POV Zara Annisa
***
Setiap kali berdebat dengan Davin, maka akan berujung kesal sendiri. Sepertinya, dia selalu punya kata-kata yang bisa mematahkan hatiku.
Namun, rasa penasaran di kepalaku ini menuntut untuk selalu melontarkan pertanyaan. Terkadang, sampai Davin membentakku karena mungkin suasana hatinya yang tak sesuai dengan pertanyaan yang kuajukan. Akibatnya, yaitu tadi, dia akan marah dan cepat sekali tersulut emosi.
“Tadinya, aku mau usul ke pantai saja.” Aku masih mengajukan saran. Andai saja Davin mau mengabulkannya dengan memerintahkan Tarjo untuk berbelok ke pantai. Aku suka sekali pantai dan bermain ombaknya.
“Gak usah protes. Nikmati saja yang ada. Nanti kamu juga merasa senang setelah melihat vila itu.”
"Maksudku, bukan masalah bagus enggaknya vila itu.Tapi, aku 'kan suka ombak.”
“Gak usah rewel," ketusnya tak suka mendengar pengakuanku.
“Ish!”
“Sudah kubilang, kita punya misi khusus. Bukan dalam rangka liburan bersenang-senang.”
“Tapi 'kan ....” Aku menggantung ucapan. Sadar kalau ucapanku pasti akan ditertawakan olehnya.
“Tapi apa? Kalau merasa tak nyaman, kita pulang saja. Seperti katamu, mungkin kita bisa melakukannya di rumah. Tentu saja dengan menyuruh semua pembantu libur bekerja."
"Jangan aneh-aneh, Davin!" kecamku.
"Kalau nggak mau aku berbuat neket, maka jangan macam-macam. Nikmati saja apa yang ada. Atau kita kembali saja?"
“Eh, bukan begitu. Ya ... ya sudahlah, aku menurut saja.”
Tapi kan, kita memang sedang bersenang-senang, maksudku seperti itu.
Akhirnya, aku bungkam dari pada tak jadi menjalankan misi.
Walaupun misi kami sama, sama-sama menginginkan anak, tetapi tujuanku dengan tujuan Davin itu berbeda.
Davin menginginkan anak, karena terus mendapat desakan dari Oma. Sedangkan aku ingin menunjukkan siapa aku sebenarnya di hadapan Avril. Aku ini nyonya Davin yang memiliki hak sepenuhnya atas diri Davin. bukannya orang lain yang hanya seorang mantan pacar, lantas bebas mengatur kehidupan suamiku.
Sebenarnya, aku sering mendapat tekanan dari Avril. Terakhir, ketika aku datangke kantor Davin kemarin bersama oma.i
Tanpa sengaja aku bertemu dengan Avril di toilet.Seperti biasanya, dia pasti mengolok-olokku. Merasa panas, aku pun membalas hinaan dengan ucapan yang membuatnya mati kutu.
“Aku tidak pernah merebut Davin darimu. Kamu juga tau kan,kalau pernikahan kami karena oma.”
“Tapi, kamu terlihat menikmati kebersamaan dengan Davin.Nyatanya, kamu enggan berpisah darinya. Padahal, kamu tau kalau Davin itumencintaiku.” Ucapannya menohok, benar dan menyakitkan.
Tentu saja aku enggan berpisah dengan Davin, karena akusudah berjanji pada oma kalau aku tidak akan meninggalkan Davin dalam keadaan apapun.
“Gak pa-pa. Aku cukup bahagia mendapatkan raganya,” jawabku pasrah.
“Miris sekali nasibmu. Kalau pasangan kamumencintai orang lain, ya sadar diri, dong," hinanya.
Andai saja bukan di kantor Davin, aku pasti sudah menjawab dengan lantang. Sayangnya, aku menghargai diriku sendiri sebagai istri dari calon pemilik perusahaan ini.
Aku segera membenahi jilbab, kemudian ke luar. Tetapi rupanya Avril belum usai berurusan denganku, sehingga tanganku dicekal olehnya.
“Lepaskan!” pintaku. Sejujurnya, lengan yang dipegang Avril terasa sakit, karena dia mencengkram, bukan lagi memegang.
“Dengarkan baik-baik Zara. Davin itu hanya kasihan padamu.Dia pasti akan meninggalkan kamu setelah omanya meninggal.”
“Lancang sekali ucapanmu. Aku pastikan, kamu akan melihat Davin-Davinkecil lahir dari rahimku. Kamu juga akan menyaksikan Davin akan menjadikan aku satu-satunya ratu di hatinya.”
Emosiku sedang naik satu tingkat. Ucapan itu lolos begitu saja. Namun, seperti biasa Avril malah menertawakan aku.
“Zara, tidurmu terlalu nyenyak sehingga kamu tak menyadari sedang bermimpi.”
“Siapa bilang? Aku akan segera memberinya anak sebagaipertanda kalau Davin menganggapku istrinya, tidak hanya sebatas status tetapi juga menduduki posisi di hatinya.’’
“Silahkan saja! Kamu bebas melakukan apa saja. Tetapi ingat, membalikkan hati itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Davin itu punyasisi yang unik. Kalau dia sudah mencintai sesuatu,dia tidak akan pernah melepaskannya. Begitu juga dengan aku. Tau ‘kan maksudnya?”
Tiba-tiba mataku memanas. Dua butir benda cair terjatuh darisudut mata.
“Jangan khawatir, Zara. Aku akan membuatnya menjadi mudah.”
Terasa menusuk sekali ucapnya. Aku berpaling dan meninggalkan Avril. Tapi, tangannya berhasil membuatku terhenti. Avril bahkan mendorong tubuhku hingga menghimpit dinding.
“Dengar, ya? Davin tidak akan mungkin mencintaimu walaupun kamu memberinya anak,” ketusnya.
“Silahkan kamu beranggapan begitu. Kita lihat saja nanti, apakah ucapanmu benar?”
Aku mendorong tubuh Avril untuk mendapatkan jalan ke luar dari toilet ini. Dia sudah keterlaluan. Aku tau, posisinya di kantorini dan di hati Davin sangat spesial.
Mungkin saja memang benar, bahwa aku tidak seberapa penting untuk Davin saat ini. Ya, untuk saat ini, tetapi tidak untuk besok atau lusa. Setidaknya, aku punya kesempatan yang besar untuk menguatkan posisiku di samping Davin.
Membayangkan pertengkaran itu membuatku sulit memejamkan mata. Hingga setengah dari perjalanan, aku masih saja sibuk menata hati ini dari pikiran buruk tentang pria di sampingku kini.
Wajahnya terlihat sangat polos saat terpejam, tetapi membuat kesal jika sedang berdebat. Mungkinkah aku bisa membuatnya jatuh hati padaku?
Harus. Aku harus bisa. Aku tak mau terus diperolok Avril dan menjadi bahan tawaannya.
Setiap kali bertemu denganku di beberapa kesempatan, pandangannya terhadapku seperti merendahkan. Untuk itu, aku berusaha menghindari bersinggungan langsung dengannya.
Lama kelamaan kepalaku menjadi berat. Aku mengambil posisi nyaman untuk sekadar memejamkan mata. Rasa lelah hati dan pikiran ini, perlahan membawaku terlelap.
*
Guncangan pada bahu membuatku mengerjab. Davin tampak membuka pintu di sebelahku sambil memberitahukan bahwa perjalanan sudah sampai di tujuan.
Aku mendongak melalui pintu yang sudah terbuka. Mobil yang dikemudikanTarjo sudah berhenti di depan halaman rumah bercat coklat.
Aku turun, untuk sesaat terpana dengan pemandangan di sekitar.Sebuah vila yang cukup besar, dikelilingi bermacam-macam bunga. Aku langsung bergerakmendekat. Menelisik bagian vila yang sebagian besar terbuat dari kayu.
Langkah kuarahkan ke bagian samping rumah. Ada sebuah kolampemancingan yang tidak terlalu luas, hanya sekitar empat atau lima meter memanjang yang di sampingnya terdapat gubuk kecil dengan tempat duduk lesehannya. Sekilastampak sempurna.
Aku mengikuti langkah Davin masuk ke dalam. Seseorang wanita setengah baya dan laki-laki seumuran dengan wanita itu terlihat menunjukkan ruanganyang akan aku gunakan untuk beristirahat.
Sebuah kamar yang sangat luas. Davin meletakkan koper di sampinglemari, kemudian dia memeriksa kamar mandi.
“Mau mandi?”
Aku menoleh mendengar pertanyaan yang ditujukan kepadaku.
“Sebaiknya, kamu segera mandi,” sambungnya lagi.
Apa Davin mau buru-buru mengajak begituan? Baru juga sampai.
“Em ... nanti saja,” jawabku.
“Sekarang, Zara.”
Astaga! Apa dia sebegitu kebeletnya sampai-sampai tak memberiku jeda beristirahat?
Next