Nina berusaha melepas ciuman Steven, tapi tuan muda ini justru melumatnya. Sang nona menelan saliva betapa ingin dia menghajar pria itu yang kesempatan dalam kesempitan, tapi matanya melihat Eric sudah menerobos masuk ke bilik dan terbelalak kaget melihat mereka bermesraan. Terpaksa dia membalas ciuman si pria, agar tampak alami dipandangan mata calon tunangan tuan putri.
Giliran Steven yang terbelalak memandang Nina, tidak menyangka ciumannya dibalas perempuan tersebut. Diamati lekat-lekat sang nona yang memejamkan kedua mata dengan terpaksa. Dia Senyum gelinya muncul, merasa si nona baru pertama kali berciuman dengan pria.
‘Gadis ini menarik,’ bisik hati dia mulai menilai kepribadian Nina, di hati mengalun lagu cinta, ‘Siapa dia sebenarnya?’ menjadi penasaran siapa si nona.
Eric yang melihat adegan panas tersebut tergesa keluar sambil menutup pintu, lantas meninggalkan toilet. Di depan pintu toilet, dia berkacak pinggang, kesal tidak menemukan Nina, malah melihat pasangan berciuman mesra. Ditinju kepalan tangan ke udara, segera melangkah pergi mencari Nina ke tempat lain.
Nina tersadar Eric sudah pergi, cepat didorong tubuh Steven sekuat tenaga, membuat pria ini terpelanting membentur pintu bilik, hingga mendarat di lantai depan bilik.
“Aduhh!”
Nina tidak memperdulikan pekikan pria itu, satu tangan merapihkan pakaian di badan yang sedikit awut-awutan, lantas mendekati si pria yang mengusap-usap kepala dengan wajah mengernyit kesakitan.
“Ish, gadis ini!” terdengar suara kesal pria ini menatap Nina yang merenggut, “Sudah ditolong bukannya terima kasih, malah mencelakaiku!” dimarahin si nona.
“Rasakan!” sang nona memandang jengkel pria itu, “Dasar buaya darat, main sosor bibir perempuan!” dia membalas, dimarahin sang CEO.
“Aku terpaksa melakukan itu, tauk!” tukas Steven sewot, “Kalau tidak, calon tunanganmu dengan mudah menangkapmu di sini!” dia membela diri terpaksa mencium mesra Nina, agar Eric mengira yang bersamanya bukan Nina. “Dia tahu Kamu sableng, berani bersembunyi di toilet pria!” imbuh dia mengatakan jika Eric mengetahui karakter slengean Nina tersebut.
“Alasanmu saja itu!” Nina tidak kalah sewot, “Sudah, Aku mau ke kamarku!” dia mendengus di depan wajah Steven, “Apes banget aku! Menghindar dari Eric, ketemu buaya darat ini!” dia menggerutui diri sendiri.
“Aku juga apes, tauk!” Steven semakin kesal sama nona ini, “Ketemu perempuan sableng kayak Kamu!” dikatain tuan putri ini sableng, “Kamu tuh mank cocok bertunangan sama Eric, karena sama sablengnya!” sambil mengacungkan jari telunjuk tangan kanan depan wajah sang putri.
Nina tidak terima dikatain, segera menotok beberapa syaraf di d*** Steven, membuat pria ini kaku tidak bisa bergerak sama sekali.
“Hei!” jerit Steven kesal dibikin seperti patung, “Hei!” serunya karena Nina melenggang keluar dari bilik urinoir, “Awas Kamu ya!” dia geram bukan main, “Kubalas baru rasa Kamu!”
Nina sudah berada di luar toilet, tersenyum sinis, “Silahkan coba membalasku.” Dia tidak takut ancaman Steven, melenggang jalan menuju lift agar bisa ke lantai enam tempat kamarnya berada.
***
Steven masuk ke dalam suite kamarnya di hotel dengan wajah geram bukan main. Tidak menyangka bertemu Nina yang dinilai sableng akut. Masuk ke toilet pria, mendorong dia hingga membentur pintu bilik urinoir, lantas menotok syaraf geraknya.
Beruntung Peter tersadar mengapa dia lama sekali di toilet, sehingga menemukan dia kaku seperti patung di bilik urinoir. Sang asisten cepat melepas totokan Nina, bertanya siapa yang melakukan. Tapi malah disemprot kesal tuannya, lantas si bos dengan langkah panjang dan wajah thunder cloud ke lift. Peter terbirit menyusul.
Setelah di dalam kamar, pria ini mengambil bantal dari tempat tidur, lalu digecek-gecek dengan wajah geram bukan main.
“Apes banget! Apes banget!” dia pun menyemburkan kekesalan di bantal itu, “Ketemu perempuan sableng itu! Apes banget!” lantas diremas-remas si bantal, baru menghempaskan b****g di tepi tempat tidur. Tapi karena emosi, b****g dia tidak mendarat di permukaan kasur, malah di kayu tepi tempat tidur, “Aduh!” jeritnya merasa b****gnya sakit. Dia segera berdiri sambil memutar badan, dikeplak kayu itu, “Dasar kayu tidak sekolah! Bilang dong p****tku akan mendarat di permukaanmu!” diomelin pula kayu itu.
Peter yang melihat semua ini tampak kebingungan, mengapa si bos bersikap aneh.
Sang atasan yang sableng, kok kayu tepi tempat tidur dimarahin.
“Peter!” lantas terdengar seruan tuan muda ini.
“Saya, Tuan.” Peter memutuskan mencari tahu sendiri, karena kalau bertanya ke si bos pasti kena semprot. Pelan di dekati tuan muda ini yang menenteng bantal.
“Apa Kamu kenal perempuan sableng itu?” Steven memandang sewot sang asisten.
Tuing, asistennya melongo, “Perempuan sableng, Tuan?”
“Iya,” seru tuan muda lantang, “Perempuan itu main masuk ke toilet pria, saat Saya tengah kencing!”
Peter terkaget mendengar ini, “Lantas, Tuan?” dia malah bertanya kelanjutan setelah perempuan sableng yang dibilang si bos masuk saat tuannya sedang kencing.
“Saya kaget, Peter!” Steven melanjutkan ceritanya, “Dan perempuan itu malah mendekati saya yang sedang menyembunyikan rudal saya.”
“Terus, terus, Tuan?” Peter bertambah penasaran, sebab selama sepuluh tahun bekerja menjadi asisten si bos, baru kali ini dia mendengar ada perempuan tak di kenal masuk ke toilet tempat tuan mudanya kencing.
Steven pun menceritakan, di mana sang asisten menyimak dengan serius banget, dan setelah selesai, si bos kembali mengecek-gecek bantal yang masih ditangan.
“Ish! Ish!” serunya dengan wajah geram, “Awas Kamu, kubalas berasa Kamu!” dia bertekad membalas perbuatan Nina. “Peter!” serunya memanggil Peter yang diam-diam tersenyum geli, “Cepat selidiki siapa Nina, perempuan sableng itu! Harus detail, karena Saya mau membalas perbuatannya!” lantas kembali mengecek-gecek bantal.
“Baik, Tuan.” Sahut Peter tersenyum geli, “Tuan, maaf, seperti apa sosok Nona Nina?”
Steven terkesiap diberi pertanyaan itu, lantas mulai membayangkan sosok Nina. Entah kenapa kegeramannya hilang, lantas duduk perlahan di tepi kasur, bantal di dekap ke d***. Tidak lama wajahnya yang thunder cloud berubah tersenyum geli. Teringat tingkah laku Nina saat mereka terjebak di toilet pria. Lantas dia merasai bibirnya yang mengulum bibir si nona, dan dilumat sang gadis. Senyumnya kembali terlihat.
Peter mengamati ini, pelan mencolek lengan si bos.
“Tuan muda!”
“Iya, Peter?”
“Seperti apa sosok Nona Nina?”
“Sangat cantik dan menarik, Peter.” Sahut Steven terbayang sosok Nina, “Bentuk badannya sintal dengan tinggi sekitar seratus enam puluh lima sentimeter, rambut ikal berwarna dark brown, kedua matanya bulat berwarna coklat muda dihiasi b*** mata yang lentik, di kedua pipinya ada lesung yang indah, bibirnya mungil sensual, dan tubuhnya wangi sangat soft.” Digambarkan seperti apa sang putri dalam ingatannya.
Peter terkesiap, kedua matanya kemudian mengamati lebih teliti sang CEO. Saat memacari Emma, si bos tidak pernah di dengar menggambar detail sosok mendiang. Ketika menikahinya pun tidak mengatakan. Mengapa saat bertemu Nina yang tidak dikenal, tuan muda itu bisa melukiskan seperti apa tuan putri.
Steven menghela napas, “Kenapa ya perempuan secantik dia slengean dan menyebalkan?” dia menggerutui karakter Nina. “Tapi, hais, unik ini.” Lantas merasa sang gadis menarik hatinya. Segera dipandang Peter, “Peter, lekas cari tahu siapa Nina itu.”
Peter tidak menyahut, tampak masih berpikir. Steven menjadi geram, dislepetkan bantal ke lengan asisten ini, sampai pria itu terjingkat lantas cengegesan.
“Heheh.” Kekeh Peter dengan wajah inosen, “Setelah Anda tahu siapa Nona itu, mau anda balas dia dengan apa, Tuan?”
Steven tercenung, kembali teringat wajah Nina yang memaksa memejamkan kedua mata saat membalas ciumannya, lantas menghela napas.
“Kamu cari tahu saja dulu.”
***
Nina sesekali menggaruk kepalanya, karena saat ini Damar menegurnya mengapa tega menjebak Mila dan Eric bermesraan, sedangkan Eric calon tunangan dia. Mereka berkumpul di ruang tengah kamar Nina di hotel.
Di sebelah sang ayah ada Fitri, Karla istri kedua ayahnya, dan Mila yang sesunggukan merapat disisi Karla. Lantas ada pula Eric dan kedua orangtuanya, juga Gandy asisten dia.
Damar tahu si anak terbirit ke Jakarta setelah menerima telpon dari Gandy, segera menyusul dengan membawa Fitri. Begitu sampai di bandara Soetta, Damar menelpon Gandy, dicecer asisten itu, hasilnya dia naik pitam. Lantas juga dia ditelpon calon besan yang langsung memaki-maki dia tidak baik mendidik akhlak Nina.
Namun, meski marah, sang ayah tidak bersuara keras ke Nina, atau Mila.
“Hais, Nina,” desah Damar mengelus d***, “Mengapa Kamu melakukan itu? Tidak baik, anakku.” Dia masih mengira si sulung menjebak sang adik.
Fitri menghela napas, dia merasa semua ini fitnah belaka, sebab mencecer Gandy tanpa suaminya tahu. Dia juga mengetahui bahwa Nina tidak menyukai Eric sedikit pun, terpaksa mau dijodohkan demi bakti ke dia dan Damar.
“Papa sih,” Karla angkat bicara dengan nada kesal, “Membiarkan Nina diasuh kakeknya, jadi tambah liar.” Dia menyalahkan Damar yang membiarkan putri tiri itu diasuh Iqbal, “Masa dia tidak puas dijodohkan sama Eric, sampai menjebak Mila tidur sama Eric.”
Nina mendengarnya mendengus sebal. Dia dan ibu tiri tidak pernah akur, sampai ketika dia dipindah ke Singapura, Iqbal melarang Damar membawa si ibu ke sana saat Damar menengoknya. Bahkan sang kakek meminta Damar merahasiakan di mana tempat tinggal dia di Singapura dari istri kedua itu, Mila, dan dunia. Semua ini agar tidak terjadi lagi penculikan atas dia seperti di masa lalu.
“Huh!” seru Nina cepat memandang si ibu tiri, “Terus aja menghujat Papa ama Kakek, Mama Karla,” disindir sang ibu, “Padahal puluhan tahun dihidupi mewah sama mereka. Dasar tidak tahu diri.” Diberi teguran tajam si ibu.
Karla terkesiap mendengar ini, lantas cepat menggoyangkan lengan Damar.
“Papa liat itu!” direngekin sang suami, “Anak ini kurangajar terus ke Karla. Karla kan juga ibunya.”
“Bukan,” sela Nina santai, “Ibuku hanya Mama.” Ditunjuk Fitri dengan pandangan bangga, “Mama sangat menghormati Papa dan Opa, karena tahu diri sudah diberi kemewahan hidup. Bahkan menyayangi mereka yang sangat baik ke beliau.”
Karla kembali terkesiap, lantas merengekin suaminya, “Papa! Jangan diam saja dong! Nina sangat kurangajar depan calon besan kita.”
“Sudah, sudah,” sela Martin cepat, tidak ingin mendengar masalah keluarga Damar, “Sekarang kita harus memutuskan apakah tetap menunangkan Nina dengan Eric, setelah terjadi affair Eric dengan Mila!” dipandang semua orang yang ada di sini.
“Baiknya,” Nina yang menyahut, “Para orangtua lekas nikahkan Mila sama Eric, karena mereka saling suka.”
Mila terhenyak mendengar ini, “Kamu ngomong apa sih? Mana Aku menyukai calon Kamu itu! Jangan mengarang yang bukan-bukan!”
Nina tersenyum manis, dikeluarkan ponsel dari saku samping overall yang dikenakan dia, lantas diacungkan menghadap Mila dan Eric.
“Apa perlu Aku siarkan percakapan mesra kalian, selain video panas kalian?”
“Percakapan apa maksudmu?” tanya Eric tidak paham.
“Sebenarnya, Aku sudah tahu Mila menggoda Kamu dipertemuan awal kita sekeluarga, lantas dia diam-diam mencaritahu nomor Kamu. Lalu sebelum kalian make love, Mila menghubungimu, kalian bicara sangat mesra, diakhiri berjanji nganu di kamar itu.”
Eric dan Mila tercekat mendengar ini, saling memandang, lantas Eric mengacungkan jari telunjuk tangan kanan ke arah Nina.
“Kamu bohong, Nina!” dia gemetaran, “Aku tidak serendah itu, melakukan percakapan c***l sama perempuan yang bukan calon istriku.”
“Begitu kah?” Nina memandang pria itu dengan tenang, “Oke, Aku stel rekaman percakapan itu, agar para orangtua bisa mendengarnya.” Dia mengacungkan jari telunjuknya hendak mengakses menu gallery.
“Cukup Nina!” sergah Eric cepat di mana wajahnya pucat ketakutan, “Cukup! Jangan bersandiwara terus!” diminta Nina tidak berlakon, “Pokoknya Kita tetap mengadakan pertunangan itu!”