Sesampainya di tempat tujuan, kami langsung check in di salah satu hotel ternama di kota ini. Aku dan Avril mendapat kamar yang saling berhadapan. Dia memasuki kamarnya tanpa menoleh ke padaku. Sepertinya, dia kecewa oleh keberadaan Zara yang tiba-tiba muncul saat keberangkatan tadi. Aku segera menyusul Zara yang sudah lebih dulu masuk. Dia langsung membersihkan diri. . “Capek? Mau dipijit?” Aku menoleh ke arah suara yang memang benar-benar bertanyapadaku. Zara menawarkan jasa? Tak salahkah? Aku memang sedang memijit-mijit bahuku yang sedikit pegal, karena perjalanan tadi. “Ngg-“ “Aku bawa minyak urut kok. Sebentar.” Zara memotong ucapanku. Dia bergerak membuka koper dan membawa sebuah botol, lalu mendekat padaku. “Buka bajunya.” Dia meminta. Aku yang sedang duduk di balkon belak

