadi tanggungan oma. Begitu penting dia bagi Oma hingga mendapat tempat yang begitu istimewa. Jadi penasaran. “Vin,” panggilan Zara mengagetkanku. Zara sudah berdiri di hadapanku. Kenapa dia masih mengenakan piyama mandi? Padahal aku sudah menyuruhnya mengenakan lingerie itu. “Kemana lingerienya? Kenapa gak dipakai?” tanyaku sengaja dengan nada tinggi. Dia terlihat kikuk sambil berjalan cepat, lalu duduk di sampingku. Dia tak menjawab. “Heh,” panggilku. “Di dalam,” jawabnya. Aku mengernyit, karena mendengar jawaban yang ambigu. “Dalam lemari?” tanyaku. Zara menggeleng. “Dalam kamar mandi?” tanyaku lagi. Dia menggeleng lagi. “Hais, di dalam mana?” tanyaku bertambah kesal. “Di dalam sini.” Zara menunduk. Dengan malu-malu menunjuk ke dadanya. “Kamu pakai baju double?” Dia mengangguk lagi. “Ya, ampun!” keluhku dengan desahan panjang. “Buka!” perintahku. Zara bergeming. Dia pasti hanya menunduk tanpa pergerakan sama sekali. Sepertinya, aku yang harus punya inisiatif sendiri. Aku melirik letak tali piyama yang dikenakan Zara, lalu bergerak menariknya. Dia terkejut, menatapku dalam diam. Lalu tertunduk kembali setelah piyamanya terbuka. Tatapanku mengarah ke lingerie di balik piyamanya. Secara naluri tanganku terulur membuka piyama Zara. “Sebentar, Vin,” cegahnya. “Ada apa lagi, sih?” “A-aku matikan lampu utama dulu.” Zara bergeser, lalu berjalan menjauh untuk mematikan lampu. Ada-ada saja alasannya. Setelah ini, tak akan kubiarkan dia beralasan lagi. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN