Sabina merasa pilu melihat Nina terbaring di bed ICU, sebab masih diberi obat tidur oleh dokter Keshan, agar bisa istirahat lebih nyaman. Si cucu pun tidak memakai masker oksigen, hanya selang nasal saja, karena sesak di pernapasan sudah teratasi. Dia ditemani Steven dan Damar. Dipelupuk matanya terbayang sewaktu Bella berusia empat tahun, pernah dilarikan Ivander ke rumah sakit sebab mendadak sesak napas saat jam pelajaran olahraga di playgroup. Perlahan bilur air mata meluncur dari kedua maniknya. Bibir dia bergerak-gerak menyebut nama Bella dengan pelan. Satu tangan dia mengusap lembut kepala Nina. “Bella! Bella!” Damar terkesiap mendengar suara si nyonya, lantas menghela napas. Dia mulai menaruh curiga, sebab Sabina terlihat sangat pilu, terlepas sang nyonya menyukai Nina. Apalagi

