Steven berhasil membawa Nina hingga ke ground, sampai di sana dia melihat si gadis tertidur. Dia tersenyum haru, putri Damar tersebut nyaman digendongnya, sehingga terlelap pulas.
“Tuan,” Peter menegur Steven, “Nona tidur ini.” Dia pun melihat si nona tidur, di mana kedua kaki sudah melingkar di pinggang tuannya, kepala menyandar ke punggung, kedua tangan memeluk di antara kedua ketiak.
“Tidak mengapa, Pete,” Steven tidak masalah Nina tertidur, “Dia pasti kelelahan sedari kemarin menghadapi Eric dan lainnya.” Dia paham mengapa nona ini tidur. “Kamu lekas buka kamar baru untuk Nina, biar saya bawa dia ke sana. Kamar lamanya sudah tidak aman untuk dia tempatin.”
“Baik, Tuan.” Peter paham, “Anda baiknya menunggu di sofa itu, biar tidak lelah terus menggendong Nona.” ditunjuk sofa yang ada di sebelah kanan seberang meja pemesanan kamar hotel.
Steven menganggukan kepala, dengan diantar Peter, menuju sofa tersebut. Kemudian dengan hati-hati dibaringkan si nona di sofa panjang, lalu duduk di tepi, menghadap putri Damar tersebut.
“Lekas Pete, buka kamar itu untuk Nina.” Dia segera menyuruh asistennya membuka kamar baru, “Setelah itu Kamu hubungi asisten dia, minta memindahkan barang-barang dia ke kamar baru tanpa diketahui siapa pun.”
“Siap, Tuan.” Peter paham, terharu melihat si bos perduli nasib Nina karena berhati Hello Kitty.
Sementara Damar, Fitri, Adam, dan Gandy yang mengikuti ketiga orang tersebut, tersenyum melihat Steven membiarkan Nina tidur. Bahkan cucu Sabina itu menjaga tidur tuan putri.
Nina yang tidur pulas, memiringkan badan kehadapan Steven, lantas satu kakinya naik ke atas p*** tuan muda, seolah p*** itu guling. Si tuan terkesiap, lalu tersenyum geli dengan kepolosan gadis tersebut. Senyum gelinya kembali terlihat karena tangan Nina tanpa sadar menarik tangannya, kemudian dijadikan sandaran sisi kepala.
Damar, Fitri, Adam, dan Gandy melongo melihat kelakuan Nina yang mengira tidur di tempat tidur, lantas tangan dan p*** Steven adalah bantal dan guling.
“Hais, anakku,” desah sang ayah mengelus d***, hendak mendekati, tapi Fitri mencegah, “Mama, anakku perlu kasur yang nyaman.” dia sebal dihalangin lagi.
“Biar saja dulu Nina begitu.” si istri tersenyum, “Kalau Papa ke sana, nanti dia terbangun, lantas menemukan Tuan Steven, kemudian kaget, lalu jadi berantem sama Tuan Steven, gimana?” sang istri mengemukan pendapat panjang banget sambil memandang suaminya dengan serius.
“Tuan,” sela Adam sebelum Damar menyahutin, “Kita tadi dengar, Tuan Steven menyuruh asistennya membuka kamar baru untuk Nona. Nah biar saja beliau bawa Nona ke kamar itu, baru kita temani di sana.”
“Betul itu!” seru Fitri setuju. “Mumpung Eric dan rombongannya sedang sibuk nyari Nina di luar hotel ini.” Imbuh dia feeling saat ini Eric dan tim pengejar sudah di luar hotel, karena akhir dari jalur evakuasi ya di sana.
Damar menghela napas, “Iyalah.” Dia mengalah lagi, “Adam!” serunya pelan, “Lekas cari tahu ke manager on duty, di mana kamar baru Nina.” Diminta asisten mencari tahu di mana letak kamar baru yang dipesan Peter.
Adam menganggukan kepala, lantas perlahan ke meja pemesanan kamar. Dia pura-pura hendak memesan kamar, tapi telinga dan mata mengawasi Peter dan manager on duty berkomunikasi.
Tidak lama Peter kembali ke dekat Steven yang pelan mengusap-usap rambut di kepala Nina, seolah membuat tidur si nona lebih enak. Apalagi dia pun melihat si tuan dijadikan guling dan bantal sama nona cantik itu. Bahkan telinga dia mendengar tuan muda pelan melantunkan lagu Twinkle Little Star pengantar tidur para bocah.
“Tuan.” pelan disentuh lengan si tuan.
“Stss!” desis Steven pelan, “Suaranya pelan kan, biar Nina tidak terbangun.” Diminta suara asisten dipelan, “Kamu sudah buka kamar baru itu?” dialihkan pandangan ke sang asisten.
Peter menganggukan kepala, lantas memperlihatkan kartu kunci kamar baru ke tuannya.
“Good,” Steven lega, “Kamu temani Saya antar Nina ke sana, lantas cepat hubungi asisten Nina.” lantas pelan memindahkan kaki Nina dari atas p***, lantas mengangkat hati-hati kepala Nina, ditarik tangannya, baru kemudian perlahan menggendong si nona. Dari bibirnya kembali melantun lagu Twinkle Little Star, biar putri Damar ini tetap lelap bubu.
Hais, sweet banget kan sikap Steven ini. Pantas saja Fitri melarang Damar mengakhiri adegan yang ada, karena sudah feeling pria itu berakhlak baik, tulus menolong putri mereka.
Steven dan Peter segera membawa Nina ke lantai lima, tempat kamar baru si nona berada. Damar dan rombongan segera mengikuti berdasarkan informasi dari Adam.
Tidak lama Steven dan Peter berada di dalam kamar baru, langsung si tuan membaringkan Nina di tempat tidur, kemudian melepas sandal dari kedua kaki nona cantik itu, baru memasang selimut di tubuh putri Damar. Dia pun kembali duduk di tepi bed, menghadap Nina, dan kembali menyamankan tidur sang putri dengan membelai rambut di kepala perempuan itu sambil menyanyikan lagu pengantar tidur. Tapi kali ini bukan Twinkle Little Star.
Peter menajamkan pendengaran untuk mengetahui lagu apa yang dinyanyikan si bos. Dia tersenyum sebab tuan muda melantunkan lagu First Love yang dipopulerkan Nicca Costa.
‘Hehehe,’ kekeh batin dia, ‘Tuanku beneran jatuh cinta pandangan pertama ke nona ini,’ dia merasa senang, ‘Hehehe, bentar lagi Nyonya Sabina punya cucu menantu lagi, dan Tuan Cilik ada ibu baru.’ Dia feeling tidak lama lagi Steven menjadikan Nina sebagai istri.
Dari sisi dinding kamar, tampak Damar dan rombongan masih mengawasi. Sang ayah merasa lega sebab Steven tidak berbuat nista ke Nina, malah menyamankan sang anak untuk tetap tidur.
***
Sabina melangkah tenang ditemani Darian menuju kamar tempat Iqbal dirawat. Dia tahu rekan bisnisnya dipindah ke rumah sakit milik dia ini, maka disempatkan membesuk. Selain itu dia pun ada misi mengunjungi sang rekan.
Nyonya tua Duarte itu mendapat laporan dari Darian, Nina cucu Iqbal batal bertunangan. Lantas Steven sudah bertemu dan mengenal putri sulung tersebut. Dia merasa putri sulung Damar calon istri yang tepat bagi Steven, meski hanya melihat sosok si nona dari foto milik Iqbal. Maka dia segera ingin meminang gadis itu untuk Steven.
Mereka tiba di depan kamar tempat Iqbal berada, lantas sang asisten mempersilahkan nyonya besar masuk ke dalam, sebab pintu terbuka lebar saat ini. Setelah nyonya berada di dalam kamar, baru dia menyusul.
“Nyonya Sabina?” Julian yang lebih dulu melihat kedatangan Sabina, “Tuan besar.” Segera menegur Iqbal yang tersenyum menonton video live kiriman dari Gandy. Video itu memperlihatkan Steven menjaga tidur Nina cucunya. “Ada Nyonya Sabina Duarte rekan kerja Anda di Ramlan Company.” Diberitahu kedatangan sang nyonya.
Iqbal mengalihkan pandangan, lantas tersenyum melihat Sabina perlahan mendekati dia. Julian segera mematikan video di ponsel, kemudian segera mengambil single sofa, diletakan menghadap tuan besar, baru menegur Sabina.
“Nyonya, silahkan Anda duduk, agar lebih nyaman mengobrol sama Tuan besar.” Dipersilahkan sang nyonya untuk duduk.
“Terima kasih, Julian.” Sabina mengucapkan terima kasih, lantas duduk di sofa tersebut, sedangkan Darian berdiri di sisi lain dia.
Julian menganggukan kepala, segera ke pantry mini menyediakan minuman hangat untuk nyonya tersebut.
“Apa kabarmu, Iqbal?” Sabina menyalami rekannya sejenak dengan ramah, “Maaf, Saya baru membesukmu, karena ada pekerjaan tambahan di Duarte Company.”
“Tidak mengapa, Sabina.” Iqbal tidak mempermasalahkan mengapa si nyonya baru sekarang membesuk dia, “Saya tahu Pabrik Duarte Company ada unjuk rasa.” Dia memberitahu apa pekerjaan tambahan sang nyonya, karena berita mengenai itu sudah didengar melalui laporan Julian.
“Iya, Iqbal,” Sabina tersenyum, “Untung Steven cepat tahu, sehingga dia yang mengatasi. Tapi selebihnya Saya yang melanjutkan karena anak itu kembali ke Zahara Hotel menjadi wakil saya untuk menghadiri pesta pertunangan Nina cucumu dengan Eric.”
“Syukurlah jika sudah ditangani.” Iqbal menjadi lega, “Sabina,” dia mengalihkan pembicaraan, “Mohon maaf kalau acara pertunangan itu tidak jadi.”
“Maaf, mengapa?”
“Nina membatalkan karena Eric main gila sama Mila adik Nina.”
Sabina menyimak, meski sudah tahu mengapa acara itu batal dari Darian.
Julian datang mendorong kereta berisi dua cangkir teh hangat, dan sepiring kue enak seperti Risoles Mayonaise, schottel goring, dan pisang molen coklat keju. Diletakan di sisi Darian.
“Nyonya,” pelan ditegur si nyonya, “Silahkan Anda dan Pak Darian melepas lelah dulu.” Dia menawarkan hidangan tersebut dengan sopan ke nenek Steven tersebut.
“Terima kasih, Julian,” Sabina tersenyum, “Tolong bawa kemari cangkir teh untuk Saya. Saya lupa minum sedari meninggalkan kantor.”
Julian menganggukan kepala, lantas membawakan cangkir teh berikut tatakan ke Sabina.
“Silahkan, Nyonya.”
“Terima kasih.” Sabina mengambil cangkir dan tatakannya, lantas perlahan dihirup sejenak air teh.
Sabina dan Iqbal sudah tiga tahun menjalin kerjasama bisnis kilang minyak di Quwait, silaturahmi mereka di luar bisnis pun baik, meski mereka belum berkesempatan mengadakan pertemuan antar keluarga.
Si nyonya selesai minum, diberikan cangkir ke Darian, baru melanjutkan percakapan dengan Iqbal.
“Iqbal, maaf, gimana kabar Nina setelah batal tunangan?”
“Dia biasa saja, karena ternyata anak itu sudah mencaritahu siapa Eric sebenarnya.”
“I see. Iqbal, Kamu sudah sering saya ceritakan mengenai Steven cucu tertua saya.” Dia mulai mengobrolkan misi untuk menjodohkan Steven dengan Nina.
Iqbal menyimak, feeling nyonya ini hendak meminang Nina untuk Steven.
“Kamu pun sering cerita mengenai Nina,” Sabina masih bicara, “Maaf, apa menurutmu jika kita jodohkan mereka, gimana?” dia memberi pertanyaan dengan hati-hati, “Meski Steven duda satu anak, tapi Saya jamin cucu Saya mampu menjadi suami yang membahagiakan Nina. Lantas Keith anak Steven bisa cocok sama Nina.”
Iqbal tersenyum mendengar ini, “Sabina, Saya setuju saja menjodohkan mereka, tapi apa mau anak-anak itu dijodohkan? Sepengetahuan Saya, selepas mendiang istri Steven meninggal, cucumu dingin ke cinta. Lantas Keith cicitmu tidak pernah menyukai perempuan yang menjadi teman Steven.”
Sabina menghela napas, “Saya tahu Kamu akan mengatakan ini, tapi sepertinya anak itu sudah berubah.”
“Berubah maksudmu?”
“Darian mengatakan Steven kepicut cucumu itu.”
“Steven kepicut sama Nina?”