bc

Kecupan Cinta Mas Duda

book_age18+
228
IKUTI
3.9K
BACA
HE
boss
stepfather
blue collar
bxg
brilliant
love at the first sight
like
intro-logo
Uraian

Berawal dari Nina Ramlan menangkap basah kemesraan Mila adik satu ayah dengan Eric Hardadi calon tunangan dia, malah bertemu Steven Duarte pria tampan di toilet pria. Nina tidak sengaja masuk ke sana agar tidak tertangkap Eric yang mengejarnya demi pria itu mendapatkan rekaman ranjang panas yang dia bikin dengan ponsel.

Setelah pertemuan unik tersebut, mereka hanya kenal nama, membuat Steven penasaran siapa Nina yang dirasa memiliki kepribadian menyenangkan dibalik sikap slengean dan galak. Dia terus mengutit si nona dan selalu menjadi dewa penolong disaat sang gadis dalam kesulitan. Sikap tuan muda tersebut membuat Nina kesal, tapi sang tuan tidak perduli terus mengikuti dia.

Sampai satu hari Sabina nenek angkat Steven dan owner Duarte Company membesuk Iqbal Ramlan kakek Nina di rumah sakit, karena mereka partner kerja di bisnis perminyakan dunia. Sabina mengetahui Nina batal bertunangan, menawarkan Steven untuk dijodohkan sama gadis itu. Iqbal tidak berkeberatan, meminta agar Nina dan Steven menjalin pertemanan dulu untuk menyesuaikan diri.

Selepas membesuk, mobil Sabina dihadang Mike cucu kedua Sabina dan anak buah pria itu. Tapi sang nenek beruntung karena Nina menolongnya, dan membawa dia ke rumah sakit. Dalam perjalanan, tanpa sengaja Sabina melihat liontin di kalung yang dipakai Nina. Liontin tersebut lambang keluarga Duarte milik Ivander Duarte putra sulung perempuan itu. Siapa Nina sebenarnya, mengapa memiliki kalung tersebut?

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1 Menangkap Basah
Perempuan berparas cantik bernama Nina mendekati kamar suite room dengan memegang ponsel yang aktif video rekaman. Saat di dalam kamar, dilihat Mila adik satu ayahnya bergumul panas di ranjang dengan Eric calon tunangan dia. “Akh! Eric–akh, Sayang … jangan berhenti!” Nina mengernyit mendengar lenguhan itu dari tempat dia berdiri, menyaksikan adiknya berhubungan dengan pria yang dijodohkan ke Nina oleh sang ayah. Ia sudah menduga sejak awal, Eric, pria playboy itu tergoda adiknya, akan melakukan hal ini cepat atau lambat. Mila sang adik yang sering melakukan ranjang panas, tentu senang. Namun, dua keluarga tetap memaksakan perjodohan ini, membuat Nina mau tidak mau harus memutar otak untuk membuktikan bahwa Eric tidak layak untuknya. Karena itulah ia sekarang ada di sini, merekam pergulatan panas tersebut. Meskipun, sebenarnya Nina merasa jijik, sekalipun ia tidak punya perasaan apa pun pada pria itu. “Lebih cepat lagi–akh-!” Akan tetapi, pada akhirnya Nina tidak tahan juga, hingga ia akhirnya berseru dengan nada lantang, “Wah, panas juga!” Sontak, dua orang yang tengah berhubungan badan tersebut terkesiap dan menoleh ke arah Nina yang masih mengacungkan ponselnya dengan tersenyum lebar. “Kok berhenti? Nanggung lho, sudah mau klimaks.” Nina memasang wajah seolah tengah kecewa. Namun jika diamati, wajahnya tampak lega dengan senyum lebar yang menggambarkan berhasil menangkap basah pasangan tersebut. Dia menoleh ke arah Mila, adiknya. “Kasihan, tidak dapat pelepasan.” “Kamu–!” Mila terdengar geram. Namun, sebelum ia sempat melanjutkan ucapannya, Eric mendorong dia menjauh dan langsung pria itu memunguti pakaian yang bergeletakan di sekitar ranjang. Nina terkekeh geli melihat calon tunangannya tergesa berpakaian. “Santai aja pakai bajunya,” ledek wanita itu dengan nada ringan. Ia menghentikan video yang ia rekam. Dipandangi pasangan tersebut dengan sinis. “Kamu!” ucap Mila kemudian. Matanya mendelik menatap sang kakak yang tampak tenang. “Kenapa bisa ada di sini!?” segera memunguti bajunya dari lantai, tergesa dipakai. Nina kembali terkekeh. Yah, memang rencananya ia baru akan tiba di kota ini besok pagi, bersama ayah dan ibunya, dari luar negeri. Namun, berdasarkan informasi yang ia dapatkan, hari ini adiknya tersebut sengaja membawa Eric untuk macam-macam di hotel ini. Padahal di hotel ini pulalah pertunangan Nina dan Eric akan dilaksanakan. Memang adik dari istri kedua sang ayah itu tidak tahu diri. “Kenapa diam saja!?” Mila makin panas karena tidak kunjung mendapatkan jawaban kakaknya. “Jawab, sialan!” “Bicara yang sopan pada kakakmu, adikku sayang,” ucap Nina dengan tenang. Ia tampak terhibur dengan emosi Mila. “Nanti kuadukan ke Papa, lho.” Mila terkesiap dan menatap tajam pada sang kakak yang masih tampak tidak terusik, padahal Nina baru saja menyaksikan calon tunangannya selingkuh dengan dirinya. Tapi kenapa kakaknya itu santai-santai saja? Minimal sakit hati, lah! Kalau begini, apa gunanya Mila menggoda pria itu? “Nina.” Tiba-tiba Eric, calon tunangan Nina, memanggil. “Nina, ini tidak–” mendekati si nona untuk menjelaskan. “Tenang-tenang,” potong Nina, masih dengan senyum tanpa dosa. “Tidak apa-apa kok, Ric.” Ia mengangkat ponselnya. “Aku sudah dapat buktinya. Pertunangan kita akan batal.” Mata Eric terbelalak. “Maksudmu?” “Ini kunci untuk membatalkan perjodohan kita,” ucap Nina. Bibirnya tersenyum miring, sambil menggoyang-goyangkan ponsel ke udara. Mendengar hal itu, Eric buru-buru berusaha merebut ponsel Nina. Tapi gadis itu lebih cepat. “Eits!” Nina menjauhkan ponselnya dari jangkauan Eric dan bahkan mendorong tubuh pria itu dengan tangan lainnya. “Jangan buru-buru. Aku ambil bukti ini penuh perjuangan, tahu.” Iya, perjuangan menahan rasa jijik dan mual. Namun, saat Nina mengatakan itu, Eric justru membalas, “Oh, kamu merasa sakit hati karena melihat aku memilih bermesraan dengan adikmu?” Wajah pria itu tampak sedang mengejeknya dengan penuh percaya diri. “Makanya jangan jual mahal. Kalau suka sama aku, bilang.” Nina tersenyum sinis, ditoyornya kening pria itu dengan tangan kiri. “Heh, ge-er kamu!” ujar wanita itu. “Kamu pikir dirimu pantas untuk kusukai?” Eric tampak geram melihat sikap Nina, apalagi saat wanita itu melanjutkan, “Sudahlah. Aku mau lapor soal perselingkuhanmu dulu.” “Hei!” Gegas, Eric mencengkeram tangan Nina. “Aku bisa dengan mudah membantahnya. Lagi pula, ini hanya kesalahan satu kali. Desas-desus pertunangan kita sudah tersebar di media. Tidak mungkin keluarga kita mau membatalkannya cuma karena kamu bertingkah.” “Wah, tidak tahu malu sekali ya.” Nina menghentak tangan pria itu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Baiklah, aku sebar saja video rekaman ini ke media. Batalnya hubungan dua keluarga ini karena ulahmu ya, bukan aku.” Seketika Eric dan Mila tercekat. Video rekaman? Jadi … tadi wanita itu merekam mereka? Sejak kapan!? Mengapa baru menyadarinya? Padahal sedari tadi Nina memegang ponsel. Jika benar Nina menyebar video itu, maka tidak hanya keluarga mereka akan marah pada mereka, tapi semua orang juga akan tahu kalau mereka adalah dua orang yang tidak bermoral. Eric akan dicap sebagai peselingkuh. Sementara Mila akan menjadi pelakor. Akhirnya, secara bersamaan, Eric dan Mila berusaha merebut ponsel dari tangan Nina. Tapi Nina jago kungfu, dengan gesit mengelak, bahkan melempar dua jarum akupuntur ke badan Eric dan Mila. Ini jurus kungfu andalan dia melawan musuh di ruangan sempit. “Akh!” pekik pasangan ini lantas berbarengan jatuh ke lantai. Nina terkekeh. “Pergi dulu ya. Setelah ini, akan ada skandal panas antara Eric Hardadi dan Mila Ramlan!” Usai mengatakan itu, Nina segera pergi dari sana, meninggalkan Eric yang kesulitan untuk mengejarnya karena terkena jarum akupuntur itu. Meski begitu, rupanya si playboy tersebut tidak menyerah. “Nina! Awas kamu!” Eric segera mengejar Nina. Nina melihat wajah Eric tampak geram dan menyeramkan saat mengejarnya. Hingga tanpa sadar, ia masuk ke dalam toilet yang tidak jauh dari sana untuk bersembunyi. “Hei! Kenapa kamu masuk ke sini?” Nina terkejut saat mendengar suara pria setelah ia masuk ke dalam toilet. Sepasang matanya membesar ketika ia melihat sesosok pria berbadan tegap tengah menaikkan celananya dengan tergesa, agar Nina tidak sempat melihat bagian tubuhnya yang paling intim. “Eh.” Nina tampak bingung sesaat hingga ia menyadari bahwa ia salah masuk toilet. “Maaf, Mas. Saya–” “Nina! Di mana kamu, sialan!” Nina yang berniat berbalik keluar, langsung mengurungkan niatnya saat mendengar suara Eric. Gegas, Nina melangkah masuk lebih dalam, tapi segera dihentikan oleh si pria asing barusan. “Stop!” Pria itu bernama Steven, “Kalau sudah sadar salah masuk ruangan, seharusnya–” Nina segera menarik pria itu agar ikut dengannya ke salah satu bilik. “Hei, Nona–” Steven terheran-heran dengan tingkah Nina ini. Nina membekap bibir Steven, tubuhnya menempel pada sosok pria itu, berimpitan dalam satu ruangan kecil, membuat pria tersebut membelalakkan matanya akibat tingkah sembrono wanita tersebut. “Sstt, diam dulu,” bisik Nina, tidak menyadari reaksi yang ia timbulkan dari perbuatannya. “Kamu bantuin aku ya.” Ditatap pria tersebut dengan wajah memelas. Steven melongo sambil melepas bekapan tersebut, “Bantuin apa?” tanyanya sewot. Mimpi apa dia semalam, mengapa bertemu perempuan slengean bin sembrono. Nina hendak memberi jawaban tapi pintu utama toilet dibuka kasar dari luar, lantas terdengar suara Eric. “Nina! Nina! Apa kamu ada di sini?” Nina terhenyak segera saja memeluk Steven, bahkan memandang pria itu yang terkaget-kaget lagi. “Please!” direngekin pula si pria, “Dia ingin mengambil ponselku ini.” Dia mengacungkan ponsel ditangan kiri ke depan wajah pria tersebut, sambil mengakses menu gallery video, lantas diperlihatkan rekaman adegan ranjang Eric dan Mila. Steven terbelalak melihat video itu, lantas dengan suara pelan bicara sama Nina. “Mereka itu siapa?” “Yang cowok, calon tunanganku, lantas pasangannya adikku.” Tuing, Steven melongo, lalu, “Mereka selingkuh?” tanyanya penasaran. “Iya.” Nina menganggukan kepala, “No problem, Aku tidak menyukai Eric. Orangtua kami berencana menjodohkan kami.” Sedangkan di luar, Eric mulai membuka satu persatu pintu bilik urinoir demi menemukan Nina. Dia sudah tahu Nina slengean, feeling putri Damar tersebut tidak segan bersembunyi di toilet pria agar tidak ditangkap dia. Nina kian merapat ke badan Steven. Tuan Muda menghela napas mengira Nina perempuan yang sering ditindas, menjadi tidak tega. Dia segera merangkul pinggang si nona, lantas dibikin punggung nona ini menyender ke dinding, sedangkan dia membelakangi pintu, segera mencium bibir putri Damar tersebut saat Eric membuka pintu. Nina terkesiap, kedua mata dia membesar menatap Steven yang mencium bibir dia di saat genting.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.3K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.9K
bc

TERNODA

read
199.1K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.1K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.0K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
67.2K
bc

My Secret Little Wife

read
132.3K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook